Setiap orang pasti memiliki pengalaman dalam hal memilih. Baik dalam keadaan sadar atau pun tidak, dalam setiap tarikan nafas, kita selalu diperhadapkan dengan pilihan. Apakah pilihan itu sesuai dengan harapan kita atau jauh dari harapan, kita tetap harus memilih. Dalam keadaan tertentu, ketika kita memutuskan untuk tidak memilih pun, sesungguhnya kita sudah memilih, yaitu memilih untuk tidak memilih.
Memang ada beberapa hal yang sedari awal kehidupan, kita tidak diberi kebebasan untuk memilih. Yaitu, ketika Sang Pencipta menentukan kita lahir sebagai etnis tertentu. Kita juga tidak dapat memilih siapa orangtua kandung kita. Kita tidak dapat memilih waktu kapan dan dimana kita akan kembali ke dunia kematian. Maka sesungguhnya kehidupan awal dan akhir, Sang Pencipta sudah menentukan takdir kita, namun di dalam proses kehidupan, kita diberi kebebasan untuk memilih, akan menjadi seperti apa kita dalam titik tertentu dari kehidupan. Kita bebas memilih siapa kelak yang menjadi teman hidup kita untuk mengarungi samudera luas kehidupan rumah tangga. Kita memiliki hak untuk memilih profesi apa yang akan kita jalani untuk menghidupi keluarga kita. Kita juga bebas memilih dengan siapa kita berteman, apakah dengan orang berpendidikan atau dengan orang-orang yang meng-hamba-kan dirinya di “kehidupan malam”.
Satu hal yang paling membedakan kita dibandingkan makhluk ciptaan Tuhan yang lain, adalah hak untuk memilih itu. Setiap orang memiliki pemahaman tertentu ketika dihadapkan dengan suatu pilihan, maka mau tidak mau manusia harus memilih. Setelah itu Sang Pencipta akan melimpahkan berkat dan rahmat-Nya terhadap pilihan manusia tersebut.
Persoalannya adalah, banyak manusia yang meratap setelah dia menentukan pilihan. Dia merasa bahwa pilihannya salah, dan menganggap pilihannya tersebut tidak mendapat berkat atau ridho dari sang Pemilik. Akibatnya dia menyesali semua yang sudah dia pilih dan yang telah dia jalani. Pada akhirnya dia menjadi apatis, dan mengambil kesimpulan sendiri yang sempit, bahwa itu adalah nasib atau takdir.
Dalam benak saya, bahwa hidup kita ini, dari awal hingga akhir adalah kumpulan puzzle-puzzle yang saling berhubungan dan saling melengkapi. Atau boleh juga dikatakan sebagai hubungan satu titik ke titik yang lain yang akan terangkai menjadi suatu garis kehidupan. Yang pada akhirnya, dari setiap pilihan itu, akan terbentuk hubungan maya (virtual link – kata orang teknologi komunikasi) dan menempatkan kita di suatu tempat tertentu.
Sebagai contoh, ketika saya usia dini, untuk masuk ke sekolah dasar (dimasa saya tidak wajib TK – dan memang belum ada sekolah TK J), saya dihadapkan dengan pilihan (dibantu orangtua tentunya) mau sekolah dimana? SD Negeri atau SD Inpres? Di desa atau di kota? Dekat rumah atau jauh dari rumah?. Dengan segala keterbatasan saya harus menentukan pilihan. Begitu pilihan saya tentukan, maka saya sudah pasti tidak memilih yang lain. Dengan demikian dalam prosesnya, saya tidak boleh menyesali dan berkata “Kenapa saya pilih yang ini ya? Kalau saya pilih yang lain, pasti tidak begini, mungkin bisa seperti itu.”
Inilah selalu yang menyebabkan banyak orang merasa telah salah pilih, akibatnya dia menjadi ragu harapan, bekerja dan berkarya tidak optimal. Padahal begitu dia memilih, malaikat Tuhan akan datang keatasnya untuk memberkati pilihannya tersebut.
Apakah ada perbedaan berkat Sang Khalik kepada orang yang memilih mau kuliah dimana, dengan seseorang yang memilih mau menikah dengan siapa? Sesungguhnya tidak, berkat akan diberikan sesuai dengan porsinya. Orang yang memilih sekolah X, tentu Tuhan akan memberkati proses belajarnya untuk mendapatkan hasil yang sesuai dengan kerja kerasnya. Bila seorang memilih menikah dengan seorang yang dicintainya, Tuhan pun akan memberkati keluarga yang dibinanya. Tentunya bila dia percaya keluarganya itu milik Tuhan, dan dia bertanggung jawab penuh terhadap pilihannya. Demikian seterusnya dalam setiap pilihan kita akan kehidupan, kita selalu diiringi oleh berkat yang seturut dengan usaha kita. Tuhan maha adil, Ia tidak akan menambahkan berkat bagi yang malas, dan juga tidak mengurangkan bagi yang rajin dan tekun.
Demikian juga, begitu kita menyelesaikan satu tingkat pendidikan tertentu, ketika kita dihadapkan dengan pilihan akan bekerja dimana atau tidak mau bekerja? Mau bekerja dengan orang lain atau membangun usaha sendiri? Mau bekerja dengan orang lain selama 10 tahun atau kurang, setelah itu memulai usaha sendiri atau tetap menjadi pegawai sampai pensiun? Mau mendapatkan penghasilan tetap atau mau tetap berpenghasilan? Mau menjadi kepala kucing atau ekor harimau? Mau mendapatkan kebebasan atau keterikatan?
