Posted by: retarigan | February 12, 2009

Penyembuhan

penyembuhanPada tahun 1933 paman saya Hardy, yang belajar di Tubingen, bertemu dan jatuh cinta pada teman kuliahnya, Edith. Satu setengah tahun kemudian mereka menikah dan tinggal di Silum, sebuah komunitas kecil di pegunungan Alps. Dengan perangai yang saling melengkapi dan memiliki kesenangan yang sama dalam sejarah dan sastra, pasangan ini sangat serasi, atau yang paling bahagia, terutama setelah Edith mengetahui bahwa ia sedang mengandung. Tetapi kegembiraan mereka tidak berlangsung lama.

Beberapa hari setelah kelahiran bayinya, Edith menderita sakit panas (childbed fever) yang fatal. Suhu badannya meningkat, denyut nadi menjadi cepat, pembuluh darahnya seperti terbakar, dan tubuhnya mulai membengkak. Ia sekarat, dan sepertinya tidak ada harapan untuk sembuh.

Hardy tidak siap untuk melepas kepergian istrinya, begitu juga dengan ayahnya – kakek saya. Ketika kondisi Edith semakin memburuk, ia mengumpulkan para anggota Silum dan memimpin mereka untuk mendoakan Edith. Ia juga menumpangkan tangannya kepada Edith dan memohon kepada Tuhan untuk menyembuhkannya, jika itu adalah kehendakNya.

Perlahan Edith mulai membaik, dan pada satu titik dokter bahkan mengatakan bahwa ia telah terbebas dari bahaya. Tetapi, tidak lama setelah itu, demamnya datang lagi dan kondisinya kembali kritis. Satu hari ia merasa lebih baik; tetapi hari berikutnya, ia dapat berada dalam kondisi kritis.

Pada waktu itu kakek saya merasakan sesuatu yang belum pernah ia rasakan sebelumnya: bahwa jiwa Edith sepertinya naik turun seperti kesehatannya, dan keduanya naik turun sesuai dengan keadaan hati kelompok yang berada di sekelilingnya. Ketika mereka sedih atau pesimis atau merasa kecil, ia terlihat melemah; jika mereka berkumpul di sekitarnya dengan gembira dan dengan keteguhan hati, ia kembali mendapatkan kekuatan. Tubuhnya seperti menjadi barometer bagi keadaan kelompoknya.

Terguncang dengan fenomena misterius ini, orang-orang di Silum berdoa lebih tekun dari sebelumnya. Tetapi fokus mereka tidak lagi pada kesehatan Edith secara fisik, tetapi agar mata mereka dibukakan untuk dapat mengerti pergumulannya secara spiritual, dan mengidentifikasi dan menghilangkan segala rintangan yang menghadang, termasuk agenda dan pandangan pribadi mereka sendiri – sehingga memberi jalan bagi Tuhan untuk menyembuhkan mereka semua, tubuh dan jiwa. Seperti yang dikatakan oleh kakek saya pada waktu itu, “Tidak ada kemenangan Roh Kudus selama orang merasa bahwa merekalah yang menyembuhkan penyakit. Roh tidak sama dengan keajaiban. Roh dapat menyembuhkan, tetapi hanya ketika keinginan diri sendiri dan kekuatan manusia dihilangkan. Hanya pada waktu itu Roh dapat memperlihatkan dirinya sebagai Roh yang menyembuhkan yang sakit, mengusir setan, dan mengatasi kematian.” Dalam pengertian ini penyakit Edith diperangi, dan setelah beberapa minggu, penyakit ini akhirnya dapat dikalahkan.

Mengingat peristiwa tersebut bertahun-tahun kemudian, orangtua saya, yang pada waktu itu tingal di Silum, mengatakan bahwa Edith melihat pergumulannya dari sudut pandang yang lebih besar lagi, sudut pandang spiritual – pergumulan antara terang dan kegelapan, hidup dan mati. Karena itu, ia tidak hanya berperang untuk dirinya sendiri atau keluarganya saja. Jelas ia ingin tetap hidup, tetapi ia merasa jika kemenangan harus didapatkan, kemenangan ini harus mempunyai arti lebih dari sekadar kemampuannya untuk bertahan hidup. Kemenangan ini harus merupakan kesaksian hidup bahwa kekuatan akan didapat jika manusia melepaskan kekuatan dirinya dan bersatu dalam doa untuk satu tujuan yang sama.

