Baru-baru ini, teman saya Max Lucado mengunjungi saya. Ia mau menajamkan ketrampilan kepemimpinannya, dan meminta pertolongan saya. Jadi, ia datang pada hari Sabtu, dan kami berdua sangat senang. Max adalah penulis yang luar biasa – salah satu penulis kekristenan terhadap zaman ini. Pada satu malam, saat kami menikmati makan malam, saat bertanya kapan ia akan mempublikasikan buku pertamanya.
Ia menjawab, “Pada mulanya, tidak ada orang yang mau mempublikasikan buku saya.”
Saya hampir tersedak, “Apa?” teriak saya. “Apa maksudmu tidak ada yang mau mempublikasikan bukumu?” ujar Max bagaikan membaca syair. Begitu indah!
“Tidak ada yang mau mempublikasikannya, “jawabnya. “Saya mengirim naskah pertama saya kepada paling tidak lima belas penerbit sebelum akhirnya satu penerbit berkata ‘ya’.”
“Saya yakin beberapa penerbit itu menendang diri mereka sendiri sekarang,” kata saya. Sejak itu, Max menerbitkan banyak buku, dan menurut dugaan saya, ia telah menjual dua juta kopi. “Ketika kamu sedang mencoba menemukan penerbit untuk bukumu yang pertama, apakah kamu pernah merasa putus asa bahkan berpikir untuk menyerah saja?”
“Tidak,” jawabnya. “Setiap kali saya menerima kembali naskahnya, saya berpikir, baiklah, aku akan mencobanya ke penerbit lain.”
Itu yang mengena saya. Max memiliki sesuatu yang dimiliki oleh hampir semua orang sukses: kemampuan untuk gagal.
Anda perlu belajar untuk gagal ke depan
“Tunggu sebentar!” mungkin itu yang Anda ucapkan. “Saya kira kita membicarakan perjalanan menuju sukses. Bukankah sukses berarti menghindari kegagalan?” Jawabannya ‘tidak’. Kita semua gagal. Saat kita berjalan, kita semua masuk ke dalam lubang, mengambil belokan yang salah, atau lupa memeriksa radiator. Orang yang menghindari kegagalan adalah orang yang tidak pernah meninggalkan halaman rumahnya. Jadi, perkara yang sebenarnya itu bukan apakah Anda akan gagal atau tidak, melainkan apakah Anda akan gagal secara sukses (mengambil untung dari kegagalan Anda) atau mengizinkan kegagalan mengirim Anda ke jalan balik selama-lamanya. Seperti yang diperhatikan oleh Nelson Boswell, “Perbedaan antara kehandalan dan kesederhaan adalah seberapa sering seseorang memandang kesalahannya.” Bila Anda mau melanjutkan perjalanan menuju sukses, Anda harus belajar gagal ke depan.
Sumber: Perjalanan Menuju Sukses, Author: John C. Maxwell