Posted by: retarigan | January 13, 2009

Memahami Betapa Menguntungkannya Bila Anda Tidak Harus Benar

mind-set-john-naissbitPEMBERONTAK YANG RENDAH HATI

Langkah awal pria muda satu ini tidaklah mulus. Ia belajar fisika di Polytechnikum Zurich, tapi disertasinya ditolak. “Kau cukup pintar,” ujar dosennya, “tapi kau punya satu kelemahan besar. Kau tidak pernah mendengarkan orang lain.” Kedengarannya memang seperti sebuah komentar yang tepat mengenai orang yang percaya bahwa “perbudakan otoritas adalah salah satu musuh terbesar kebenaran.”

Di awal abad ke-20, sikap seperti itu kurang diterima dan pria muda itu menjadi satu-satunya di antara empat lulusan dalam angkatannya yang tidak berhasil mendapatkan pekerjaan akademis, meski sudah mengirim segunung lamaran. Akan tetapi, kepercayaan dirinya tidak luntur. “Hidup kekurangajaran! Kekurangajaran adalah malaikat pembimbingku di muka bumi ini.” Setelah menjadi guru di sebuah sekolah di Schaffhausen, ia akhirnya diterima sebagai penguji hak paten di Bern. Ia adalah Albert Einstein.

Diawali pada tahun 1902, saat ia menghabiskan 48 jam per pekan di balik mejanya di kantor hak paten dengan keyakinan bahwa ia terlahir untuk menciptakan sesuatu yang besar. Kalau perlu, ia bekerja di malam hari. Pada tahun 1905, Einstein menulis surat kepada pakar matematika Conrad Habicht, temannya semasa di Schaffausen:

Salam, Habicht

Atmosfer kesunyian telah menyergap kita sampai-sampai aku merasa seolah-olah sedang melakukan pelanggaran karena memecah kebisuan ini dengan celoteh tak jelas. Apa yang sedang kau kerjakan sekarang? Kenapa kau belum juga mengirimkan disertasimu kepadaku? Tidakkah kau tahu aku ini salah satu dari 1,5 orang yang akan membacanya dengan senang hati dan penuh minat? Sebagai imbalannya, aku berjanji akan mengirimi empat makalah.

Makalah pertama berhubungan dengan radiasi dan sifat-sifat energy cahaya dan sangat revolusioner. Kau akan lihat sendiri kalau kau mengirimiku dulu tulisanmu. Makalah kedua adalah penentuan ukuran atom yang sebenarnya. Yang ketiga membuktikan bahwa massa di tingkat ukuran 1/1.000 mm, yang terapung dalam cairan, pasti melakukan gerakan acak yang dapat diamati yang dihasilkan dari gerakan panas. Makalah keempat saat ini baru berupa coretan kasar mengenai elektrodinamika massa yang bergerak, yang menggunakan modifikasi teori ruang dan waktu.

Yang disebut Einsten muda (waktu itu 26 tahun) dengan “celoteh tak jelas” merupakan salah satu celoteh luar biasa yang pernah dituturkan manusia. Celoteh itu meroketkan ilmu fisika dari era abad ke-19 memasuki abad ke-20 dan menjadikan penulisnya sebagai salah seorang jenius terbesar abad ini. Bagaimana mungkin seorang pria dapat mengguncang dasar-dasar ilmu fisika? Yang membuatnya unik bukanlah semangat mudanya yang tinggi. Dalam annus mirabilis, tahun keajaiban, tahun 1905, sebagaimana kita sebut sekarang, ia bukan hanya mempersembahkan teori relativitas tapi juga pergeseran besar kedua dalam pemikiran mekanika kuantum. Dengan dua makalah ini, ia menciptakan dasar baru bagi para penerusnya dalam membangun ilmu fisika modern.

Seolah-olah semua itu tidak cukup, Einstein menambahnya setiap tahun. Habicht menerima satu lagi surat mengenai sebuah gagasan yang disebut Einstein sebagai tidak hanya menarik tapi juga lucu: “Kira-kira, akankah Tuhan tertawa. Pasalnya, ia secara bercanda sedang membuatku tersesat.”

E = mc2 pun lahir

Einstein menerangi dunia gelap ruang dan waktu. Albrecht Fossling, salah seorang penulis biografinya, berspekulasi bahwa beruntunglah “seorang pria dengan kondisi semacam itu tidak ambil pusing soal berdiskusi dengan para ilmuan terkemuka melainkan lebih memilih bercengkerama dengan pikiran-pikirannya dalam dunianya sendiri.”

