Hari itu, Sabtu tanggal 15 November 2008, dengan mengendarai ‘Scooter ‘82′ – yang selalu setia mengantarkan kemanapun aku pergi – aku berangkat dari Salemba pkl. 8.45 pagi menuju kampus UBL di Petukangan Utara. Namun sebelumnya singgah terlebih dahulu di Jakarta Convention Center dengan harapan lihat Pameran Buku. Namun begitu sampai, ternyata aku datang kepagian. Kata Pengatur Tata Tertib (Security), stand buka pukul 10. Padahal aku sampai baru pukul 9 pagi. Weleh …. nunggu sejam lagi, kelamaan. Tanpa pikir panjang, langsung menghampiri tungganganku … engkol … langsung pergi meninggalkan JCC. Menelusuri jalanan Ibu Kota ke arah Simprug. Trus putar balik menuju Cileduq. Sesampai di kampus, langsung menuju parkiran. Scooter di titipkan – tidak lupa beri pesan ,”Jaga diri baek-baek ya .. aku mau sharing knowledge kepada mahasiswaku di kampus ini.” Sukhai menanggapi tanpa ekspresi. Ya iyalah … khan scooter gak ngerti
Langsyung menuju lift ke lantai 5. Sesampai di ruang dosen, turn-on komputer yang ada disana – sambil berbincang dengan dosen mata kuliah lain. Rencananya mau akses Internet untuk cek email. Ternyata tidak ada connection . Kabarnya kemarin ada petir, jadi sedang ada perbaikan. Ya udah … buka aplikasi notepad, mau nulis sebuah opini. Baru mengetik judul, terpikir membuka aplikasi Ms Word, judulnya dipindahkan ke Word, notepad-nya di tutup. Mulailah berpikir menuliskan sebuah opini dari pengalaman. Tidak terasa, satu jam telah berlalu, aku masih asyik menulis opini yang berjudul “Hidup adalah Pilihan”. Yang mau baca, silakan cek http://huxleyi.wordpress.com/2008/11/17/%e2%80%9chidup-adalah-pilihan%e2%80%9d/. Tulisan ini pada intinya menjelaskan bahwa kita mendapatkan anugerah terbesar dari Sang Pencipta mengenai kuasa untuk memilih. Dengan kuasa tersebut, kita melakukan keputusan untuk memilih, mau berada dimana kita pada suatu waktu.
Selesai menulis, langsung di-copy-kan ke flashdisk. (Habis … mau diposting ke blog, internetnya masih ngadat. Ya udah, besok Senin aja, sesampainya di kampus Salemba). Beberapa saat setelah itu, makan siang datang …. Akhirnya makan terlebih dahulu …:-)
Selesai makan, rapi-rapi ke toilet. Trus menuju lantai 2. Aku perhatikan dari jauh, sepertinya di kelas ada mahasiswa sedang duduk-duduk. Refleks, buka pintu kelas … Oops … ternyata kelas sesi ke-2 belum selesai. Ya, udah … saya duduk di bangku panjang yang disediakan. Pukul 12.35 kelas sesi ke-2 selesai. Mahasiswa minta diri untuk makan siang terlebih dahulu. Beberapa saat kemudian, seorang mahasiswa perwakilan kelas B meminta – berhubung dosen sesi ke-3 mereka tidak hadir – untuk gabung kelas. Saya mah setuju aja … Aku khan orang marketing, apa maunya klien saja lah
, yang penting semua senang, semua menang … Mereka tidak bosan menunggu, aku pun bisa lebih cepat sampai dirumah dan bersih-bersih (maklum, rumah udah seminggu tidak dibersihkan hehehe …)
Sekitar pkl. 13.45 kelas dimulai. Topiknya “Advanced TCP/IP Network Design“, lanjutan dari sesi sebelumnya. Aku sampaikan materi di ’slide‘ sambil menjelaskan suplemen yang aku kirimkan beberapa hari sebelumnya.
Khusus di topik FLSM dan VLSM, aku coba jelaskan sesederhana mungkin sesuai kemampuanku, bagaimana merancang subnet IP address. Selesai … aku bertanya, ada yang belum paham? Beberapa menyampaikan, tolong diulang, Pa’ … Oke … aku jelaskan kembali … Dengan harapan agar lebih ‘mudeng’. Selesai …. tanya lagi … masih ada yang kurang paham? Masih pak!! Tolong ulang lagi …. Wuih … aku baru nyadar … ternyata masing-masing mahasiswa, prosesor-nya beda …. Ada yang Pentium 4, tapi ada juga yang masih 486
Tidak mengapa … Aku pun bukanlah orang cerdas, yang mampu sekali baca, langsung nempel. Aku juga butuh proses 6 bulan di lapangan baru mampu menjelaskannya kepada diri sendiri. Setelahnya baru aku mampu menjelaskannya kepada orang lain
Selesai materi, rencanya mau berphoto bersama. Tapi, ada yang menganjurkan untuk membahas sedikit kiat-kiat berbisnis. Padahal aku sendiripun belumlah pebisnis murni. Masih asyik berbagi ilmu (bisniskan bisa diwakilkan?, tapi mendidik harus ditangani sendiri
) Ya udah … kita berbagi pengalaman lagi ….