All of the above are choices. Silakan memilih. Semua pasti memiliki sebab dan akibatnya. Bila saya memilih menjadi seorang pegawai 9 (nine) to 5 (five), maka saya hanya punya waktu Sabtu – Minggu bersama keluarga. Namun saya hanya perlu memikirkan gaji saya diakhir bulan. Bila saya mau memilih membuka usaha sendiri, maka saya tidak diikat oleh jam kerja, namun saya harus memikirkan orang lain, klien saya dan gaji karyawan saya.
Bila saya memilih menjadi pegawai, saya cukup bertanggungjawab terhadap tugas pokok saya. Tetapi bila saya memilih memiliki usaha sendiri, saya harus bertanggung jawab terhadap ‘semuanya’.
Beberapa orang berpikir, bahwa menjadi pegawai/karyawan itu lebih sedikit resiko daripada menjadi pengusaha. Siapa bilang? Dari pengamatan saya, justru lebih berisiko menjadi pegawai daripada menjadi pengusaha. Mengapa? Karena bila perusahaan – dimana seorang pegawai bekerja - mengalami masalah, maka orang tersebut akan memiliki resiko lebih besar dibandingkan pemilik usaha tersebut. Sang pemilik mungkin memiliki usaha lain yang dapat menyelamatkannya. Bagaimana dengan sang pegawai? Apakah dia memiliki pilihan lain saat itu untuk mendapatkan penghasilan? Bila ya, that’s great, bila tidak how poor themselves.
Bila kita amati lebih jeli, maka peluang menjadi pengusaha jauh lebih terbuka daripada peluang menjadi pegawai. Lihatlah berapa puluh ribu pengangguran intelektual bersaing memburu peluang kerja di Career Expo di Jakarta beberapa tahun terakhir. Karena masih mengandalkan ijasah dari univesitas ternama dengan IPK terbaik, mereka bermimpi untuk menjadi seseorang yang lebih berguna. Padahal lebih banyak peluang usaha mandiri dibandingkan kesempatan kerja yang diberikan pemerintah maupun swasta.
Memang ada mindset yang perlu dibenahi dari para orangtua di kampung (bagi orang yang berasal dari desa J). Bila seseorang sudah berpendidikan sarjana, mestinya jadi pegawai Negara. Karena kalau dia menjadi pegawai swasta, tidak ada jaminan pensiun. Apa lagi bila setelah wisuda sarjana mengambil keputusan memulai usaha, maka orangtua akan katakan, “kalau mau ‘berdagang’ juga, ngapain sekolah tinggi-tinggi?”
Itulah yang menyebabkan masih banyak orang yang ber-mindset pegawai dibandingkan bermental entrepreneur.
Sistem pendidikan negeri kita tercinta ini juga memberi kontribusi terhadap hal tersebut. Saya masih ingat, ketika di sekolah, guruku menganjurkan, “anak-anak … belajar giat, dapatkan nilai terbaik, agar dapat kuliah di universitas favorit.” Saat kuliah, dosenku berkata, ”Capai IPK terbaik, kalau boleh predikat Cum Laude, agar banyak perusahaan mencari Anda. Kalau pun tidak, setidaknya lebih berpeluang untuk panggilan wawancara.”
Inilah yang menyebabkan setiap sarjana, boleh dikatakan 95% (belum dilakukan riset) masih bermental pegawai. Selain dicekoki agar meraih hasil akademik tinggi, juga karena tidak diberikan pengetahuan yang cukup dan motivasi yang memadai bagaimana memulai usaha. Padahal negeri kita ini, untuk dapat menjadi bangsa yang terpandang dan disegani bangsa lain, dibutuhkan enterprenuer-enterprenuer muda yang mau berjibaku menjadi yang terbaik dalam bisnis.
Itulah sebabnya, ketika penulis mengambil keputusan untuk menjadi seorang pendidik, hal pertama yang ada didalam benak saya, saya tidak akan menyuruh mahasiswa saya untuk mendapatkan nilai tertinggi. Tetapi dapatkan ilmu sesuai porsinya dan terapkan saat Anda memulai bisnis. Kalaupun dalam tahap awal Anda memilih menjadi pegawai (karena keterbatasan modal atau pengetahuan), namun mental pengusaha itu sudah harus di-release sejak menjadi karyawan. Tentukan target, mau berapa lama bekerja di bawah orang lain? Setelah itu muncullah kepermukaan, tanpa gelar akademik, tanpa curriculum vitae, katakan, “saya akan mengelola bisnis saya sendiri!”
Secara pribadi, penulis pun belumlah menjadi pengusaha murni. Masih tetap berafiliasi dengan institusi orang lain. Namun perlahan saya membangun fondasi bisnis dengan mendaftarkan 2 buah CV di departemen perindustrian yang dikelola secara mandiri oleh anggota keluarga. Lalu kapan akan total melakukannya? As soon as possible. Namun dunia pendidikan tidak akan pernah saya tinggalkan. Karena walau bagaimanapun, dunia pendidikan menjadikan saya kaya secara pengetahuan. Juga ada nilai kepuasan bathin yang tidak dapat di nilai dengan nilai rupiah atau dollar sekalipun. Itulah pilihan saya!
Saya memilih untuk menyeimbangkan kemampuan teknologi dengan pengetahuan bisnis. Dengan demikian, saya berharap memberikan sedikit kontribusi bagi keluarga, komunitas, bangsa saya dan dunia ini.
Lalu, apakah anda sudah memutuskan untuk memilih? Ingat! Tidakpun anda memilih, sesungguhnya Anda sudah memilih, yaitu memilih untuk tidak memilih …
Salam DAMAI,
15 November 2008 Pkl. 10.30 – 11.36 wib – Ruang Dosen Mkom Universitas Budi Luhur

[...] Posted in Others Activities « “Hidup Adalah Pilihan” [...]
By: Kuliah “Computer Network” di Pascasarjana UBL « My Family Info on November 17, 2008
at 2:28 am