Terhenyuk rasanya melihat keadaan saudara-saudara-ku di Situ Gintung. Walaupun aku tidak ada saudara kandung di sana, namun aku tetap merasakan kepedihan mereka. Mereka tidak hanya kehilangan tempat berteduh dan mata pencaharian. Tetapi mereka juga kehilangan sanak saudara.
Bila merunut ke belakang, tempat mereka jauh lebih aman daripada orang yang tinggal di tepi laut. Sulit dibayangkan bila Tsunami di NAD dapat terjadi secara mini di tengah daratan (sekitar bendungan). Namun pada akhirnya, jauh dari laut tidaklah lebih aman daripada tinggal di bibir laut. Nyatanya, jebolnya Situ Gintung menjadi Tsunami mini bagi yang tinggal di sekitarnya.
Terlepas dari perdebatan siapa yang salah? Mengapa hal itu terjadi? … Aku hanya memperhatikan bahwa alam adil kepada manusia. Dia tidak membedakan seorang yang berpangkat tinggi atau tidak berpangkat sama sekali. Alam tidak membedakan antara orang yang memiliki 3 mobil parkir di depan rumah dengan orang yang hanya memiliki gubuk reot seadanya. Alam tidak membedakan antara anak kecil atau orang dewasa. Semua sama di-’mata’-nya.
Ketika tanggul jebol, air yang ‘tumpah’ menendang semua yang dilewatinya. Semua, kecuali rumah Tuhan (Masjid) yang masih tetap kokoh berdiri.
Bila kita sadar, merenung sejenak, dan sempat bertanya … apalah aku ini dihadapan alam (sang pencipta)? Tidak ada yang aku miliki selain keyakinan bahwa yang aku miliki hanya titipan. Namun sebagian orang tetap dengan kecongkakannya, masih dengan kesombongannya. ‘Aku tinggal di tempat yang aman koq … ‘, ‘Aku memiliki segalanya.’ ‘Biarkan orang lain dengan keberadaannya…’
Dari yang aku cermati dari kejadian tersebut, sebagian orang kehilangan segalanya, namun ada juga yang hanya meratapi mobilnya yang kerendam lumpur.
Yang kaya tidak kehilangan nyawa, tetapi mereka kehilangan hati. Mengapa aku ber-opini demikian? Karena mereka lebih peduli pada harta bendanya, tetapi tidak pada sesamanya.
Yang miskin boleh kehilangan segalanya, tetapi yang tetap mereka harus pertahankan adalah semangat untuk terus hidup dan melanjutkan kehidupan. Tanpa harta, namun bila masih memiliki hati maka tetap kaya di hadapan sang Pencipta.
Saudara-ku … tidak ada yang perlu diratapi. Walaupun hati yang pedih tidak serta merta dapat dihilangkan … Namun sang Pencipta sudah mempersiapkan yang terbaik bagi umat-Nya. Sesungguhnya tidak ada malapetaka. Sadar atau tidak, segala sesuatu yang terjadi adalah berkat dari-Nya.
Sesungguhnya alam (Pencipta) itu adil. Dia tidak membedakan siapa pun dan apa pun. Hanya terkadang mata kita yang selalu menciptakan atau melihat perbedaan. Ada yang berhasil dan ada yang tidak berhasil. Ada yang mendapat dan ada yang tidak mendapat. Ada yang memiliki dan ada yang tidak memiliki.
Tapi yang pasti, kita tidak memiliki. Kita HANYA DIMILIKI.
Manusia hanya dapat berusaha untuk adil, namun alam (sang Pencipta) sungguh maha ADIL.
Kiranya dengan kejadian ‘kecil’ tersebut, kita semakin yakin bahwa kita bukan siapa-siapa di hadapan alam. Kita harus sadar, bahwa kejadian tersebut mengingatkan kita agar kita dapat menjaga keseimbangan di sekitar kita.
1 April 2009