Turnaround adalah dambaan setiap pimpinan perusahaan yang perusahaannya sedang merugi. Para pimpinan perusahaan sering tergoda untuk mencari satu sumber kerugian, lalu berusaha menemukan satu faktor yang dapat membawa perusahaannya keluar dari belitan kerugian. Godaan untuk menemukan satu kunci ataupun tombol ajaib memang jamak dialami.
Namun pertanyaannya, apakah kunci ajaib atau tombol ajaib untuk turnaround benar-benar ada? Apakah ada faktor tunggal yang – apabila bisa diatasi – akan menyebabkan terhapusnya kerugian dan terciptanya keuntungan? Kalau memang faktor tunggal itu ada, pasti proses turnaround akan lebih mudah dilakukan, karena manajemen tinggal mengarahkan semua daya upaya untuk mengatasi satu faktor tersebut.
Pada tulisan sebelumnya telah diceritakan adanya satu perusahaan yang sejak masa krisis moneter mengalami kerugian hingga tahun 2004. Pada tahun 2005, perusahaan itu berhasil melakukan turnaround setelah mengadakan margin mix analysis. Begitu berhasil mengetahui produk-produk mana saja yang menjadi penyumbang profit terbesar, manajemen perusahaan melakukan berbagai upaya untuk meningkatkan penjualan produk-produk tersebut guna meningkatkan laba. Produk-produk dengan gross profit di bawah standar dieliminasi, sedangkan produk-produk yang gross-profit-nya pas-pasan dipertahankan, sekadar untuk menyerap biaya tetap manufaktur atau manufacturing fixed overhead.
Namun dalam tulisan tersebut dijelaskan juga bahwa langkah semacam di atas bukan satu-satunya faktor penyebab suksesnya turnaround. Manajemen melakukan perbaikan menyeluruh. Pembenahan organisasi dilaksanakan. Dibentuk divisi penjualan baru khusus untuk sektor swasta yang banyak menyerap produk-produk dengan gross profit tinggi. Pelatihan-pelatihan dilakukan. Peningkatan efisiensi pada bagian produksi ditingkatkan secara terus-menerus. Scrap dan waste, yakni bahan baku yang terbuang akibat tidak sempurnanya proses produksi, dimonitor dan terus diturunkan. Biaya pokok produksi ditekan tanpa mengorbankan mutu. Penghematan di berbagai sektor dilakukan. Sistem Balanced ScoreCard ditetapkan. Dan masih banyak lagi langkah positif diambil.
Apakah proses turnaround perusahaan tadi sudah selesai? Sesungguhnya proses turnaround adalah sebuah proses berkesinambungan, yang terus-menerus. Kalau proses dihentikan, tidak mustahil posisi perusahaan akan kembali merugi. Oleh karenanya, turnaround selalu dikaitkan dengan istilah proses, bukan program. Karena proses bersifat terus-menerus, sedangkan program ada titik awal dan titik akhirnya.
Setelah berhasil menciptakan profit, perusahaan yang memiliki pimpinan berwawasan luas ini masih menghadapi berbagai tantangan. ROS (return on sales), yakni perbandingan antara laba dan penjualan masih rendah. Account receivables, yakni pembayaran dari pelanggan masih jauh lebih panjang jangka waktunya dibanding dengan jangka waktu account payables, pembayaran kepada para pemasok. Akibatnya, cash flow (arus kas) tersendat. Utang masih relatif besar sehingga harus dilakukan restrukturisasi, dan masih banyak tantangan lainnya.
Sesungguhnya, kunci ajaib atau tombol ajaib untuk turnaround itu tidak ada. Kita harus melakukan tinjuan menyeluruh dan mengambil langkah-langkah terintegrasi. Kita harus melihat tingkat penjualan, strategi pemasaran, pricing atau strategi penetapan harga jual, sumber daya manusia, proses produksi, inventory management, cash flow management, dan sebagainya.
Namun demikian, seyogyanya kita berpedoman pada konsep Stephen Covey dalam bukunya yang berjudul Seven Habits of HighlyEffective People, yang antara lain menekankan first things first, artinya membuat skala prioritas dengan tepat.
Kiatnya adalah: Concentrate on the big rocks! Konsentrasikan pada batu karang yang besar, pusatkan daya upaya untuk mengalahkan tantangan yang berdampak besar pada profitability, pada keuntungan perusahaan. Setelah batu karang besar itu dikalahkan, baru yang lain ditangani.
Apabila Anda pimpinan perusahaan, dan Anda ingin melakukan turnaround, jangan percaya pada kunci ajaib atau tombol ajaib. Lakukan tinjauan secara menyeluruh. Cermati faktor-faktor yang berperan besar. Rumuskan skala prioritas. Pusatkan perhatian untuk mengatasi tantangan yang paling dominan. Setelah itu, lanjutkan dengan menyelesaikan tantangan-tantangan lain. Dengan demikian besar kemungkinan Anda akan memiliki peluang menghentikan penurunan kinerja perusahaan dan meningkatkan laba yang pada gilirannya akan menghasilkan turnaround, membalikkan posisi perusahaan dari loss menjadi profit, dari rugi menjadi laba.
Saya yakin Anda bisa.
Saya pernah melakukannya!
Thinking Out of The Bok for Profit – Nur Kuntjoro, QAC Publishing