Enam puluh tahun kemudian, seorang saudara saya mendapat kesembuhan dari kekuatan doa. Suatu hari di bulan Februari 1996, seorang keponakan saya, yang menikah tiga tahun yang lalu, baru saja memberitahu saya dan istri mengenai kelahiran anak pertamanya. Simon seorang bayi yang rupawan, sehat, dengan berat enam pound, sempurna – paling tidak itulah kesan pertamanya. Tetapi dalam waktu beberapa jam, ia menderita kesulitan bernapas. Oksigen dibawa, dan mobil ambulan dipanggil (ia lahir di rumah sakit di pedalaman). Dalam perjalanan menuju rumah sakit, bayi tersebut berubah menjadi biru.

Tidak lama setelah tiba di rumah sakit, hasil X-ray meyakinkan apa yang ditakutkan oleh para dokter: kedua paru-paru Simon terkena infeksi yang parah. Mereka memprediksikan, jika ia dapat bertahan hidup, kemungkinan besar ia akan kehilangan pendengarannya dan kerusakan pada daya penglihatannya, dan kemungkinan juga kerusakan pada otak.

Bergumul untuk tidak mendengarkan kata-kata dokter, dan ketakutan bahwa ini adalah awal dari suatu akhir, orangtua Simon yang putus asa dan sedih tidak dapat berkata apa-apa. Tetapi ini tidak berlangsung lama. Mereka berpikir, mengapa tidak berpaling kepada Tuhan dan memohon kepadaNya untuk menyembuhkan Simon? Mengapa menerima kekalahan? Pada akhirnya, Tuhan mengetahui apa yang tidak diketahui oleh para dokter yang menangani Simon. Dan Simon sendiri belum menyerah. Di antara kabel-kabel yang membingungkan, jarum, tabung dan cahaya terang, di tengah-tengah suara mesin ventilator yang membantunya untuk bernapas, ia masih menendang-nendang – berjuang untuk hidupnya.

Orangtua Simon berdoa, tetapi kondisinya memburuk. Pada malam itu ia mengeluarkan darah dari paru-parunya dan harus ditransfusi. Kemudian, di malam yang sama tekanan darahnya menurun. Dopamine, obat yang sangat kuat, mulai diberikan tetapi kondisinya belum stabil. Meskipun demikian, sepuluh mil dari rumah sakit tersebut, kekuatan lain sedang dihimpun: doa-doa dari para anggota Gereja kami. Ini terjadi secara spontan, tetapi cepat: ketika satu per satu dari mereka mengetahui mengenai keadaan Simon, mereka membuat rencana untuk berkumpul dan berdoa atas namanya. Sementara itu, orangtua Simon dan beberapa orang teman terus berdoa di sekeliling bayi tersebut di rumah sakit.

Pada tengah malam, Simon tiba-tiba membaik; pada pukul lima pagi oksigen dilepas. Dokter yang menanganinya, yang terus menerus berada di sampingnya sepanjang malam, melihat dengan bingung dan berkata, “Oh Tuhan, orang-orang ini tahu bagaimana harus berdoa. Saya tidak dapat memberi penjelasan mengapa ia masih hidup.” Seorang dokter lain berkata lebih lugas. “Anakmu seharusnya sudah meninggal,” ia berkata, menggelengkan kepala tidak percaya.

Beberapa hari kemudian, meskipun seorang ahli memprediksi akan terjadi beberapa kemungkinan buruk, Simon terus membaik dan tidak lama kemudian ia diperbolehkan pulang. Sekarang ia adalah seorang anak sehat yang berusia lima tahun, dan tidak menderita kerusakan saraf apa pun.

Kisah Simon, seperti juga kisah Edith, merupakan kesaksian dari kekuatan doa. Walaupun ada drama kehidupan dalam kisah mereka tetapi tidak ada satu pun dari cerita tersebut yang unik. Pada kenyataannya, kesembuhan karena campur tangan serupa itu merupakan hal yang biasa sekarang ini bahwa penyembuhan dan doa berjalan bersama. Mereka membicarakannya dengan acuh tak acuh, dan sering dengan penuh sensasi, sehingga banyak orang menganggapnya dengan perasaan campur aduk, skeptis dan malu.

Tetapi tetap saja ada hubungan antara doa dan penyembuhan, ungkapan yang dikatakan dalam Injil Matius, tidak dapat dihilangkan: “Mintalah, maka akan diberikan kepadamu; carilah maka kamu akan mendapat; ketuklah maka pintu akan dibukakan bagimu. Karena setiap orang yang meminta, menerima dan setiap orang yang mencari, mendapat dan setiap orang yang mengetuk, baginya pintu dibukakan.”

