Sekarang menjadi jelas bahwa ketika seseorang meninggal dunia, keabadian mengetuk pintunya. Tetapi tidakkah keabadian juga mengetuk pintu kita masingmasing, setiap saat? Jika kita adalah orang yang sudah tua atau menderita sakit, tidak sulit membayangkan hal ini. Hal ini menjadi lebih sulit bagi kita yang sehat, atau dalam masa-masa produktif. Kita lebih cenderung untuk memandang kematian sebagai sesuatu yang negatif, dan menyingkirkan peringatannya bahwa tidak semua mimpi untuk memiliki hidup yang panjang dan bahagia menjadi kenyataan. Dan meskipun kita menyingkirkan peringatan itu, kita tidak pernah tahu, ketika kita bangun di pagi hari, apakah kita masih memiliki hidup puluhan tahun lagi, atau hanya dalam hitungan hari.
Baru beberapa minggu yang lalu keponakan saya yang berusia 32 tahun, Carmen, seorang guru kelas dua dan ibu dari empat orang anak, sibuk mencari keseimbangan antara tugasnya sebagai orangtua dan tugasnya sebagai pekerja; sementara itu ia telah didiagnosis menderita penyakit multiple sclerosis, dan tidak dapat berdiri untuk menulis di papan tulis maupun memandikan bayinya. Baru beberapa minggu yang lalu ia memainkan biola di hari perkawinan anak perempuan saya yang paling kecil; sekarang ia sangat lemah dan bahkan sulit untuk mengangkat kepalanya. Melihat jenis penyakitnya, Carmen mungkin sembuh tidak lama lagi. Tetapi ada kemungkinan juga ia akan berada di kursi roda selama sisa hidupnya.
Kemudian ada sepupu saya Ben, berusia enam puluh delapan tahun, yang baru-baru ini didiagnosis menderita kanker. Penyakit ini menyebar dengan sangat cepat sehingga ketika ia didiagnosis mengidap penyakit tersebut, baik operasi maupun pengobatan dengan kemoterapi sudah tidak lagi diusulkan karena sudah tidak efektif. Meskipun kondisinya stabil dan usianya diperpanjang dengan obat pengurang rasa sakit dan pencegah berkembangnya hormon, kondisinya dapat menurun kapan saja – sesuatu yang dengan sangat sedih disadarinya, terutama di hari-hari di mana penyakitnya terasa sangat mengganggu. Di saat yang bersamaan ia terlihat gembira sehingga orang tidak dapat menerka apa yang sebenarnya ia rasakan: perasaan mual, panas, malam-malam yang penuh kegelisahan, dan saat-saat ketika ia memikirkan dipisahkan dari istri yang sudah mendampinginya selama empat puluh tahun terlalu berat untuk ditanggung tanpa air mata.
Melihat dari kondisi kesehatannya dan penyakit yang menggerogotinya, Ben setiap hari dipaksa untuk berhadapan dengan bayangan kematian – dan ketika bayangan itu menyerangnya, perasaan takut yang luar biasa. Meskipun orang seperti Ben lebih menyadari akan mortalitasnya dibandingkan dengan saya dan Anda, tetapi tidakkah kita semua sama, kecil dan lemah di hadapan Tuhan? Dengan mengetahui ketidakpastian dari usia kita dari satu minggu ke minggu berikutnya, tidakkah penyakit, setiap kematian berbicara kepada kita dan mengingatkan kita akan arti hidup yang sesungguhnya? Seperti Joseph Conrad mengingatkan kita dalam Lord Jim, suka atau tidak, hari-hari kita dihitung, dan “tidak pernah ada waktu untuk mengatakan kata-kata terakhir – kata-kata terakhir kita mengenai kasih, atau keinginan kita, iman, penyesalan…”
Melihat seseorang menghembuskan napas terakhirnya selalu merupakan pengalaman yang menggetarkan. Tetapi kematian tidak mempunyai kata akhir. Jika kematian kelihatannya seperti mempunyai kata akhir, mungkin ini karena kita terlalu banyak menghabiskan waktu memfokuskan diri pada ketakutan akan kematian. Seperti binatang yang terpaku pada sinar lampu yang dipancarkan oleh kendaraan yang datang, kita sangat terhipnotis oleh kematian sehingga kita lupa pada janji kehidupan kekal yang mengikuti kematian. Bonhoeffer dengan cara yang tepat dan benar menasihati kita:
Kita lebih banyak memerhatikan saat-saat menjelang kematian daripada kematian itu sendiri. Kita lebih cemas untuk mengatasi tindakan dalam menangani ajal yang menjelang daripada mengalahkan kematian. Socrates menguasai cara menghadapi ajal; Kristus mengalahkan kematian sebagai musuh terakhir. Terdapat perbedaan yang nyata dari keduanya; yang satu berada dalam lingkup kemampuan manusia, yang satunya berarti kebangkitan. Ini bukan berdasarkan atas ars moriendi – cara menghadapi ajal – bahwa angin yang baru dan suci dapat bertiup melalui dunia kita. Hanya kebangkitan Kristus yang dapat menjadikan itu suatu kenyataan. Di sini terdapat jawaban atas tantangan Archimedes: “Berikan saya suatu tempat untuk saya berdiri, dan saya akan menggerakkan bumi.” Jika hanya sedikit orang yang benar-benar percaya pada hal itu dan bertindak berdasarkan keyakinan itu dalam hidup keseharian mereka, perubahan besar akan terjadi…. Yaitu apa arti hidup dalam terang kebangkitan.