Albert Einstein dengan bebas berimajinasi, menghubungkan titik-titik yang orang lihat tidak memiliki hubungan, dan bersedia untuk dikejutkan oleh apa pun hasil yang muncul. Ia focus pada substansi, bukan ego.

Sudah banyak orang mencoba menjelaskan kegeniusan penguji paten dari Bern ini. Spesialis intelegensi Harvard, Howard Gardner, percaya bahwa Einstein bisa mengungkap begitu banyak rahasia alam karena ia tidak pernah kehilangan kepolosan masa kanak-kanaknya dan menyebutnya sebagai seorang “bocah abadi”. Einstein jelas tidak ambil pusing apakah upayanya akan ditentang orang atau tidak. Ia hanya tidak ingin pengamatannya luput. Pada 22 September 1911, ia menulis kepada William Julius:

Wahai Rekan yang Sangat Terhormat:

Jika garis-garis [spektrum surya] ini sangat halus, saya percaya teori saya tertolak oleh pengamatan ini. Saya akan sangat senang jika Anda menggambarkan secara cerdas kepada saya pandangan Anda mengenai masalah ini. Lagi pula, saya sadar sekali bahwa teori saya bersandar pada fondasi yang sangat lemah. Jalan yang saya ambil mungkin salah, tapi itu harus dicoba.

Pada 27 Oktober 1912, ia menulis kepada seorang rekannya yang lain, pakar astrofisika Erwin Freundlich:

Penelitian teoritis yang maju cepat setelah riset yang luar biasa berat. Oleh karenanya, kemungkinan besar, persamaan dinamika umum gravitasi akan segera tercipta. Indahnya teori ini adalah orang dapat tetap bebas dari asumsi mana suka, sehingga tidak ada yang harus “ditambal”; alih-alih, segalanya tidak betul tapi juga tidak salah.

Di penghujung sebuah penemuan besar, orang banyak tergoda untuk menjadi pihak yang benar. Tapi sikap berani dalam menjungkir-balikkan konsep mapan mengenai ruang dan waktu, energi dan massa, tidak menyisakan ruang untuk sikap harus benar. Einstein, dengan segala perasaan, ketakutan, dan harapannya, mencari hukum-hukum universal dan abadi. Ia mencari apa yang benar, bukan siapa yang benar.

Hanya sedikit di antara kita yang memiliki daya jangkau seperti Einstein. Tetapi, tujuan sederhana pun tetap membutuhkan sikap tidak harus benar.

Dalam kehidupan pribadi, dalam dunia bisnis, dan dalam dunia politik, standar yang berlaku tetaplah apa yang benar, bukan siapa yang benar.

Saat menulis tentang masa depan, saya tidak boleh memikirkan apakah kesimpulan saya akan terbukti salah di suatu hari nanti atau tidak. Pada akhirnya, saya harus membuat penilaian, dan penilaian itu harus sejernih mungkin. Tapi, saya tidak akan dapat membayangkan apa pun atau menyarankan apa pun jika saya masih memiliki sikap harus benar. Meski demikian, ketika saya tulis, beberapa pertanyaan mungkin kelihatannya tidak mungkin.

BERANI MENANTANG

Salah satu kesimpulan yang saya peroleh dalam Megatrends dan menyebabkan reaksi luar biasa adalah bahwa jaringan televise nasional AS yang sedang naik daun – NBC, CBS, ABC – berada dalam penurunan panjang karena pemirsa mereka akan tersedot oleh tawaran televisi kabel yang sedang berkembang – dan waktu itu masih cukup primitif. Pada waktu itu (1982), pemikiran bahwa para raksasa hiburan itu akan mengalami kemerosotan merupakan sebuah gagasan yang ditertawakan sebagian besar orang. Saya ingat member ceramah mengenai hal ini di pertemuan tahunan Advertising Association of America (tepat di sarang “musuh”) di Greenbrier. Keesokan harinya, kolumnis iklan di New York Times membuat tulisan mengenai ceramah saya. Ia mengatakan bahwa “siapa pun yang mempercayainya pastilah gila.” Mungkin saja saya salah. Tapi bagi saya waktu itu, di Amerika, segala sesuatu yang multiguna sedang kehilangan arti pentingnya. Majalah-majalah multiguna besar seperti Life, Look, dan Saturday Evening Post, dengan tiras 10 juta eksemplar, menciut dan digantikan oleh ratusan majalah tersegmentasi. Bagi saya waktu itu, ABC, NBC, dan CBS jelas akan mengalami nasib sama seperti Life, Look, dan Post dalam tahun-tahun mendatang, saat pemirsa mereka tersedot oleh semakin banyaknya pilihan yang ditawarkan televisi kabel yang semakin membaik. Kini, total penguasaan pasar gabungan ketiga jaringan besar tersebut berkisar pada angka 11%.

