Posted by: retarigan | February 23, 2009

Belajar Menjadi Manusia

brain-competenceSeorang lelaki ditangkap oleh suku kanibal. Ia dibawa ke hadapan kepala suku lebih dulu sebelum dibakar hidup-hidup. Namun betapa terkejutnya lelaki ini ketika ia mendengar sang kepala suku berbicara dengan aksen Harvard yang sempurna.

“Apakah pengalaman bertahun-tahun di Harvard itu tidak mengubahmu?” tanya si lelaki kepada kepala suku itu.

“Tentu saja,” jawab si kepala suku. Semua pengalaman itu telah membuat saya menjadi jauh lebih beradab. Setelah kamu dipanggang, saya akan mengenakan pakaian resmi saya, lalu saya akan memakan kamu dengan pisau dan garpu.”

Pembaca yang budiman, ada kata-kata menarik dari Charles Kingsley yang begitu penting hingga saya menuliskannya di halaman terdepan buku saya Life is Beautiful, “Kita sudah belajar terbang di udara seperti burung, kita sudah belajar berenang di dasar laut seperti ikan, sekarang yang harus kita pelajari adalah berjalan di dunia sebagai manusia. Ini adalah proses di mana kita belajar mencintai hidup dengan hati yang tulus. Belajar menjadi lebih manusiawi dari waktu ke waktu.”

Apa yang dikatakan Kingsley menyiratkan pertanyaan penting bagi kita, “Apakah saat ini kita belum menjadi manusia yang sesungguhnya?”

Pertanyaan tersebut akan terjawab bila kita mengamati sejarah peradaban dan kemanusiaan kita. Di satu pihak intelektualitas kita telah mengalami perkembangan yang luar biasa pesat. Teknologi sedang dan akan terus berkembang di berbagai bidang menjadi secanggih-canggihnya. Namun di lain pihak kita masih terbelakang dan sangat miskin dalam spiritualitas. Bukankah kemajuan teknologi yang luar biasa dahsyatnya itu seolah-olah tidak punya pengaruh sama sekali pada masalah kemanusiaan yang sehari-hari kita hadapi? Bukankah kemiskinan, peperangan, pembunuhan, pembantaian, korupsi perusakan lingkungan hidup, perselingkuhan, fitnah-memfitnah merupakan “menu utama” kita sehari-hari?

Jadi, walaupun teknologi sudah mencapai puncaknya di abad ke-21 ini, dari sisi kemanusiaan kita masih sangat terbelakang. Kita masih berada di masa jahiliyah, atau bahkan di era kanibalisme. Bukankah masalah kemanusiaan kita masih yang itu-itu saja? Kita masih mengalami kebangkrutan spiritual yang luar biasa.

Pembantaian massal di Jalur Gaza Palestina adalah sebuah contoh yang amat telanjang dan terang benderang mengenai keterbelakangan dan keprimitifan kita sebagai manusia. Bagaimana di zaman modern seperti sekarang ini terjadi pembantaian massal secara sangat biadab bahkan dengan peralatan perang supermodern, sementara seluruh dunia menyaksikan jatuhnya korban setiap hari seakan-akan sedang menonton pertandingan sepak bola yang mencemaskan sekaligus menggairahkan karena memancing rasa ingin tahu?

Atau tak usahlah jauh-jauh. Mari kita lihat apa yang terjadi di negara kita. Bagaimana perilaku serang-menyerang antara elite politik kita menjelang Pemilu 2009? Bagaimana perilaku para wakil rakyat kita? Bagaimana perilaku para pelaku bisnis kita? Semuanya menunjukkan bahwa penyakit yang kita derita sama sekali tidak beranjak dari penyakit yang diderita manusia berabad-abad silam bahkan ketika manusia pertama kali diciptakan. Saya sering menyebutnya sebagai penyakit AIDS: Arogan, Iri, Dengki, dan Serakah.

Arogan adalah penyakit iblis yang menolak ketika diminta menghormati Adam. Ia merasa lebih hebat, lebih tinggi, lebih mulia. Apakah Anda melihat penyakit ini pada para elite kita? Pada diri Anda sendiri? Iri adalah penyakit Qabil yang tidak senang hatinya melihat keberuntungan yang didapat orang lain. Dengki adalah iri yang dimanifestasikan dalam bentuk tidakan yang menyerang orang lain. Inilah yang dilakukan Qabil ketika ia membunuh adiknya Habil. Sementara serakah adalah penyakit Adam yang walaupun sudah memiliki segalanya masih juga tidak puas dan ingin mengambil yang bukan haknya.

Cobalah Anda perhatikan, bukankah semua penyakit sejak zaman prasejarah tersebut tidak berubah bahkan semakin lama semakin menguat di dalam diri kita? Bukankah kehidupan politik dan bisnis kita saat ini didominasi oleh kesombongan, keserakahan, iri dan dengki? Bahkan bukankah keempat penyakit ini senantiasa bersarang di dalam diri kita masing-masing?

Menjadi manusia yang sesungguhnya adalah melakukan revolusi spiritual. Sebuah revolusi sekali untuk selamanya, sebuah komitmen untuk menjadikan diri kita lebih beradab. Dan keberadaban itu didasarkan pada satu kata kunci: cinta.

Namun cinta sering disalahpahami dengan cinta berahi yang senantiasa mengharapkan balasan. Cinta berahi adalah cinta berpamrih, dan bukan cinta seperti inilah yang ingin kita tumbuhkan. Cinta yang terpenting adalah ketika kita mengasihi orang lain sebagaimana mengasihi diri sendiri. Sebuah cinta sepihak yang tanpa syarat. Sebuah cinta yang bersumber dari Tuhan Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang.

Cinta juga sering disalahtafsirkan dengan keinginan untuk dicintai, disayangi, disukai, dihormati. Lihat saja buku-buku dan pelatihan yang banyak beredar. Bukankah mereka menjanjikan teknik dan tip agar Anda lebih disukai, dicintai, disayangi? Mereka salah besar. Masalah di dunia ini bukanlah pada “di” melainkan “me”: bagaimana agar kita menyayangi, mengasihi, menghormati, menyukai orang lain.

Hanya dengan cara inilah kita dapat membangun budaya yang lebih beradab. Hanya dengan meningkatkan kasih kita akan mencapai kemajuan tercanggih menuju puncak spiritualitas kita. Dan ketika telah sampai di puncak, kita akan merasa menyatu dengan semua manusia bahkan dengan alam semesta. Kita akan merasa menjadi bagian dari satu kesatuan besar yang tak terpisahkan. Sampai di sini, perbedaan yang ada akan terasa kecil dan sungguh tidak berarti. Bila Anda sudah menghayati tahapan ini, saya yakin Anda sudah jauh lebih dekat kepada asal kita semua: Tuhan Yang Maha Satu.

Arvan Pradiansyah

Penulis buku best seller The 7 Laws of Happiness


Leave a response

You must be logged in to post a comment.

Categories