Bonhoeffer, seorang martir modern yang menolak untuk melepaskan keyakinannya dan tunduk pada tuntutan Hitler’s Third Reich, pergi ke tiang gantungan tanpa rasa takut, dan bagi saya kata-kata ini berisikan kunci dari keberaniannya. Kata-kata ini juga berisi inti yang sangat penting dari kebijaksanaan: cara yang terbaik – cara satu-satunya – untuk benar-benar mengalahkan rasa takut akan kematian adalah dengan menjalani hidup sedemikian rupa sehinga arti dari hidup itu sendiri tidak dapat diambil oleh kematian.
Ini kelihatannya megah, tetapi sebenarnya sangat sederhana. Ini berarti memerangi keinginan untuk hidup bagi diri kita sendiri, dan hidup bagi orang lain. Ini berarti memilih kemurahan hati daripada kerakusan. Ini juga berarti untuk hidup dalam kerendahan hati daripada mencari pengaruh dan kuasa. Akhirnya, ini berarti siap untuk mati berkali-kali – bagi diri sendiri, dan bagi sifat-sifat egois kita.
Dalam Christmas Carol karangan Dickens, Scrooge, akuntan yang bengis memberi ilustrasi yang selalu mengingatkan hal ini. Kikir dan tamak, ia menjalani hidup dengan menyeret rantai yang ia tempa sendiri, satu per satu mata rantai, dalam setiap perilaku kikir dan tamak yang ia perlihatkan. Menutup dirinya dari kebaikan manusia, ia hidup dalam alam semesta yang penuh perhitungan dan dingin di mana tidak ada satu orang pun terbebas dari rasa curiganya. Tidak lama ia mulai membenci dirinya sendiri dan mencari jalan untuk keluar dari kesedihannya. Tetapi ia tidak dapat menemukan satu pun jalan keluar. Ia terperangkap – terperangkap dalam penjara diri sendiri. Lebih buruk lagi, di malam hari ia dihantui oleh mimpi-mimpi mengenai kematian dan mencemaskan kedatangannya.
Kemudian ia berubah. Dilepaskan oleh mimpi-mimpi yang sama, timbangan itu jatuh dari matanya, dan ia melihat jalan keluar: “Inilah waktunya untuk berubah.” Tidak lagi dipenuhi oleh keinginan diri sendiri, ia bebas untuk mengasihi. Dan ketika ia menghampiri satu per satu kenalannya, ia menemukan kembali dunia di sekelilingnya dipenuhi dengan kegembiraan spontan seorang anak.
Kegembiraan serupa itu juga dapat menjadi milik kita, jika kita hidup untuk mengasihi. Dengan “kasih” saya tidak hanya berbicara mengenai emosi, tidak juga hanya mengenai tujuan akhir yang besar, abstrak, tetapi kekuatan yang mengubah hidup yang dikatakan oleh Yesus ketika Ia berkata:
Sebab ketika Aku lapar, kamu memberi Aku makan; ketika Aku haus, kamu memberi Aku minum; ketika Aku seorang asing, kamu memberi aku tumpangan; ketika Aku telanjang, kamu memberi Aku pakaian; ketika Aku sakit, kamu melawat Aku; ketika Aku di dalam penjara, kamu mengunjungi Aku. (Mat 25:35-36)
Kasih merupakan sebuah realita. Kadang-kadang kasih itu lahir dari belas kasih atau devosi; kadangkadang kasih merupakan buah yang sulit untuk didapatkan, memerlukan kerja dan pengorbanan. Sumbernya tidak penting. Kecuali kita hidup untuk cinta, kita tidak dapat menghadapi kematian dengan penuh keyakinan ketika saat itu tiba. Saya mengatakan ini karena saya yakin bahwa ketika kita menghembuskan napas terakhir dan jiwa kita bertemu Tuhan, kita tidak akan ditanya berapa banyak yang sudah kita capai. Kita akan ditanya apakah kita sudah cukup mengasihi. Mengutip kata-kata Yohanes dari Salib, “Di akhir hidupmu engkau akan diadili berdasarkan kasih.”
Ketika bibi saya Else terbaring sekarat karena TBC, seorang teman bertanya kepadanya apakah ia mempunyai keinginan terakhir. Ia menjawab, “Hanya untuk lebih mengasihi.” Jika kita menjalani hidup kita dalam kasih, kita akan mendapatkan rasa damai di saat kematian. Dan kita tidak akan merasa takut.
Be Not Afraid, Overcoming The Fear of Death – Penerbit DIOMA Malang
Wah bagus sekali artikel nya, bisa menjadi banyak masukan nih.
Makasih ya!
saya sedang menulis perihal multiple sclerosis di blog saya. silakan berkunjung ya!
http://distributor4lifeindonesia.wordpress.com/2008/11/29/ternyata-multiple-sclerosis-psoriasi-dan-rheumatoid-arthritis-termasuk-penyakit-autoimune/
By: sehat4life on February 26, 2009
at 12:04 am