MELAWAN ARUS

Mungkinkah semua orang salah?

Selama puluhan tahun, teori medis yang hampir diterima secara universal adalah bahwa tukak lambung disebabkan oleh stres, merokok, dan alkohol. Dasar pemikirannya adalah bahwa stres membuat tubuh menghasilkan asam lambung berlebihan, yang menggerogoti lapisan lambung. Penanganan standarnya dulu adalah operasi.

Lalu, dua dokter Australia, Robin Warren dan Barry Marshall, mengatakan bahwa tukak lambung disebabkan oleh sebuah varietas bakteri yang – di masa itu – belum dikenal. Waktu itu, pernyataan ini sama konyolnya dengan berkendara melawan arus di sebuah jalan raya sambil bersikeras bahwa pengendara lain berjalan salah arah.

Pada tahun 1983, Dr. Marshall mulai berhasil menangani para penderita tukak lambung dengan antibiotik. Kemudian di tahun itu, di sebuah konferensi penyakit di Belgia, Dr. Marshall ditanya apakah menurutnya bakteri menyebabkan beberapa tukak lambung. Dr. Marshall secara dramatis menjawab bahwa ia percaya bakteri menyebabkan semua tukak lambung. Apakah semua pakar salah? Bagaimana mungkin?

“Dogma tidaklah mungkin diganti,” ujarnya kemudian. Di luar panggung dan di pertemuan ilmiah lainnya, ia dicemooh karenanya. “Agenda mereka adalah membungkam saya dan menyingkirkan saya dari gastroenterology lalu membuat saya hanya praktik umum di pedalaman,” ujar dokter muda dari Perth ini. Komunitas medis di seluruh dunia tetap bersikukuh menentang gagasan bakteri tukak lambung yang berlawanan arus ini.

Pada Oktober 2005, Dr. Warren dan Dr. Marshall mendapat Hadiah Nobel dalam bidang kedokteran karena menemukan “bakteri tukak lambung”. Butuh lebih dari satu dasawarsa bagi kelompok mapan untuk berhenti meresepkan antiasam dan mulai menggunakan antibiotik. Sungguh luar biasa membayangkan betapa besar ongkos kolektif dan penderitaan yang disebabkan kegigihan kelompok mapan medis untuk tidak terbukti salah.

KEHARUSAN MENJADI BENAR MENGHALANGI PIKIRAN ANDA

Orang secara budaya dikondisikan untuk benar. Orang tua selalu benar. Guru selalu benar. Bos selalu benar. Siapa yang benar menentukan apa yang benar. Suami-istri bertengkar soal masalah-masalah yang intinya justru terlupakan akibat keduanya berebut menjadi pihak yang benar.

Partai-partai politik berpendirian harus benar. Seberapa sering sebuah partai politik menerima sikap pihak lain? Bayangkan jika semua energy yang dicurahkan untuk membuktikan pihak lain salah – dan kita benar – disalurkan untuk memikirkan apa yang terbaik bagi apa pun. Yang lebih parah lagi, keharusan menjadi benar merupakan sebuah rintangan dalam pembelajaran dan pemahaman. Keharusan menjadi benar menghambat pertumbuhan Anda, karena pertumbuhan tidak akan terjadi tanpa mengubah, mengoreksi, dan mempertanyakan diri sendiri.

Jika Anda harus benar, Anda menempatkan diri sendiri dalam sebuah benteng tertutup. Tapi begitu Anda merasakan hebatnya tidak harus benar, Anda akan merasa seperti berjalan melintasi sebuah padang terbuka, di mana cakrawala terbentang luas dan kaki Anda bebas melangkah ke mana saja.

John Naisbitt

MIND SET! Tata Pola Pikir Anda untuk Membaca Peluang Bisnis Masa Depan & Menuai Profit – Daras Book


Leave a response

You must be logged in to post a comment.

Categories