<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Riswan E. Tarigan, Thinker &#38; Motivator &#187; Others Opinion</title>
	<atom:link href="http://huxleyi.wordpress.com/category/others-opinion/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://huxleyi.wordpress.com</link>
	<description>Just a Lowly Brother Person</description>
	<lastBuildDate>Tue, 01 Dec 2009 07:50:19 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<cloud domain='huxleyi.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://www.gravatar.com/blavatar/63608fb3b0fbd684208e87f49168deca?s=96&#038;d=http://s.wordpress.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>Riswan E. Tarigan, Thinker &#38; Motivator &#187; Others Opinion</title>
		<link>http://huxleyi.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://huxleyi.wordpress.com/osd.xml" title="Riswan E. Tarigan, Thinker &amp; Motivator" />
		<item>
		<title>Pasar Professional TI</title>
		<link>http://huxleyi.wordpress.com/2009/04/17/pasar-professional-ti/</link>
		<comments>http://huxleyi.wordpress.com/2009/04/17/pasar-professional-ti/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 17 Apr 2009 13:55:25 +0000</pubDate>
		<dc:creator>retarigan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Others Opinion]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://huxleyi.wordpress.com/?p=1854</guid>
		<description><![CDATA[
Pada tahun 2010 diperkirakan pasar kerja para spesialis TI akan berkurang hingga 40 persen. Kebutuhannya lebih ditujukan pada para versatilist, yang mampu mengombinasikan kompetensi dan pengalaman bisnis dengan kompetensi TI.
Meningkatnya kebutuhan untuk memperoleh performansi yang jauh lebih baik dari infrastruktur dan aplikasi TI ke depan, terutama sejalan dengan meningkatnya persaingan di lingkungan bisnis, semakin mendorong [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=huxleyi.wordpress.com&blog=4905801&post=1854&subd=huxleyi&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><!--[if !mso]&gt;--></p>
<p class="MsoBodyText2"><span style="font-size:9.5pt;"><img class="alignleft size-thumbnail wp-image-1857" title="wisuda" src="http://huxleyi.files.wordpress.com/2009/04/wisuda.jpg?w=68&#038;h=96" alt="wisuda" width="68" height="96" />Pada tahun 2010 diperkirakan pasar kerja para spesialis TI akan berkurang hingga 40 persen. Kebutuhannya lebih ditujukan pada para versatilist, yang mampu mengombinasikan kompetensi dan pengalaman bisnis dengan kompetensi TI.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:6pt;text-align:justify;"><span style="font-size:9.5pt;font-family:Georgia;">Meningkatnya kebutuhan untuk memperoleh performansi yang jauh lebih baik dari infrastruktur dan aplikasi TI ke depan, terutama sejalan dengan meningkatnya persaingan di lingkungan bisnis, semakin mendorong dibutuhkannya profesional TI yang lebih memahami banyak aspek.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:6pt;text-align:justify;"><span style="font-size:9.5pt;font-family:Georgia;">Dalam istilah Gartner, dibutuhkan para IT &#8220;versatilists,&#8221; yakni orang-orang yang memiliki pengalaman, peran dan pernah menjalan tugas-tugas yang beragam atau multidisplin, yang semua itu akan menciptakan suatu pengetahuan, kompetensi dan keterkaitan (<em>context</em>) yang kaya dan padu guna mendorong peningkatan nilai bisnis. Dengan kata lain semakin dibutuhkan profesional TI yang lebih fleksibel, bukan sangat spesialis, karena tuntutannya memang jauh lebih beragam dan juga fleksibel. Kalau spesialis itu umumnya memiliki ketrampilan yang dalam tetapi cakupan yang sempit, yang hanya memberikan pengalaman yang hanya dikenal dalam lingkungannya saja, maka Versatilists justru sebaliknya. Yakni mereka yang juga memiliki ketrampilan yang dalam tetapi terkait dengan cakupan situasi dan pengalaman yang luas, sehingga memberikan suatu kompetensi baru, membangun hubungan yang lebih luas dan juga peran-peran baru. Tapi, versatilist juga bukan seorang generalis.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:6pt;text-align:justify;"><span style="font-size:9.5pt;font-family:Georgia;">Diane Morello, research vice president Gartner, mengungkapkan bahwa saat ini para spesialis TI harus lebih fokus pada pergeseran yang lebih cepat dan sepenuh hati dari spesialisasi teknis ke kompetensi bisnis, sehingga mereka bisa lebih memosisikan diri sebagai kontributor bisnis di masa datang. Karena, nilai jangka panjang para spesialis TI masa kini akan ditentukan oleh pemahaman dan pendekatan mereka terhadap situasi, proses dan pola pembelian yang sesuai dengan karakter berbagai proses industri vertikal maupun lintas-industri. Menjadi spesialis dalam satu teknologi tertentu, seperti Linux, Windows atau administrasi database, tak lagi memadai untuk memenuhi kebutuhan posisi pekerja TI ke depan. “Jika Anda hanya mempertahankan spesialisasi, baik teknikal maupun kekhususan tertentu, tanpa meningkatkan kaliber Anda, hal itu tak lagi mencukupi. Perusahaan-perusahaan masa datang membutuhkan orang-orang yang lebih berwawasan, yang bekerjasama dengan orang-orang di luar bidang TI, atau para &#8216;versatilists&#8217;, yang siap melakukan pekerjaannya dengan wawasan dan kompetensi yang lebih luas,” ujar Diane Morello menambahkan. Karenanya, ujar Morello lagi, bahwa tahun 2010 mendatang jumlah spesialis TI akan berkurang hingga 40 persen. Meningkatnya pengalihdayaan (<em>outsourcing</em>), baik infrastruktur maupun layanan TI, ditambah dengan semakin luasnya otomatisasi pekerjaan-pekerjaan TI, merupakan salah satu yang mendorong dibutuhkannya profesional TI yang lebih fleksibel. Terutama, yang memiliki kemampuan dalam membangun hubungan dan keterlibatannya dengan pihak-pihak di luar cakupan pekerjaannya, termasuk pelanggan, sehingga mereka mampu menunjukkan kontribusi dan partisipasi nyata dalam meningkatkan capaian-capaian bisnis. Secara rinci, perubahan itu terutama, menurut Gartner, dipengaruhi oleh empat faktor pengubah utama, yakni Pertama, <em>Global sourcing</em>, dimana semakin banyak perusahaan yang mencari nilai kompetitif yang lebih tinggi dan didukung oleh meluasnya jaringan global kecepatan tinggi. Kedua, otomatisasi TI, yang mendorong perubahan itu terutama karena pengembangan peranti lunak yang semakin luas, termasuk pengembangan sistem pemantauan jarak jauh, pusat-pusat operasi <em>(operation centers)</em>, dukungan teknis, <em>storage</em> dan <em>networking</em>. Ketiga, konsumerisasi TI melalui berbagai teknologi, seperti perangkat personal, layanan online, telepon bergerak dan sebagainya, yang membuatnya lebih mudah digunakan, dan mengatasi sistem-sistem atau aplikasi yang rumit. Keempat, restrukturisasi bisnis, seperti merger, akuisisi, konsolidasi, alihdaya, pemutusan hubungan kerja, dan sebagainya, yang semuanya menantang posisi para professional TI dan menurunkan komitmen mereka.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:6pt;text-align:justify;"><span style="font-size:9.5pt;font-family:Georgia;">Para pekerja TI masa datang tidak hanya berkutat dengan proyek-proyek teknis saja, melainkan juga bisnis. Orang-orang TI yang dibutuhkan tidak saja yang memahami bahwa teknologi mendukung bisnis, teknologi dapat membantu dalam pengambilan keputusan bagi peningkatan performansi bisnis, melainkan yang juga memiliki pengalaman bisnis dan latar belakang teknologi, dan mampu mengombinasikan di antara keduanya. Yakni yang mampu mendekati peran TI dari konteks orang bisnis, yang siap meningkatkan berbagai proses bisnis perusahaan, dan tak hanya fokus pada teknologi saja. Yang bisa berbicara dalam bahasa bisnis, seperti biaya, pendapatan yang masuk (<em>incoming revenue</em>), pangsa pasar, profitabilitas, pengembangan produk, respon kompetitif dan pertumbuhan perusahaan, baik dalam konteks global, komersial maupun profesional.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:6pt;text-align:justify;"><span style="font-size:9.5pt;font-family:Georgia;">Sebagai contoh, saat ini tak kurang dari 80 persen professional TI di Amerika Serikat bekerja di perusahaan-perusahaan yang menerapkan TI, bukan di perusahaan-perusahaan yang menciptakan hardware, software atau service . Karenanya, wajarlah kalau para professional TI semakin dituntut untuk menyampaikan konsep-konsep teknologi dalam bahasa yang dimengerti oleh banyak orang yang berada di lingkungan bisnis.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:6pt;text-align:justify;"><span style="font-size:9.5pt;font-family:Georgia;">Dengan begitu, mereka-mereka yang bisa melakukan hal itu, ditambah kemampuannya dalam memahami konteks dan implikasi TI terhadap bisnis akan menjadi pemenang dalam permainan itu. Kalau tahun-tahun sebelumnya menjadi era para spesialis, maka ke depan akan berubah menjadi eranya para versatilist.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:6pt;text-align:justify;"><em>Artikel dari seorang sahabat di FB</em></p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/huxleyi.wordpress.com/1854/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/huxleyi.wordpress.com/1854/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/huxleyi.wordpress.com/1854/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/huxleyi.wordpress.com/1854/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/huxleyi.wordpress.com/1854/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/huxleyi.wordpress.com/1854/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/huxleyi.wordpress.com/1854/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/huxleyi.wordpress.com/1854/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/huxleyi.wordpress.com/1854/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/huxleyi.wordpress.com/1854/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=huxleyi.wordpress.com&blog=4905801&post=1854&subd=huxleyi&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://huxleyi.wordpress.com/2009/04/17/pasar-professional-ti/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/a015bc6e5a3945c0cf4e20624fff7843?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">retarigan</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://huxleyi.files.wordpress.com/2009/04/wisuda.jpg?w=68" medium="image">
			<media:title type="html">wisuda</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>TRANSFORMASI DI SARANG MATA-MATA</title>
		<link>http://huxleyi.wordpress.com/2009/04/17/transformasi-di-sarang-mata-mata/</link>
		<comments>http://huxleyi.wordpress.com/2009/04/17/transformasi-di-sarang-mata-mata/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 17 Apr 2009 13:41:46 +0000</pubDate>
		<dc:creator>retarigan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Others Opinion]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://huxleyi.wordpress.com/2009/04/17/transformasi-di-sarang-mata-mata/</guid>
		<description><![CDATA[

Joko Sugiarso
Riset : Rohmat Purnadi
SWA 04/XXV/19 Februari – 4 Maret 2009
 
Usainya Perang Dingin membuat CIA kehilangan orientasi. Dan, terjadinya Peristiwa 9/11 membukakan mata para pembesar di AS bahwa lembaga intelijen ternama ini telah kehilangan reputasinya. Maka, pembenahan besar-besaran di bidang TI pun digelar.