Bagi orang yang sudah mengalami penyembuhan atau melihat sendiri penyembuhan itu terjadi dalam diri orang lain, kata-kata Yesus ini bukan hanya merupakan sebuah janji, tetapi suatu kenyataan yang tak terbantahkan. Tetapi di lain pihak, bagi mereka yang belum merasakan penyembuhan itu, kata-kata tersebut dapat menimbulkan rasa frustrasi. Tetapi bagaimana dengan suami atau istri, atau orangtua atau anak yang telah berdoa setiap hari, tetapi orang yang mereka kasihi tetap meninggal dunia? Bagaimana mengenai orang yang kelihatannya telah disembuhkan, tetapi hanya untuk diambil tidak lama kemudian? (Hal ini terjadi pada Edith: delapan tahun setelah ia terlepas dari maut, ia meninggal karena radang perut yang disebabkan oleh pecahnya usus buntu).

Merenungkan pertanyaan-pertanyaan serupa itu, saya tidak mempunyai jawaban. Tetapi saya mempunyai sedikit renungan, yang pertama adalah dengan meletakkan harapan kita pada mukjizat dan keajaiban kita juga harus meletakkan hati kita untuk menerima kekecewaan. Optimisme merupakan obat yang sangat kuat, tetapi itu tidak dapat melawan hukum alam atau kehendak Tuhan. Benar bahwa ketika kita memiliki iman, mukjizat dapat terjadi. Tetapi seperti yang diamati oleh pemikir Swedia, Dag Hammarskjold, konsekuensinya adalah dengan bepergang pada kejadian-kejadian seperti itu, kita “tergoda untuk membuat mukjizat sebagai dasar dari harapan kita … dan oleh karena itu kehilangan kepercayaan pada iman.”

Lebih jauh lagi, apa pun hasil dari doa kita, efektif (atau tidak efektif), saya percaya kita harus tetap berpaling kepada Tuhan dan percaya bahwa Ia mendengarkan kita. Dan dalam melakukan hal itu kita tidak boleh lupa bahwa meskipun sebagian dari kita terbiasa memfokuskan diri pada doa-doa kita, menceritakan kepadaNya masalah-masalah dan keinginan-keinginan kita, kita akan lebih berhasil dalam merenungkan kehendakNya dengan berdiam diri dan membiarkan Dia berbicara.

Akhirnya, kita juga harus menyadari bahwa Tuhan mungkin tidak menjawab doa-doa kita untuk suatu kesembuhan seperti yang kita harapkan, dan menjawab pertanyaan-pertanyaan kita seperti yang kita inginkan. Dalam bukunya A Grief Observed, C.S. Lewis menulis, “Ketika saya menanyakan beberapa pertanyaan kepada Tuhan saya tidak mendapat jawaban. Atau lebih tepat dikatakan ‘Tidak ada jawaban.’ Ini bukan seperti pintu yang terkunci. Ini lebih pada suasana diam, tentunya bukan pandangan tanpa belas kasihan. Seakan-akan Ia menggelengkan kepalanya bukan menolak tetapi meniadakan pertanyaan tersebut. Seperti, ‘Damai, anakku, engkau tidak mengerti.’”

Lewis melanjutkan, “Dapatkah manusia yang dapat mati menanyakan pertanyaan-pertanyaan yang tidak dapat dijawab oleh Tuhan? Mudah saja, saya berpikir…Berapa jam dalam satu mil? Apakah warna kuning itu berbentuk segi empat atau bulat? Mungkin setengah dari pertanyaan-pertanyaan yang kita tanyakan – setengah dari masalah-masalah kita yang besar mengenai teologi dan metafisika – seperti itu.”

Orang modern cenderung percaya setiap penyakit dapat disembuhkan, jika kita bertekun dalam mencarinya, ini merupakan poin penting untuk direnungkan. Dalam hal penyembuhan, misalnya, bagaimana kita dapat merasa yakin bahwa pengobatan itu lebih penting daripada penyakit itu? Di mana yang satu berakhir dan di mana yang satu lagi bermula? Mungkinkah mereka itu kadang-kadang satu dan sama? Ketika orang yang sombong, yang memikirkan dirinya sendiri telah direndahkan oleh kemalangan atau tragedi dan berubah menjadi orang yang rendah hati, lebih mengasihi, apakah ia telah dijahati atau disembuhkan? Mungkin pikiran kita terlalu sempit, hanya memikirkan kesembuhan dari segi fisiknya saja.