Oh ya … satu hal yang aku salut dari mahasiswaku saat ini, begitu antusias-nya mereka tentang bisnis. Padahal dibeberapa kelas sebelumnya, ataupun di kampus lain. Mereka lebih asyik dengan diri mereka sendiri. Sepertinya bisnis tidak begitu menarik bagi mereka. Mereka biasanya lebih nyaman dengan status quo yang ada saat ini. Bekerja, terima gaji, dapat THR, tunjangan kesehatan … That’s enough. Makanya saya tidak begitu banyak sharing tentang dunia bisnis. Lebih banyak tentang pengalaman secara teknikal. Tapi kali ini BEDA ….
Aku kira, itu suatu modal awal bagi mereka. Bahwa mereka juga tidak mau selamanya berada dibawah order orang lain. Mudah-mudahan seiring dengan waktu … seturut dengan proses pembelajaran, mereka menjadi cikal bakal pebisnis tangguh yang tidak mengharapkan gaji bulanan. Tapi justru lebih berorientasi pada memberi. Karena sesungguhnya, hukum hidup menentukan demikian. Untuk dapat menerima, terlebih dahulu harus memberi.
Btw, ada satu pertanyaan yang menarik dari seorang mahasiswa, “Bila kita memiliki karyawan, kemudian mereka semua juga berpikir seperti kita – untuk berbisnis? Bagaimana masa depan perusahaan kita? Bukankah itu kerugian? karena mereka meninggalkan perusahaan kita?” Terima kasih atas pertanyaan yang sangat mendalam ini.
Buat Sahabat yang bertanya …. jawaban saya mungkin tidak akan mudah diterima semua orang. Tetapi ingatlah!! bahwa pegawai kita pun sama seperti kita. Saat anda menjadi pegawai, apa yang anda harapkan? Saya kira tidak cukup sebatas gaji besar atau pun fasilitas yang mewah. Kita juga butuh rasa memiliki.
Maka pesan saya, ketika Anda memiliki karyawan, perlakukan mereka seperti anda ingin diperlakukan. Untuk menumbuhkan kecintaan dan tanggungjawab mereka terhadap pekerjaan, beri mereka lebih. Karena bila tidak, mereka hanya akan bekerja sesuai prinsip KSO (kerja sesuai ongkos). Anda bayar mereka Rp 500 ribu, maka kontribusi mereka pun hanya akan sebesar yang mereka terima. Tetapi bila anda beri mereka kepemilikan sesuai dengan porsinya (terutama kepada orang-orang kunci keberhasilan usaha anda), tentunya mereka akan benar-benar total mencurahkan semua karya dan pemikiran mereka untuk memajukan perusahaan. Bukankah lebih ringan bagi kita, bila ada orang lain yang dengan senang hati berbagi beban dengan kita untukkemajuan kita bersama?
Kalaupun kelak dia pergi untuk memulai bisnisnya sendiri, sama seperti kita pada awalnya memulai bisnis. Jangan takut! Jadikan dia sebagai mitra. Tapi ingat! jangan sampai dia pergi dari perusahaan anda dengan sakit hati atau merasa ditipu. Bila demikian adanya, anda kehilangannya!!!
Dalam bisnis di era informasi saat ini, persaingan tidak perlu dipupuk. Yang paling utama adalah kerjasama. Karena setiap bisnis ada pasarnya, walaupun bisnis yang sejenis. Ingat pameo, “setiap artis pasti ada penggemarnya”
secakep atau sejelek apapun artis tersebut. Setiap penyanyi pasti ada pasar albumnya. Sesumbang apapun suaranya
Jangan takut dengan persaingan. Karena persaingan dengan pihak luar itu tiada. Yang sesungguhnya ada adalah persaingan ke dalam diri kita sendiri. Selama kita melakukan usaha yang lebih berpihak kepada konsumen – kalaupun ada produk pesaing – yakinlah … konsumen akan tetap loyal kepada bisnis anda. Kecuali Anda tidak loyal kepada pelanggan Anda !!!
Bila anda menonton acara “Mario Teguh – The Golden Ways” tadi malam (16 Nov 08 pkl. 19.05 s/d 19.55 wib). Pesannya: “Jangan khawatirkan apa yang tidak dapat anda lakukan. Tetapi khawatirlah terhadap apa yang sesungguhnya dapat anda lakukan, namun anda tidak mau melakukannya.”
Dalam mengejar cita-cita, berpikirlah bahwa ada hari esok. Tetapi, DALAM MELAKUKAN KEBAIKAN YANG DAPAT KITA BERIKAN KEPADA ORANG LAIN, BERPIKIRLAH SEOLAH-OLAH KITA SUDAH MATI. Dengan demikian kita dapat menghambakan hidup kita kepada orang lain yang membutuhkan. Dan kita tidak akan pernah berpikir akan balasannya ataupun upahnya. Mengapa? Karena toh … kita sudah mati
SELAMAT BELAJAR DAN BERKARYA …
Salemba, 17 November 2008