 





N




ama Central Intelligence Agency (CIA) di panggung politik dunia selama puluhan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=huxleyi.wordpress.com&blog=4905801&post=1851&subd=huxleyi&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p style="text-align:justify;"><!--[if !mso]&gt;--></p>
<div class="Section1">
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><span style="font-size:10pt;">Joko Sugiarso</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><span style="font-size:10pt;">Riset : Rohmat Purnadi</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><span style="font-size:10pt;">SWA 04/XXV/19 Februari – 4 Maret 2009</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><span style="font-size:10pt;"><!--[if !supportEmptyParas]--> <!--[endif]--></span></p>
<p class="MsoBodyText" style="text-align:justify;">Usainya Perang Dingin membuat CIA kehilangan orientasi. Dan, terjadinya Peristiwa 9/11 membukakan mata para pembesar di AS bahwa lembaga intelijen ternama ini telah kehilangan reputasinya. Maka, pembenahan besar-besaran di bidang TI pun digelar.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><!--[if !supportEmptyParas]--> <!--[endif]--></p>
</div>
<table border="0" cellspacing="0" cellpadding="0" align="left">
<tbody>
<tr>
<td style="padding:0;" align="left" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:41pt;page-break-after:avoid;vertical-align:baseline;"><span style="font-size:53.5pt;">N</span></p>
</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p style="text-align:justify;">ama Central Intelligence Agency (CIA) di panggung politik dunia selama puluhan tahun begitu tersohor. Apalagi di masa Perang Dingin, yang membagi dunia ke dalam dua blok besar: Blok Barat (kapitalisme) dan Blok Timur (komunisme). Ini berkat aksi-aksinya, yang demi kepentingan keamanan nasional Amerika Serikat, negara pemiliknya, berani mencampuri dan menyusupi panggung politik sebuah negara &#8212; terutama dengan kegiatan spionasenya (<em>clandestine operation</em>) &#8212; yang dinilai berpengaruh terhadap keamanan internal mereka. Tak terkecuali terhadap Indonesia. Di zaman Bung Karno berkuasa, dikabarkan CIA menyusupkan seorang mata-matanya sebagai penari Istana. Bahkan, belum lama sempat ada isu menghebohkan, bahwa mendiang Adam Malik, mantan Menlu dan Wakil Presiden RI, juga pernah menjadi agen CIA.</p>
<div class="Section2">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:18.7pt;">Terlepas dari benar-tidaknya, isu-isu tersebut memperlihatkan bagaimana hebatnya sepak terjang lembaga intelijen AS yang dibentuk pada 1947 ini. Maklum, kala itu Uni Soviet sebagai pengusung panji-panji komunisme yang dilengkapi lembaga intelijen tandingan bernama KGB, merupakan lawan tanding yang cukup sepadan. Namun, terpecahnya Uni Soviet (setelah diluncurkannya program <em>Glasnost </em>dan <em>Perestroika </em>oleh Mikhael Gorbachev) dan runtuhnya Tembok Berlin, yang menandai rontoknya komunisme secara formal, memberikan kenyataan baru pada CIA bahwa lawan mereka tak ada lagi di sana. Pasalnya, Perang Dingin dianggap usai, ditandai kesediaan negara-negara eks Blok Timur untuk lebih membuka diri terhadap dunia. CIA seperti kehilangan orientasi. Apalagi, bujet operasional mereka &#8212; termasuk untuk sistem pendukung seperti teknologi informasi (TI) dikurangi. Sedikit demi sedikit, dan pelan tapi pasti, peran CIA pun tak lagi menonjol. Sampai tiba-tiba pada 11 September 2001, sekelompok teroris menyerang Negeri Abang Sam itu dengan menggunakan dua pesawat penumpang besar yang ditubrukkan ke menara kembar World Trade Center di pusat Kota New York. Dunia pun gempar, AS terhenyak, dan reputasi CIA tiba-tiba ikut rontok. Pasalnya, sebagai lembaga intelijen utama, CIA dianggap gagal membaca dan mengantisipasi serangan teroris tersebut.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:18.7pt;">Setelah kejadian yang dikenal sebagai Peristiwa <em>Nine-Eleven </em>(9/11) itu, strategi dan prioritas kebijakan Pemerintahan AS di bawah George W. Bush pun berubah drastis. Tak terkecuali dalam bidang intelijen. Demi mengantisipasi ancaman terorisme global, dan boleh jadi karena kecewa dengan kinerja CIA, pada 17 Desember 2004 Pemerintahan George W. Bush, dengan persetujuan parlemen, meluncurkan undang-undang baru, yakni <em>Intelligence Reformed Terrorism Prevention Act. </em>Kehadiran UU ini merestrukturisasi komunitas intelijen AS. Salah satunya dengan pembentukan Office of the Directorate of National Intelligence (yang kondang disebut DNI saja). Tugas lembaga ini adalah mengawasi 16 lembaga intelijen milik Pemerintah AS, antara lain CIA, Federal Bureau of Investigation (FBI), National Security Agency, Pentagon’s Defense Intelligence Agency dan National Geospatial Intelligence Agency. Dengan demikian, Direktur DNI dianggap sebagai bos intelijen paling top di AS.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:18.7pt;">Sebelum pembentukan DNI pada Desember 2004 itu, meskipun sudah ada beberapa lembaga intelijen lainnya, CIA secara <em>de facto </em>merupakan lembaga intelijen AS paling top. Buktinya, Kepala CIA-lah yang secara rutin memberikan <em>briefing </em>harian masalah dan isu-isu seputar intelijen kepada Presiden AS. Nah, setelah berdirinya DNI, CIA dianggap salah satu dari 16 lembaga intelijen pemerintah AS yang harus melaporkan pekerjaannya kepada DNI. Itulah mengapa ketika DNI akan dibentuk, yang paling <em>ngotot </em>memberikan penolakan adalah para petinggi dan pejabat senior CIA. Namun, tetap saja, keputusan seorang Presiden AS tak bisa dimentahkan hanya oleh salah satu lembaga intelijen pemerintah.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:18.7pt;">Yang jelas, sejalan dengan perubahan prioritas kebijakan keamanan AS, lembaga-lembaga intelijen AS pun harus ikut berubah. Buat CIA, transformasi juga penting dilakukan untuk membangun kembali reputasinya yang sempat hancur. Paling tidak, meski di bawah koordinasi DNI, CIA kembali bisa menjadi lembaga intelijen yang secara operasional paling terpandang dan bisa diandalkan. Salah satu aspek penting yang hendak ditransformasi tak lain sistem TI-nya yang dianggap tak memadai lagi.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:18.7pt;">Beban transformasi ini ada di pundah Al Tarasiuk, yang ditunjuk sebagai <em>Chief Information Officer </em>(CIO) lembaga intelijen ini pada Oktober 2005 oleh kepala CIA saat itu, Porter Goss. Yang dipikirkannya bukan Cuma urusan teknologi, tapi juga bagaimana menjalankan misi baru lembaga. Tak mengherankan, di mejanya tampak berbagai dokumen seperti <em>9/11 Commission Report, The Intelligence Reform and Terrorism Prevention Act 2004, </em>dan <em>The Commission on the Intelligence Capabilities of the United States Regarding Weapons of Mass Destruction.</em></p>
<p class="MsoBodyTextIndent" style="text-align:justify;">Toh, di tahun pertamanya sebagai CIO, Tarasiuk merasa terbelenggu. “Saya punya ide-ide untuk transformasi ketika pertama kali menjabat CIO, namun lingkungannya tidak mendukung saya menjalankan ide-ide tersebut,” kata mantan Manajer Senior Infrastruktur TI lembaga ini mengenang masa-masa sulitnya dulu.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:18.7pt;">Bukan rahasia lagi, selama beberapa tahun, TI tidaklah dipandang sebagai peranti strategis bagi keberhasilan CIA. Para agen mata-mata di lapangan tak merasa perlu dukungan TI, sedangkan para analis di kantor yang mengolah data dari para agen lapangan tadi bersandar pada sistem manajemen data yang sudah kuno. “Teknologi itu ancaman, bukan <em>benefit,” </em>catat seorang periset CIA pada 2002, mengingat “bisnis” CIA yang memang butuh kerahasiaan tinggi.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:18.7pt;">Selama 2001-02, seorang mantan pejabat CIA, Bruce Berkowitz, melakukan studi bagaimana para analis CIA yang bekerja di Directorate of Intelligence (DI) menggunakan TI. Berkowitz menemukan beberapa kekacauan: para analis ternyata tak memiliki kesadaran dan akses yang cukup terhadap jenis layanan TI terbaru yang sebenarnya punya nilai penting terhadap pekerjaan mereka. CIA sendiri tak menekankan kepada para analis tentang pentingnya menggunakan TI secara kreatif. Dan, yang lebih parah, data dari luar jaringan CIA sendiri, yang digunakan dalam misi intelijen, ternyata hanya data sekunder. “Karena dipandang secara potensial berbahaya, teknologi lebih dianggap sebagai hantu ketimbang alat Bantu,” catat Berkowitz setelah menyurvei para analis lembaga ini. Walhasil, Berkowitz menilai, para analis DI jauh lebih kuper di bidang TI terbaru dibandingkan para sejawatnya di lembaga swasta dan pemerintahan. “Secara rata-rata, mereka bisa dibilang ketinggalan lima tahun atau lebih,” katanya terus terang.