Kepenuhan dan kesembuhan dapat ditemukan dalam kematian seperti juga dalam kehidupan dan ini tidak sulit untuk diterima dalam kasus orang yang sudah tua yang telah menjalani hidup yang penuh dan telah siap untuk pergi. Tetapi ini juga merupakan pemikiran yang logis berapa pun usia kita. Ketika Zach, seorang anak muda, terserang penyakit kanker yang membahayakan, umat dalam kongregasinya berdoa kepada Tuhan semoga ia disembuhkan dan kesehatannya dipulihkan kembali. Zach mendapat pengobatan kelas satu di rumah sakit universitas setempat, dan selama beberapa bulan ia menolak penyakitnya dan bersandar pada kepercayaan para pendukungnya. Di satu titik ia bahkan diberitahu bahwa ia sudah sembuh. Setelah itu, kira-kira sebulan kemudian, kondisinya tiba-tiba menurun. Hanya dalam waktu beberapa minggu ia pergi untuk selamanya.

Berbicara dengan Zach dan keluarganya tidak lama sebelum kematiannya, saya merasa bahwa Gereja mereka terus menerus berdoa untuk kesembuhannya, meskipun mereka tulus, tetapi ini tidak dengan sendirinya mengurangi pencobaan berat yang mereka rasakan – dan ini kadang-kadang membuat keadaan semakin sulit. Misalnya, bagaimana mereka seharusnya bersikap ketika seorang teman yang berniat baik mendesak agar Zach jangan menyerah, ketika perasaan mereka mengatakan bahwa yang terjadi sebenarnya adalah yang sebaliknya? Haruskah mereka terus berpura-pura – “percaya dalam Tuhan” dan berpura-pura untuk percaya pada apa yang mereka sebenarnya tidak percaya? Tidak tahu apa yang harus saya katakan, saya mengatakan sesuatu seperti, “Well, Zach, apakah engkau siap untuk menerima apa pun yang akan terjadi – tidak hanya siap untuk disembuhkan secara fisik tetapi juga siap untuk meninggal?” Tujuan saya adalah menyadarkan dia bahwa semua pertanyaan mengenai kesembuhan atau disembuhkan tidak berarti lagi baginya. Penyakit kankernya sudah menyebar sehingga waktu yang tersisa tidak lebih dari satu atau dua minggu. Tidak ada waktu untuk mengalihkan pikiran dan perhatian.

Setelah sebuah pergumulan yang intens, Zach memutuskan bahwa apa yang benar-benar penting baginya adalah menghadapi kenyataan bahwa ia sedang menghadapi ajal, dan dengan jujur dan tanpa syarat menerima kehendak Tuhan bagi dirnya, apa pun itu. Beberapa hari kemudian, kondisinya terus memburuk, tetapi ia tidak mempermasalahkannya lagi. Ia sedang menanti ajalnya: tidak dapat dibantah lagi. Tetapi ia juga – paradoks kedengarannya – mengalami penyembuhan yang selama ini ia kesampingkan.

Zach diubah dari dalam. Ia menjadi orang yang tidak terlalu egois, lebih banyak berhubungan dengan orang lain; menjadi orang yang bijaksana dan lembut. Yang lebih luar biasa lagi, ia mulai merenungkan jiwa yang polos seperti yang dikatakan Yesus yang harus dimiliki oleh setiap orang untuk masuk ke kerajaan Allah.

Transformasi yang dialami oleh Zach tidak datang dengan mudah atau tanpa bayaran. Kesembuhan jiwa yang ia dapatkan tidak membuat perpisahan menjadi lebih mudah. Bagi ibunya khususnya, ini masih merupakan hal yang sangat berat yang tidak dapat diucapkan dengan kata-kata: “Ketika engkau kehilangan seseorang yang dekat denganmu, terutama ketika engkau berada bersamanya ketika ia pergi untuk selamanya, rasa sakit dan terkejut tidak dapat digambarkan dengan kata-kata. Saya tidak tahu bagaimana kita dapat melalui semua ini.” Meskipun demikian, ia sependapat dengan suaminya yang berkata, “Kematian Zach bukanlah suatu kekalahan. Benar penyakit kankernya tidak berhasil disembuhkan. Tetapi ia menemukan kedamaian di dalam hati, dan dalam pemahaman itu ia sudah disembuhkan.”

Di balik kesedihan itu, orangtua Zach juga mendapat kesembuhan serupa. Seperti yang dikatakan oleh ayahnya setelah kematiannya, “Hidup masih tetap sama ada naik turunnya. Satu hari kita jatuh; di hari lain kita baik-baik saja. Tetapi berada bersama dengan anak lelaki kami di saat-saat akhir hidupnya mengubah hidup kami. Kami akhirnya melihat bahwa kematian bukan merupakan sesuatu yang menakutkan. Kematian mungkin merupakan musuh terakhir, tetapi bukan merupakan akhir dari sebuah kisah.”

Be Not Afraid, Overcoming The Fear of Death – Penerbit DIOMA Malang


Leave a response

You must be logged in to post a comment.

Categories