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:18.7pt;">Wajarlah bila Tarasiuk sempat kepayahan. Kehadiran Michael Hayden sebagai bos baru CIA pada Mei 2006, menggantikan Porter Goss, membawa angin transformasi lebih bertiuap keras. Tanpa <em>tedeng aling-aling, </em>Dirjen baru CIA ini mencantumkan <em>mission statement </em>tegas: “Pangkas birokrasi dan bertindak dengan pendekatan <em>business-like </em>dengan tatapamong TI (<em>IT governance</em>) yang lebih kuat, manajemen proyek yang lebih disiplin, berbagi data yang lebih luas, dan lebih terbuka untuk mencoba teknologi terbaru.” Hayden tampaknya memang tipikal bos yang <em>demanding. </em>“Bos saya ini,” kata Tarasiuk mengenai Hayden, “meminta saya menerapkan pendekatan korporat di bidang TI seluas mungkin.”</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:18.7pt;">Di samping itu, sejalan dengan penegasan misi mengatasi terorisme global, Direktur DNI kala itu, J.M. McConnell, meminta Intelligence Communicty – sebutan untuk unit-unit intelijen AS &#8212; mengubah budaya dan pola pikir “<em>Need to know</em>”<em> </em>menjadi “<em>Responsibility to provide</em>”. Ini berarti perubahan signifikan dari menimbun pengetahuan (<em>knowledge hoarding</em>) menjadi berbagi pengetahuan (<em>knowledge sharing</em>). “Teknologi itu darahnya organisasi ini,” kata Tarasiuk mengungkapkan keyakinannya. “Karena itu, saya berusaha mengeliminasi ‘dinding baja’ yang telah ada selama bertahun-tahun.”</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:18.7pt;">Maka, Tarasiuk pun mulai memperkenalkan wacana dan konsep mutakhir di bidang TI, misalnya soal <em>IT governance, agile development, SOA (Service-Oriented Architecture), </em>teknologi virtualisasi server, dan Web 2.0 – konsep-konsep yang benar-benar dianggap hal baru bagi kebanyakan orang CIA. Tampaknya bukan kebetulan bila kini hampir separuh staf TI di bawah komando Tarasiuk merupakan karyawan yang baru masuk setelah Peristiwa 9/11 dan kebanyakan berusia 30 tahun.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:18.7pt;">Langkah strategis yang dilakukan Tarasiuk adalah membentuk <em>Information Governance Board </em>(IGB), yang diketuainya secara <em>ex-officio </em>sebagai seorang CIO. Anggotanya para pejabat CIA dari berbagai bidang/divisi serta para manajer misi (<em>mission managers</em>). Dewan ini bertemu tiap kuartal, atau sewaktu-waktu jika diperlukan, untuk menentukan keputusan TI strategis bagi CIA. Menurut Tarasiuk, sebenarnya wajar jika Hayden terkesan penuntut, mengingat pengalaman CIA terdahulu. Ia mengungkapkan, Hayden sendiri yang meminta para pejabat dan manajer misi CIA untuk duduk dalam badan IGB. “Dukungan dari <em>top leader </em>memang penting agar dewan ini bisa bekerja efektif,” katanya. Tarasiuk mengamati, umumnya para pejabat CIA ini senang bisa dilibatkan dalam proses pengambilan keputusan TI strategis.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:18.7pt;">Agenda Tarasiuk lainnya adalah membenahi manajemen proyek TI. Ken Westbrook, Kepala Strategi Informasi Bisnis di Divisi DI, mengakui proses manajemen proyek di masa lalu harus melewati banyak pintu kontrol. “Masalahnya, karena begitu birokratis,” ujar Westbrook, “ini cara yang tidak efisien agar sebuah pekerjaan bisa terlaksana.”</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:18.7pt;">Tarasiuk kemudian memperkenalkan metode <em>agile development. </em>Intinya adalah merampingkan proses di pintu kontrol agar bisa memenuhi tenggat. Dengan pendekatan ini, tingkat keberhasilan (<em>success rate</em>) hingga penyerahan aplikasi mencapai 80%. “Ini memang telah merevolusi cara lama,” Westbrook mengakui. Untuk efisiensi sumber daya peranti TI, Tim TI CIA<span> </span>juga menerapkan teknologi virtualisasi pada sekitar 1.000 server lembaga ini.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:18.7pt;">Dari sisi aplikasi, salah satu yang patut dibanggakan adalah meluncurnya sistem bernama Trident, yang telah mengadopsi strategi <em>data layer, </em>yang mengatur siapa punya kebutuhan data dan kejelasan keamanan untuk mengakses data yang dimiliki CIA. Trident sendiri adalah aplikasi riset dan analisis baru untuk para analis CIA (di bagian DI) yang terhubung ke lusinan penyimpanan <em>logical data </em>(Tarasiuk enggan menyebutkan secara spesifik); dilengkapi dengan akses bertingkat dan satu kontrol akses tunggal ke seluruh <em>database.</em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:18.7pt;">Trident diluncurkan resmi pada 2007 dan saat ini mengelola segunung informasi yang mengalir ke pusat <em>database </em>CIA. Dengannya, para analis bisa mengorganisasi dan menyusun laporan intelijen sesuai dengan spesialisasi mereka. Dengan <em>user interface </em>yang mudah dipahami, Trident melengkapi diri dengan pelbagai fitur, seperti <em>search tools, knowledge management &amp; sharing, extraction tools, link </em>untuk analisis, pemetaan dan visualisasi data.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:18.7pt;">Sejalan dengan permintaan bos DNI, “Mike” McConnell, Tarasiuk juga rutin melakukan pertemuan dengan para CIO dari lembaga intelijen<span> </span>lainnya, guna membangun sebuah “<em>connectivity tissue</em>. Yang dipikirkannya adalah bagaimana mengajak orang “mau bermain dan berbagi”. Nah, persembahan Tarasiuk dan timnya buat Intelligence Community ini adalah meluncurkan “produk” yang diberi nama Intellipedia yang berbasis teknologi <em>software </em>Wiki (salah satu <em>software </em>Web 2.0 populer) pada 2006. Dengan sistem Intellipedia yang berbasis Web ini, para analis di 16 organisasi intelijen (Intelligence Community) bisa berbagi informasi tentang topik-topik penting dan berbagi pengetahuan pada keahlian tertentu. Karena diluncurkan buat kalangan komunitas intel, berbeda dari Wikipedia, di Intellipedia tak boleh anonim: setiap orang yang memasuki sistem terdata, karena kontrolnya tetap tinggi.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:18.7pt;">Sistem penting berbasis Web lainnya adalah sistem kolaborasi “akar rumput” buat para ahli intelijen Rusia yang bekerja di beberapa lembaga intelijen AS. Dengan sistem ini, para analis dapat berbagi pandangan, analisis dan informasi menyangkut berita peristiwa terbaru di Rusia.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:18.7pt;">Seorang agen <em>clandestine </em>CIA (yang enggan disebutkan identitasnya karena alasan pekerjaannya) mengakui beratnya tugas Tarasiuk. “Dia dapat saja menyediakan semua efisiensi di sini, tapi itu sulit karena kebutuhan keamanan kami yang unik,” kata agen yang mengaku bekeja dekat dengan Tarasiuk ini. “Saya sendiri peduli pada tiga hal: keamanan, fungsionalitas dan efisiensi.”</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:18.7pt;">Diakuinya, seorang agen CIA seperti dirinya bisa dimudahkan dalam tugas-tugas operasional. Akan tetapi, diingatkannya, itu harus di level tertentu. “Teknologi bisa menyeret Anda begitu jauh,” katanya mewanti-wanti. “Berbagi informasi memang penting, tapi di saat bersamaan kami membutuhkan semacam tabung pengaman.”</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:18.7pt;">Tarasiuk mengakui ada keputusan penting dan berat yang harus dibuat dengan data yang terkumpul selama lebih dari 60 tahun. “Misalnya, mana yang harus dijaga, mana yang bisa dipublikasikan, dan mana yang harus dibuang,” ujarnya. Selain itu, juga ada ribuan <em>database </em>di seputar Komunitas Intelijen AS yang isinya perlu diputuskan mana yang perlu dikoneksikan dan mana yang tidak. “Tapi, ada satu hal yang juga saya khawatirkan, yakni terkuburnya informasi di mana seseorang (dari komunitas intelijen) sebenarnya membutuhkan informasi itu, tapi justru tak dapat mengaksesnya,” kata Tarasiuk.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:18.7pt;">Dengan perjalanan transformasi di bidang TI yang sejauh ini telah dijalaninya, Tarasiuk mengakui banyak hal masih belum bisa direorganisasi. “Tapi, kami kan sudah memberikan hasil signifikan,” ujarnya mencoba menghibur diri. Satu contoh nyata, bila sebelumnya fungsi TI terdesentralisasi dan terpecah dalam beberapa grup dengan beberapa CIO yang berbeda, sejak 2005 dikonsolidasikan di bawah arahannya. Ke depan, ia melihat tampaknya anggaran buat CIA bakal diturunkan; tapi ia punya tanggug jawab memberikan layanan TI dengan level kualitas yang sama seperti yang sudah dinikmati saat ini. Apalagi, ia ingat betul bahwa perang terhadap terorisme global belum usai, yang dilukiskannya sesuai dengan laporan <em>9/11 Commission </em>sebagai kegiatan yang “canggih, sabar, disiplin dan mematikan.”</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:18.7pt;">Dengan beban yang berat harus mengatur kesimbangan &#8212; antara menyodorkan teknologi mutakhir serta berbagi informasi dan tetap menjaga keamanan data &#8212; Tarasiuk merasa harus mengisi diri dengan membaca <em>booklet</em> yang juga tergeletak di mejanya, antara lain <em>booklet </em>“<em>National Strategy for Information Sharing</em>” yang dikeluarkan kantor kepresidenan pada Oktober 2007, <em>“United States Intelligence Community Information Sharing Strategy” </em>yang dikeluarkan kantor DNI pada Februari 2008, dan <em>“Strategic Intent: 2007-2011” </em>yang merupakan <em>road map </em>CIA untuk lima tahun ke depan. Plus, satu kontribusi dari Tarasiuk dan timnya: “<em>CIA Enterprise IT Strategic Plan: 2007-2011</em>”.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:18.7pt;">Kini, AS sudah memiliki pemerintahan baru di bawah Presiden Barack Obama. Begitu pula dengan Komunitas Intelijen AS. Di jajaran pemerintahannya, Obama telah menunjuk pensiunan Laksamana AL AS, Dennis C. Blair, sebagai bos intelijen tertinggi alias Kepala Kantor DNI yang baru. Adapun untuk Kepala CIA, Obama menunjuk Leon E. Panetta, mantan Kepala Staf Gedung Putih di era Presiden Bill Clinton. Blair dan Panetta kini bisa menikmati dan melanjutkan warisan yang ditinggalkan McConnell, Hayden dan Tarasiuk.</p>
<p class="MsoBodyTextIndent2">“Kebutuhan terhadap (peran) Komunitas Intelijen AS begitu besar dan terus tumbuh,” ujar Obama. “Dan untuk menyukseskan strategi keamanan nasional, saya perlu jelaskan, bahwa kita perlu mengembangkan dan menyeimbangkan semua kekuatan Amerika –militer, diplomasi, keamanan dalam negeri, ekonomi dan persuasi moral,” katanya ketika memberi pengarahan kepada Blair dan Panetta. “Pekerjaan intelijen yang baik dibutuhkan untuk mendukung setiap usaha keras tersebut,” Obama menegaskan lagi.</p>
</div>
<p><strong><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;">Sekilas Organisasi CIA<br style="page-break-before:auto;" /> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;">CENTRAL Intelligence Agency (CIA) didirikan pada 1947. Sebagai lembaga intelijen pemerintah, CIA bertanggung jawab menyediakan laporan dan data intelijen menyangkut isu-isu keamanan nasional untuk para pejabat senior pembuat kebijakan di AS. Dirjen yang mengepalai CIA dinominasikan oleh Presiden AS dengan persetujuan dari Senat AS. Sang Kelapa CIA yang bertanggung jawab mengelola kegiatan operasional, personalia, dan anggaran lembaga ini; sekaligus bertindak selaku manajer bagi <em>National Human Source Intelligence (Humint Manager).</em></span></p>
<p class="MsoBodyText"><span style="font-size:10pt;">Lembaga ini terdiri atas empat divisi, yang menjalankan siklus intelijen, mulai dari proses mengumpulkan, menganalisis sampai menyebarkan informasi intelijen bagi para petinggi pemerintahan AS. Keempat divisi tersebut adalah</span></p>
<p class="MsoBodyText"><span style="font-size:10pt;"><!--[if !supportEmptyParas]--> <!--[endif]--></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:18.7pt;text-align:justify;text-indent:-18pt;"><!--[if !supportLists]--><strong><span style="font-size:10pt;">(1)<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></strong><!--[endif]--><strong><span style="font-size:10pt;">National Clandestine Service (NCS)</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:18.7pt;text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;">Divisi ini bertanggung jawab mengumpulkan informasi intelijen di luar negeri secara rahasia, khususnya lewat kegiatan intelijen manusia (Humint). NCS juga merupakan wadah nasional untuk koordinasi dan evaluasi kegiatan operasional di kalangan komunitas intelijen AS. Untuk mengumpulkan informasi intelijen, para petugas operasional (agen spionase) CIA harus tinggal dan bekerja di luar negeri guna memantapkan dan memelihara jaringan dan hubungan personal dengan para “mitra/asset” di lapangan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:18.7pt;text-align:justify;text-indent:-18pt;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:10pt;">(2)<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span><!--[endif]--><strong><span style="font-size:10pt;">Directorate of Intelligence (DI)</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:18.7pt;text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;">Direktorat ini bertugas menganalisis data intelijen dan menghasilkan laporan, bahan <em>briefing</em>, serta makalah isu-isu intelijen penting di luar negeri. Informasi tersebut bisa datang dari berbagai sumber dan metode, mulai dari personel CIA di luar negeri, laporan para agen, hasil foto satelit, liputan media asing, dan kegiatan sensor canggih. DI inilah yang bertanggung jawab memberikan analisis intelijen yang tepat waktu, akurat dan relevan bagi para pejabat senior AS.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:18.7pt;text-align:justify;text-indent:-18pt;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:10pt;">(3)<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span><!--[endif]--><strong><span style="font-size:10pt;">Directorate of Science and Technology (DS&amp;T);</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:18.7pt;text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;">Direktorat ini bertugas mengakses, mengumpulkan dan mengekspoitasi informasi, untuk memfasilitasi proses eksekusi misi CIA, dengan menerapkan solusi (cara) yang inovatif, ilmiah dan canggih secara teknis pada masalah-masalah intelijen yang paling penting. DS&amp;T menggabungkan lebih dari 50 disiplin keilmuan, yang mencakup <em>programmer, engineer, </em>ilmuan (<em>scientist</em>) hingga analis. Direktorat yang senantiasa mencari teknologi mumpuni dan mutakhir (<em>state-of-the-art technology</em>) ini juga bermitra dengan beberapa lembaga lainnya dalam komunitas intelijen.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:18.7pt;text-align:justify;text-indent:-18pt;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:10pt;">(4)<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span><!--[endif]--><strong><span style="font-size:10pt;">Directorate of Support (DS);</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:18.7pt;text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;">Direktorat ini menyediakan sejumlah kegiatan dan fasilitas pendukung: kebutuhan komunikasi, keuangan, logistik, SDM (kepersonaliaan), layanan medis, hukum (<em>legal</em>), dan semacamnya. Layanan DS tersedia dalam lingkup internasional, tetap dijalankan secara rahasia (<em>clandestine</em>), dan menawarkan layanan 24 jam/7 hari penuh.</span></p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/huxleyi.wordpress.com/1851/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/huxleyi.wordpress.com/1851/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/huxleyi.wordpress.com/1851/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/huxleyi.wordpress.com/1851/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/huxleyi.wordpress.com/1851/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/huxleyi.wordpress.com/1851/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/huxleyi.wordpress.com/1851/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/huxleyi.wordpress.com/1851/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/huxleyi.wordpress.com/1851/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/huxleyi.wordpress.com/1851/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=huxleyi.wordpress.com&blog=4905801&post=1851&subd=huxleyi&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://huxleyi.wordpress.com/2009/04/17/transformasi-di-sarang-mata-mata/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/a015bc6e5a3945c0cf4e20624fff7843?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">retarigan</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Glacierada Orang Bijak</title>
		<link>http://huxleyi.wordpress.com/2009/02/27/glacierada-orang-bijak/</link>
		<comments>http://huxleyi.wordpress.com/2009/02/27/glacierada-orang-bijak/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 27 Feb 2009 09:40:16 +0000</pubDate>
		<dc:creator>retarigan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Others Opinion]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://huxleyi.wordpress.com/?p=1662</guid>
		<description><![CDATA[Glacierada orang bijak berkata &#8220;belajarlah dari alam&#8221; &#8211;&#62; mungkin karena hal itulah manusia dapat bertahan hidup.
1. Jadilah Jagung, Jangan Jambu Monyet.
Jagung membungkus bijinya yang banyak, sedangkan jambu monyet memamerkan bijinya yang cuma satu-satunya.
Artinya : Jangan suka pamer
 
2. Jadilah pohon Pisang.
Pohon pisang kalau berbuah hanya sekali, lalu mati.
Artinya : Kesetiaan dalam pernikahan.
 
3. Jadilah Duren, [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=huxleyi.wordpress.com&blog=4905801&post=1662&subd=huxleyi&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><!--[if gte mso 9]&gt;  Normal 0   &lt;![endif]--><span style="font-size:11pt;">Glacierada orang bijak berkata &#8220;belajarlah dari alam&#8221; &#8211;&gt;<span> </span>mungkin karena hal itulah manusia dapat bertahan hidup.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:18pt;text-indent:-18pt;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:11pt;">1.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span><!--[endif]--><span style="font-size:11pt;">Jadilah Jagung, Jangan Jambu Monyet.</span></p>
<p class="MsoBodyTextIndent" style="text-align:justify;">Jagung membungkus bijinya yang banyak, sedangkan jambu monyet memamerkan bijinya yang cuma satu-satunya.</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:18pt;"><span style="font-size:11pt;">Artinya : Jangan suka pamer</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:18pt;"><span style="font-size:11pt;"><!--[if !supportEmptyParas]--> <!--[endif]--></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:18pt;text-indent:-18pt;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:11pt;">2.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span><!--[endif]--><span style="font-size:11pt;">Jadilah pohon Pisang.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:18pt;"><span style="font-size:11pt;">Pohon pisang kalau berbuah hanya sekali, lalu mati.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:18pt;"><span style="font-size:11pt;">Artinya : Kesetiaan dalam pernikahan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:18pt;"><span style="font-size:11pt;"><!--[if !supportEmptyParas]--> <!--[endif]--></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:18pt;text-indent:-18pt;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:11pt;">3.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span><!--[endif]--><span style="font-size:11pt;">Jadilah Duren, jangan kedondong</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:18pt;text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;">Walaupun luarnya penuh kulit yang tajam, tetapi dalamnya lembut dan manis. hmmmm, beda dengan kedondong, luarnya mulus, rasanya agak asem dan di dalamnya ada biji yang berduri.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:18pt;text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;">Artinya : Don&#8217;t Judge a Book by The Cover.. jangan menilai orang dari Luarnya saja.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:18pt;"><span style="font-size:11pt;"><!--[if !supportEmptyParas]--> <!--[endif]--></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:18pt;text-indent:-18pt;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:11pt;">4.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span><!--[endif]--><span style="font-size:11pt;">Jadilah bengkoang.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:18pt;text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;">Walaupun hidup dalam kompos sampah, tetapi umbinya isinya putih bersih.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:18pt;"><span style="font-size:11pt;">Artinya : Jagalah hati jangan kau nodai.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:18pt;"><span style="font-size:11pt;"><!--[if !supportEmptyParas]--> <!--[endif]--></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:18pt;text-indent:-18pt;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:11pt;">5.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span><!--[endif]--><span style="font-size:11pt;">Jadilah Tandan Pete, bukan Tandan Rambutan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:18pt;text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;">Tandan pete membagi makanan sama rata ke biji petenya, semua seimbang, tidak seperti rambutan.. ada yang kecil ada yang gede.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:18pt;"><span style="font-size:11pt;">Artinya : Selalu adil dalam bersikap.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:18pt;"><span style="font-size:11pt;"><!--[if !supportEmptyParas]--> <!--[endif]--></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:18pt;text-indent:-18pt;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:11pt;">6.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span><!--[endif]--><span style="font-size:11pt;">Jadilah Cabe.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:18pt;"><span style="font-size:11pt;">Makin tua makin pedas.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:18pt;"><span style="font-size:11pt;">Artinya : Makin tua makin bijaksana.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:18pt;"><span style="font-size:11pt;"><!--[if !supportEmptyParas]--> <!--[endif]--></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:18pt;text-indent:-18pt;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:11pt;">7.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span><!--[endif]--><span style="font-size:11pt;">Jadilah Buah Manggis</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:18pt;"><span style="font-size:11pt;">Bisa ditebak isinya dari pantat buahnya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:18pt;"><span style="font-size:11pt;">Artinya : Jangan Munafik</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:18pt;"><span style="font-size:11pt;"><!--[if !supportEmptyParas]--> <!--[endif]--></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:18pt;text-indent:-18pt;text-align:justify;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:11pt;">8.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span><!--[endif]--><span style="font-size:11pt;">Jadilah Buah Nangka Selain buahnya, nangka memberi getah kepada penjual atau yg memakannya.</span></p>
<p><span style="font-size:11pt;font-family:&quot;">Artinya : Berikan kesan kepada semua orang (tentunya yg baik).</span></p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/huxleyi.wordpress.com/1662/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/huxleyi.wordpress.com/1662/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/huxleyi.wordpress.com/1662/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/huxleyi.wordpress.com/1662/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/huxleyi.wordpress.com/1662/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/huxleyi.wordpress.com/1662/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/huxleyi.wordpress.com/1662/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/huxleyi.wordpress.com/1662/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/huxleyi.wordpress.com/1662/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/huxleyi.wordpress.com/1662/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=huxleyi.wordpress.com&blog=4905801&post=1662&subd=huxleyi&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://huxleyi.wordpress.com/2009/02/27/glacierada-orang-bijak/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/a015bc6e5a3945c0cf4e20624fff7843?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">retarigan</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Mengapa Harus Java?</title>
		<link>http://huxleyi.wordpress.com/2009/02/27/mengapa-harus-java/</link>
		<comments>http://huxleyi.wordpress.com/2009/02/27/mengapa-harus-java/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 27 Feb 2009 09:24:56 +0000</pubDate>
		<dc:creator>retarigan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Others Opinion]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://huxleyi.wordpress.com/?p=1651</guid>
		<description><![CDATA[Sering kali ada pertanyaan mengenai mengapa harus Java bukan PHP, dan kapan pakai PHP dan kapan mengembangkan solusi dengan Java.
 
Pertanyaan ini sering terjadi, dan di era AJAX, dengan lahirnya ActiveGrid sebagai solusi PHP yang memungkinkan terjadi session clustering, yang artinya membuat PHP menjadi berskala Enterprise. Membuat PHP menjadi solusi pilihan yang menarik.
Dimana kekuatan Java?
Kekuatan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=huxleyi.wordpress.com&blog=4905801&post=1651&subd=huxleyi&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p class="MsoBodyText" style="text-align:justify;"><!--[if gte mso 9]&gt;  Normal 0   &lt;![endif]-->Sering kali ada pertanyaan mengenai mengapa harus Java bukan PHP, dan kapan pakai PHP dan kapan mengembangkan solusi dengan Java.</p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;color:black;"><!--[if !supportEmptyParas]--> <!--[endif]--></span></p>
<p class="MsoBodyText" style="text-align:justify;">Pertanyaan ini sering terjadi, dan di era AJAX, dengan lahirnya ActiveGrid sebagai solusi PHP yang memungkinkan terjadi session clustering, yang artinya membuat PHP menjadi berskala Enterprise. Membuat PHP menjadi solusi pilihan yang menarik.</p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;color:black;"><strong>Dimana kekuatan Java?</strong></span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;color:black;"><strong>Kekuatan Java No. 1: Container Oriented Development<br />
</strong></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;color:black;">Sebenarnya kekuatan Java terletak pada mekanisme pemograman yang menghasilkan container, dimana container yang dihasilkan merupakan subcontainer baru. Sebagai contoh adalah implementasi Java Collection. Kasus lainnya adalah implementasi Java menjadi middleware (JavaEE, XMLRPC, SOAP-RPC), atau database (Derby, HSQL). Dimana hal ini tidak dapat dilakukan oleh sebuah aplikasi berbasis scripting seperti PHP.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;color:black;"><!--[if !supportEmptyParas]--> <!--[endif]--></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;color:black;">Contoh implementasi dilapangan adalah dengan mengembangkan sebuah mekanisme yang dapat mereturn objek, dalam sebuah pemanggilan fungsi, dimana objek yang direturn adalah objek yang lain.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;color:black;"><!--[if !supportEmptyParas]--> <!--[endif]--></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;color:black;">Kekuatan Java No. 2: Generator Engine</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;color:black;">Pernah dibayangkan mengembangkan sebuah aplikasi yang sangat sering dilakukan, alias berulang-ulang dilakukan dalam pengembangan aplikasi. Untuk membuat ini sering kali melahirkan sebuah skema yang umum.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;color:black;"><!--[if !supportEmptyParas]--> <!--[endif]--></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;color:black;">Bilamana pemograman menggunakan sebuah mekanisme yang selalu sama, dapat menggunakan Pattern, sedangkan implementasinya dapat menggunakan Framework, tetapi ternyata ada kekuatan lain yang membuat sebuah kode yang mana kode tersebut menghasilkan kode baru, ini disebut code generator.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;color:black;"><!--[if !supportEmptyParas]--> <!--[endif]--></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;color:black;">Contoh yang dapat dilakukan adalah bilamana kita mengembangkan aplikasi dengan IDE untuk JSF atau IDE untuk Swing, mekanisme ini digunakan, setiap kita melakukan sesuatu, langsung terjadi code baru dengan scriptnya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;color:black;"><!--[if !supportEmptyParas]--> <!--[endif]--></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;color:black;">Didunia Open Source Java ada sebuah projek yang menggunakan metode ini, dengan menyisipkan code tambahan di remark untuk menghasilkan code lainnya, mekanisme ini telah menjadi salah satu urat nadi untuk mengefektifkan pengembangan Java, dan tentu saja tidak ada diteknologi lain selain Java, yaitu XDoclet (<a href="http://www.xdoclet.org/">http://www.xdoclet.org</a>).</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;color:black;">Ada teknologi lainnya yang semula diciptakan nuntuk menggantikan JSP yang terkenal dengan sebutan the darkness of Java, karena mekanisme complie on the fly, yaitu Velocity dari Apache, yang mana merupakan implementasi runtime engine bukan compile on the file.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;color:black;"><!--[if !supportEmptyParas]--> <!--[endif]--></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;color:black;">Ternyata Velocity telah bertransformasi menjadi sebuah engine code generator, artinya kita hanya perlu mengimplementasikan sebuah Java Collection dan dilempar kedalam container Velocity, ditambah dengan template + script kecil didalam Velocity, langsung menghasilkan code baru.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;color:black;"><!--[if !supportEmptyParas]--> <!--[endif]--></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;color:black;">Mekanisme yang lebih hebat lagi adalah dengan berhasilnya membuat sebuah UML menjadi sebuah bahasa yang menghasilkan aplikasi yang berbasis MVC, lalu M-nya langsung menggenerate database yang ada, dan semau ini hanya dilakukan dengan satu perintah saja, yaitu ant.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;color:black;"><!--[if !supportEmptyParas]--> <!--[endif]--></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;color:black;">Hasil akhir dari kegiatan ini adalah sebuah aplikasi yang siap pakai, dan database yang telah terupdate, serta isinya yang otomatis diisi (DbUnit).</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;color:black;">Yang lebih lengkap lagi, setelah proses itu semua, hasil akhirnya di testing menggunakan metode Extreme Programming menggunakan JUnit. Mekanisme ini tidak dapat dilakukan bilamana kita menggunakan aplikasi scripting, dan lebih tepat lagi bagi aplikasi berbasis OOP yang komunitasnya tidak hidup.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;color:black;"><!--[if !supportEmptyParas]--> <!--[endif]--></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;color:black;">Dunia Java adalah gabungan antara komunitas yang berjualan dan komunitas pengembang (Open Source), yang menghasilkan inovasi tanpa habis.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;color:black;">Momentum dari implementasi Generator ini adalah lahirnya Compiere yang merupakan seubah ERP yang bekerja dengan generator, satu engine generator yang menghasilkan module ERP. Yang lebih hebat lagi, Compiere juga Open Source, sekali setting aplikasi berbasis Desktop (Swing) dan Web (HTML) langsung tergenerate on the fly.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;color:black;"><!--[if !supportEmptyParas]--> <!--[endif]--></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;color:black;">Sayangnya Compiere mengimplementasikan tidak dengan standar, untuk aplikasi yang mirip Compiere yang berbasis dari OMG (Open Management Group) yang mengimplementasikan MDA adalah OpenCRX dengan engine OpenMDX.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;color:black;"><!--[if !supportEmptyParas]--> <!--[endif]--></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;color:black;">Inilah Keunggulan Bahasa Java</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;color:black;"><!--[if !supportEmptyParas]--> <!--[endif]--></span></p>
<p class="MsoBodyText" style="text-align:justify;">Sering kali ada pertanyaan mengenai mengapa harus Java bukan PHP, dan kapan pakai PHP dan kapan mengembangkan solusi dengan Java.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;color:black;">Pertanyaan ini sering terjadi, dan di era AJAX, dengan lahirnya ActiveGrid sebagai solusi PHP yang memungkinkan terjadi session clustering, yang artinya membuat PHP menjadi berskala Enterprise. Membuat PHP menjadi solusi pilihan yang menarik.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;color:black;">Dimana kekuatan Java?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;color:black;"><strong>Kekuatan Java No. 3: Standar dan Open Source</strong></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;color:black;">Kelemahan Java adalah tidak dapat melakukan multiple inheritance, dimana C++ dapat melakukan, untuk mengatasinya diperlukan implementasi interface, tetapi tetap saja ini bukan inherit.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;color:black;"><!--[if !supportEmptyParas]--> <!--[endif]--></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;color:black;">Kita harus berterimakasih dengan Sun yang merupakan salah satu perusahaan kelas dunia yang sangat komit dengan teknologi terbuka, juga berterima kasih, karena bisnis intinya bukan perangkat lunak, jadi agenda locking didalam perusahaan ini adalah sebuah wancana yang tidak pernah terealisasi.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;color:black;">Sun juga karena kehandalannya mengembangkan Solaris, yang merupakan sistem operasi paling aman dimuka bumi, dan berita tergresnya Solaris juga di Open Sourcekan. Tetapi tentu saja gerakan Solaris ini tidak ada apa-apanya dengan Java.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;color:black;"><!--[if !supportEmptyParas]--> <!--[endif]--></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;color:black;">Java telah diubah dari sebuah teknologi milik Sun, menjadi teknologi milik JCP, yang keputusan pengembangan ditentukan menjadi anggotanya, bilamana pembaca ingin menjadi anggotanya, dapat mendaftar, bilamana personal, pendaftaran adalah gratis. Brazil merupakan negara pertama yang menjadi anggota di JCP.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;color:black;">Java dengan kekuatan 950 anggota yang terus bertambah, sedang bertransformasi menjadi bahasa digital formal, seperti halnya bahasa inggris pada kehidupan nyata, digabung dengan projek Open Source Java yang saat ini telah menjadi No. 1 dimuka bumi. Membuat Java diramalkan tetap ada sampai 100 tahun kedepan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;color:black;"><!--[if !supportEmptyParas]--> <!--[endif]--></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;color:black;">Interaksi antara bisnis dan kesenangan terjadi didalam Java, malah dengan terbentuknya gerakan ABG (Academy, Busienss and Goverment) secara global, dan berinteraksi menggunakan Internet sebagai fondasi kolaborasi, telah membuat Java terus menutupi kekurangannya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;color:black;">Beberapa prinsip diantaranya adalah &#8220;Bilamana Anda mengembangkan sebuah aplikasi tahun ini 6 bulan, dengan mengerti kekuatan Java, akan dapat dilakukan dengan 1 bulan&#8221;.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;color:black;">Mekanisme ini mirip dengan hukum Moore, yang mana mengatakan prosessor akan bertambah kecepatan secara doble. Didalam dunia sinergi antara bisnis dengan komunitas, akan terjadi kecepatan yang kurang lebih sama. Tentu saja bagi mereka yang tidak dapat mengikut, akan menganggap ini sebagai chaos, karena investasi yang dilakukan akan basi. Tetapi ini sangat menguntungkan pemakai akhir, karena investasi yang sama akan bernilai lebih mengikuti waktu.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;color:black;">Tentu saja tanpa kekuatan Container dan Generator diatas, Java mau standard atau Open Source, tetap merupakan sebuah aplikasi pengembangan yang memerlukan resource besar, sehingga lebih mahal.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;color:black;"><strong>Kekuatan Java No. 4: Enterprise Computing (Distributed and Clustering)</strong></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;color:black;">Java telah dipakai oleh banyak perusahaan besar seperti Amazon, EBay, dan hampir semua Fortune 1000, salah satu fiturnya adalah kemampuan menghandle transaksi yang tinggi, dan dapat hanya menggunakan komputer yang biasa saja dengan mekanisme scale-up, artinya pasang satu, bilamana kurang tambah lagi. Hal ini searah dengan kecepatan prosessor yang semakin cepat.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;color:black;">Kekuatan lainnya dari Java didunia High Availability adalah memungkinkannya dicluster dari cache, object, sampai session dalam satu kesatuan, yang tentu saja menghasilkan cheap high performance solution.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;color:black;"><strong>Kekuatan Java No. 5: Marketing Spending, Shared Brand Value</strong></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;color:black;">Faktor lain pemilihan teknologi adalah &#8220;Sebuah teknologi akan bertahan selain secara arsitektur harus bagus, memiliki dana promosi juga dapat menjadi sarana kolaborasi antara perusahaan dan komunitasnya&#8221;. Apakah teknologi yang Anda gunakan telah mengusung ini semua?.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;color:black;">Contoh lainnya adalah bilamana setiap vendor HP seperti Nokia, SonyEricsson atau Motorola melakukan promosi, atau mengedukasi pengembangan aplikasi game, apakah sebenarnya yang mereka promosikan? handphone mereka atau Java? Apakah ada yang berani melawan genderang perang perusahaan kelas wahid?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;color:black;">Gara-gara marketing spending yang sangat besar, sampai dianggap &#8220;the hottest technology&#8221; abad ini, Java malah telah bertransformasi dari sebuah teknologi yang berarsitektur bagus, secure, menjadi sebuah merek paling bernilai dimuka bumi ini. Hanya sayangnya nilai mereknya terpecah-pecah kesemua perusahaan pemakai Java. Ini adalah model branding modern.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;color:black;">Bilamana kita berpikir merek seperti Coca Cola, Pepsi, Windows ataupun MacOS, kita langsung tahu ini adalah merek-merek milik perusahaan pengembangnya. Dunia Java berbeda, kue Java telah terbagi, seperti di pasar Enterprise Commercial ada Weblogic (Bea) dan Websphere (IBM), dunia Open Source (Apache, ObjectWeb, Eclipse), ataupun dunia aplikasi siap pakai (Compiere), dan penulis sampai hari ini belum menemukan mekanisme menilai &#8220;brand value&#8221; dari sebuah merek bernama Java ini.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;color:black;">Dapat dibayangkan bilamana Java hancur, bagaimana dengan investasi IBM, Oracle, Nokia ataupun SAP, terakhir adalah RedHat (dengan mengakusisi JBoss, seharga 350 juta dollar).</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;color:black;"> Apakah mereka akan tetap bluechip? Bilamana mereka saja berani, mengapa Anda tetap bertahan di teknologi yang lebih kurang menjanjikan? 10 investasi Open Source projek terbesar tahun 2005, di dunia 8 diantaranya adalah investasi baru Java.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;color:black;"><br />
<em>*) Penulis, <strong>Frans Thamura</strong>, adalah CEO Meruvian dan Intercitra Prima Integrasi, dua institusi bidang pelatihan serta pengembangan teknologi Java dan OSS. Penulis dapat dihubungi melalui e-mail <strong>frans[at]meruvian.com</strong></em></span></p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/huxleyi.wordpress.com/1651/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/huxleyi.wordpress.com/1651/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/huxleyi.wordpress.com/1651/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/huxleyi.wordpress.com/1651/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/huxleyi.wordpress.com/1651/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/huxleyi.wordpress.com/1651/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/huxleyi.wordpress.com/1651/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/huxleyi.wordpress.com/1651/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/huxleyi.wordpress.com/1651/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/huxleyi.wordpress.com/1651/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=huxleyi.wordpress.com&blog=4905801&post=1651&subd=huxleyi&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://huxleyi.wordpress.com/2009/02/27/mengapa-harus-java/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/a015bc6e5a3945c0cf4e20624fff7843?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">retarigan</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>The Nine Satanic Sins</title>
		<link>http://huxleyi.wordpress.com/2009/02/27/the-nine-satanic-sins/</link>
		<comments>http://huxleyi.wordpress.com/2009/02/27/the-nine-satanic-sins/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 27 Feb 2009 08:19:20 +0000</pubDate>
		<dc:creator>retarigan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Others Opinion]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://huxleyi.wordpress.com/?p=1607</guid>
		<description><![CDATA[1. Stupidity—The top of the list for Satanic Sins. The Cardinal Sin of Satanism. It’s too bad that stupidity isn’t painful. Ignorance is one thing, but our society thrives increasingly on stupidity. It depends on people going along with whatever they are told. The media promotes a cultivated stupidity as a posture that is not [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=huxleyi.wordpress.com&blog=4905801&post=1607&subd=huxleyi&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p style="text-align:justify;"><!--[if gte mso 9]&gt;  Normal 0   &lt;![endif]--><span style="color:#000000;"><!--  /* Font Definitions */ @font-face 	{font-family:Georgia; 	panose-1:2 4 5 2 5 4 5 2 3 3; 	mso-font-charset:0; 	mso-generic-font-family:roman; 	mso-font-pitch:variable; 	mso-font-signature:647 0 0 0 159 0;} @font-face 	{font-family:"Trebuchet MS"; 	panose-1:2 11 6 3 2 2 2 2 2 4; 	mso-font-charset:0; 	mso-generic-font-family:swiss; 	mso-font-pitch:variable; 	mso-font-signature:647 0 0 0 159 0;}  /* Style Definitions */ p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal 	{mso-style-parent:""; 	margin:0cm; 	margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:12.0pt; 	font-family:"Times New Roman"; 	mso-fareast-font-family:"Times New Roman";} h3 	{margin-top:3.75pt; 	margin-right:0cm; 	margin-bottom:3.75pt; 	margin-left:0cm; 	mso-pagination:widow-orphan; 	mso-outline-level:3; 	font-size:16.5pt; 	font-family:Georgia; 	color:#D7D7D7; 	font-weight:normal;} p 	{margin-top:3.75pt; 	margin-right:0cm; 	margin-bottom:3.75pt; 	margin-left:0cm; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:12.0pt; 	font-family:"Times New Roman"; 	mso-fareast-font-family:"Times New Roman";} @page Section1 	{size:612.0pt 792.0pt; 	margin:72.0pt 90.0pt 72.0pt 90.0pt; 	mso-header-margin:36.0pt; 	mso-footer-margin:36.0pt; 	mso-paper-source:0;} div.Section1 	{page:Section1;} --><strong><span style="font-size:9pt;font-family:&quot;">1.</span></strong><span style="font-size:9pt;font-family:&quot;"> <strong>Stupidity—</strong>The top of the list for Satanic Sins. The Cardinal Sin of Satanism. It’s too bad that stupidity isn’t painful. Ignorance is one thing, but our society thrives increasingly on stupidity. It depends on people going along with whatever they are told. The media promotes a cultivated stupidity as a posture that is not only acceptable but laudable. Satanists must learn to see through the tricks and cannot afford to be stupid.</span></span></p>
<p style="text-align:justify;"><!--[if gte mso 9]&gt;  Normal 0   &lt;![endif]--> <span style="color:#000000;"><strong><span style="font-size:9pt;font-family:&quot;">2. Pretentiousness—</span></strong><span style="font-size:9pt;font-family:&quot;">Empty posturing can be most irritating and isn’t applying the cardinal rules of Lesser Magic. On equal footing with stupidity for what keeps the money in circulation these days. Everyone’s made to feel like a big shot, whether they can come up with the goods or not.</span></span></p>
<p style="text-align:justify;"><!--[if gte mso 9]&gt;  Normal 0   &lt;![endif]--> <span style="color:#000000;"><strong><span style="font-size:9pt;font-family:&quot;">3. Solipsism—</span></strong><span style="font-size:9pt;font-family:&quot;">Can be very dangerous for Satanists. Projecting your reactions, responses and sensibilities onto someone who is probably far less attuned than you are. It is the mistake of expecting people to give you the same consideration, courtesy and respect that you naturally give them. They won’t. Instead, Satanists must strive to apply the dictum of “Do unto others as they do unto you.” It’s work for most of us and requires constant vigilance lest you slip into a comfortable illusion of everyone being like you. As has been said, certain utopias would be ideal in a nation of philosophers, but unfortunately (or perhaps fortunately, from a Machiavellian standpoint) we are far from that point.</span></span></p>
<p style="text-align:justify;"><!--[if gte mso 9]&gt;  Normal 0   &lt;![endif]--> <span style="color:#000000;"><strong><span style="font-size:9pt;font-family:&quot;">4. Self-deceit—</span></strong><span style="font-size:9pt;font-family:&quot;">It’s in the “Nine Satanic Statements” but deserves to be repeated here. Another cardinal sin. We must not pay homage to any of the sacred cows presented to us, including the roles we are expected to play ourselves. The only time self-deceit should be entered into is when it’s fun, and with awareness. But then, it’s not self-deceit!</span></span></p>
<p style="text-align:justify;"><!--[if gte mso 9]&gt;  Normal 0   &lt;![endif]--><span style="color:#000000;"><strong><span style="font-size:9pt;font-family:&quot;">5. Herd Conformity—</span></strong><span style="font-size:9pt;font-family:&quot;">That’s obvious from a Satanic stance. It’s all right to conform to a person’s wishes, if it ultimately benefits you. But only fools follow along with the herd, letting an impersonal entity dictate to you. The key is to choose a master wisely instead of being enslaved by the whims of the many.</span></span></p>
<p style="text-align:justify;"><!--[if gte mso 9]&gt;  Normal 0   &lt;![endif]--> <span style="color:#000000;"><strong><span style="font-size:9pt;font-family:&quot;">6. Lack of Perspective—</span></strong><span style="font-size:9pt;font-family:&quot;">Again, this one can lead to a lot of pain for a Satanist. You must never lose sight of who and what you are, and what a threat you can be, by your very existence. We are making history right now, every day. Always keep the wider historical and social picture in mind. That is an important key to both Lesser and Greater Magic. See the patterns and fit things together as you want the pieces to fall into place. Do not be swayed by herd constraints—know that you are working on another level entirely from the rest of the world.</span></span></p>
<p style="text-align:justify;"><!--[if gte mso 9]&gt;  Normal 0   &lt;![endif]--> <span style="color:#000000;"><strong><span style="font-size:9pt;font-family:&quot;">7. Forgetfulness of Past Orthodoxies—</span></strong><span style="font-size:9pt;font-family:&quot;">Be aware that this is one of the keys to brainwashing people into accepting something new and different, when in reality it’s something that was once widely accepted but is now presented in a new package. We are expected to rave about the genius of the creator and forget the original. This makes for a disposable society.</span></span></p>
<p style="text-align:justify;"><!--[if gte mso 9]&gt;  Normal 0   &lt;![endif]--> <span style="color:#000000;"><strong><span style="font-size:9pt;font-family:&quot;">8. Counterproductive Pride—</span></strong><span style="font-size:9pt;font-family:&quot;">That first word is important. Pride is great up to the point you begin to throw out the baby with the bathwater. The rule of Satanism is: if it works for you, great. When it stops working for you, when you’ve painted yourself into a corner and the only way out is to say, I’m sorry, I made a mistake, I wish we could compromise somehow, then do it.</span></span></p>
<p style="text-align:justify;"><!--[if gte mso 9]&gt;  Normal 0   &lt;![endif]--> <span style="color:#000000;"><strong><span style="font-size:9pt;font-family:&quot;">9. Lack of Aesthetics—</span></strong><span style="font-size:9pt;font-family:&quot;">This is the physical application of the Balance Factor. Aesthetics is important in Lesser Magic and should be cultivated. It is obvious that no one can collect any money off classical standards of beauty and form most of the time so they are discouraged in a consumer society, but an eye for beauty, for balance, is an essential Satanic tool and must be applied for greatest magical effectiveness. It’s not what’s supposed to be pleasing—it’s what is. Aesthetics is a personal thing, reflective of one’s own nature, but there are universally pleasing and harmonious configurations that should not be denied.</span></span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#000000;"><span style="font-size:9pt;font-family:&quot;"><strong>The Eleven Satanic Rules of the Earth<br />
</strong>1. Do not give opinions or advice unless you are asked.<br />
2. Do not tell your troubles to others unless you are sure they want to hear them.<br />
3. When in another’s lair, show him respect or else do not go there.<br />
4. If a guest in your lair annoys you, treat him cruelly and without mercy.<br />
5. Do not make sexual advances unless you are given the mating signal.<br />
6. Do not take that which does not belong to you unless it is a burden to the other person and he cries out to be relieved.<br />
7. Acknowledge the power of magic if you have employed it successfully to obtain your desires. If you deny the power of magic after having called upon it with success, you will lose all you have obtained.<br />
8. Do not complain about anything to which you need not subject yourself.<br />
9. Do not harm little children.<br />
10. Do not kill non-human animals unless you are attacked or for your food.<br />
11. When walking in open territory, bother no one. If someone bothers you, ask him to stop. If he does not stop, destroy him.</span></span></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>The Nine Satanic Statements<br />
</strong>1. Satan represents indulgence instead of abstinence!<br />
2. Satan represents vital existence instead of spiritual pipe dreams!<br />
3. Satan represents undefiled wisdom instead of hypocritical self-deceit!<br />
4. Satan represents kindness to those who deserve it instead of love wasted on ingrates!<br />
5. Satan represents vengeance instead of turning the other cheek!<br />
6. Satan represents responsibility to the responsible instead of concern for psychic vampires!<br />
7. Satan represents man as just another animal, sometimes better, more often worse than those that walk on all-fours, who, because of his “divine spiritual and intellectual development,” has become the most vicious animal of all!<br />
8. Satan represents all of the so-called sins, as they all lead to physical, mental, or emotional gratification!<br />
9. Satan has been the best friend the Church has ever had, as He has kept it in business all these years!</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/huxleyi.wordpress.com/1607/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/huxleyi.wordpress.com/1607/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/huxleyi.wordpress.com/1607/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/huxleyi.wordpress.com/1607/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/huxleyi.wordpress.com/1607/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/huxleyi.wordpress.com/1607/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/huxleyi.wordpress.com/1607/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/huxleyi.wordpress.com/1607/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/huxleyi.wordpress.com/1607/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/huxleyi.wordpress.com/1607/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=huxleyi.wordpress.com&blog=4905801&post=1607&subd=huxleyi&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://huxleyi.wordpress.com/2009/02/27/the-nine-satanic-sins/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/a015bc6e5a3945c0cf4e20624fff7843?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">retarigan</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Belajar Menjadi Manusia</title>
		<link>http://huxleyi.wordpress.com/2009/02/23/belajar-menjadi-manusia/</link>
		<comments>http://huxleyi.wordpress.com/2009/02/23/belajar-menjadi-manusia/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 23 Feb 2009 06:26:08 +0000</pubDate>
		<dc:creator>retarigan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Others Opinion]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://huxleyi.wordpress.com/?p=1594</guid>
		<description><![CDATA[Seorang lelaki ditangkap oleh suku kanibal. Ia dibawa ke hadapan kepala suku lebih dulu sebelum dibakar hidup-hidup. Namun betapa terkejutnya lelaki ini ketika ia mendengar sang kepala suku berbicara dengan aksen Harvard yang sempurna.
&#8220;Apakah pengalaman bertahun-tahun di Harvard itu tidak mengubahmu?&#8221; tanya si lelaki kepada kepala suku itu.
&#8220;Tentu saja,&#8221; jawab si kepala suku. Semua pengalaman [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=huxleyi.wordpress.com&blog=4905801&post=1594&subd=huxleyi&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p style="text-align:justify;"><img class="alignright size-full wp-image-1598" title="brain-competence" src="http://huxleyi.files.wordpress.com/2009/02/brain-competence.jpg?w=300&#038;h=300" alt="brain-competence" width="300" height="300" />Seorang lelaki ditangkap oleh suku kanibal. Ia dibawa ke hadapan kepala suku lebih dulu sebelum dibakar hidup-hidup. Namun betapa terkejutnya lelaki ini ketika ia mendengar sang kepala suku berbicara dengan aksen Harvard yang sempurna.</p>
<p style="text-align:justify;">&#8220;Apakah pengalaman bertahun-tahun di Harvard itu tidak mengubahmu?&#8221; tanya si lelaki kepada kepala suku itu.</p>
<p style="text-align:justify;">&#8220;Tentu saja,&#8221; jawab si kepala suku. Semua pengalaman itu telah membuat saya menjadi jauh lebih beradab. Setelah kamu dipanggang, saya akan mengenakan pakaian resmi saya, lalu saya akan memakan kamu dengan pisau dan garpu.&#8221;</p>
<p style="text-align:justify;">Pembaca yang budiman, ada kata-kata menarik dari Charles Kingsley yang begitu penting hingga saya menuliskannya di halaman terdepan buku saya <em>Life is Beautiful, &#8220;</em>Kita sudah belajar terbang di udara seperti burung, kita sudah belajar berenang di dasar laut seperti ikan, sekarang yang harus kita pelajari adalah berjalan di dunia sebagai manusia. Ini adalah proses di mana kita belajar mencintai hidup dengan hati yang tulus. Belajar menjadi lebih manusiawi dari waktu ke waktu.&#8221;</p>
<p style="text-align:justify;">Apa yang dikatakan Kingsley menyiratkan pertanyaan penting bagi kita, &#8220;Apakah saat ini kita belum menjadi manusia yang sesungguhnya?&#8221;</p>
<p style="text-align:justify;">Pertanyaan tersebut akan terjawab bila kita mengamati sejarah peradaban dan kemanusiaan kita. Di satu pihak intelektualitas kita telah mengalami perkembangan yang luar biasa pesat. Teknologi sedang dan akan terus berkembang di berbagai bidang menjadi secanggih-canggihnya. Namun di lain pihak kita masih terbelakang dan sangat miskin dalam spiritualitas. Bukankah kemajuan teknologi yang luar biasa dahsyatnya itu seolah-olah tidak punya pengaruh sama sekali pada masalah kemanusiaan yang sehari-hari kita hadapi? Bukankah kemiskinan, peperangan, pembunuhan, pembantaian, korupsi perusakan lingkungan hidup, perselingkuhan, fitnah-memfitnah merupakan &#8220;menu utama&#8221; kita sehari-hari?</p>
<p style="text-align:justify;">Jadi, walaupun teknologi sudah mencapai puncaknya di abad ke-21 ini, dari sisi kemanusiaan kita masih sangat terbelakang. Kita masih berada di masa jahiliyah, atau bahkan di era kanibalisme. Bukankah masalah kemanusiaan kita masih yang itu-itu saja? Kita masih mengalami kebangkrutan spiritual yang luar biasa.</p>
<p style="text-align:justify;">Pembantaian massal di Jalur Gaza Palestina adalah sebuah contoh yang amat telanjang dan terang benderang mengenai keterbelakangan dan keprimitifan kita sebagai manusia. Bagaimana di zaman modern seperti sekarang ini terjadi pembantaian massal secara sangat biadab bahkan dengan peralatan perang supermodern, sementara seluruh dunia menyaksikan jatuhnya korban setiap hari seakan-akan sedang menonton pertandingan sepak bola yang mencemaskan sekaligus menggairahkan karena memancing rasa ingin tahu?</p>
<p style="text-align:justify;">Atau tak usahlah jauh-jauh. Mari kita lihat apa yang terjadi di negara kita. Bagaimana perilaku serang-menyerang antara elite politik kita menjelang Pemilu 2009? Bagaimana perilaku para wakil rakyat kita? Bagaimana perilaku para pelaku bisnis kita? Semuanya menunjukkan bahwa penyakit yang kita derita sama sekali tidak beranjak dari penyakit yang diderita manusia berabad-abad silam bahkan ketika manusia pertama kali diciptakan. Saya sering menyebutnya sebagai penyakit AIDS: Arogan, Iri, Dengki, dan Serakah.</p>
<p style="text-align:justify;">Arogan adalah penyakit iblis yang menolak ketika diminta menghormati Adam. Ia merasa lebih hebat, lebih tinggi, lebih mulia. Apakah Anda melihat penyakit ini pada para elite kita? Pada diri Anda sendiri? Iri adalah penyakit Qabil yang tidak senang hatinya melihat keberuntungan yang didapat orang lain. Dengki adalah iri yang dimanifestasikan dalam bentuk tidakan yang menyerang orang lain. Inilah yang dilakukan Qabil ketika ia membunuh adiknya Habil. Sementara serakah adalah penyakit Adam yang walaupun sudah memiliki segalanya masih juga tidak puas dan ingin mengambil yang bukan haknya.</p>
<p style="text-align:justify;">Cobalah Anda perhatikan, bukankah semua penyakit sejak zaman prasejarah tersebut tidak berubah bahkan semakin lama semakin menguat di dalam diri kita? Bukankah kehidupan politik dan bisnis kita saat ini didominasi oleh kesombongan, keserakahan, iri dan dengki? Bahkan bukankah keempat penyakit ini senantiasa bersarang di dalam diri kita masing-masing?</p>
<p style="text-align:justify;">Menjadi manusia yang sesungguhnya adalah melakukan revolusi spiritual. Sebuah revolusi sekali untuk selamanya, sebuah komitmen untuk menjadikan diri kita lebih beradab. Dan keberadaban itu didasarkan pada satu kata kunci: cinta.</p>
<p style="text-align:justify;">Namun cinta sering disalahpahami dengan cinta berahi yang senantiasa mengharapkan balasan. Cinta berahi adalah cinta berpamrih, dan bukan cinta seperti inilah yang ingin kita tumbuhkan. Cinta yang terpenting adalah ketika kita mengasihi orang lain sebagaimana mengasihi diri sendiri. Sebuah cinta sepihak yang tanpa syarat. Sebuah cinta yang bersumber dari Tuhan Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang.</p>
<p style="text-align:justify;">Cinta juga sering disalahtafsirkan dengan keinginan untuk dicintai, disayangi, disukai, dihormati. Lihat saja buku-buku dan pelatihan yang banyak beredar. Bukankah mereka menjanjikan teknik dan tip agar Anda lebih disukai, dicintai, disayangi? Mereka salah besar. Masalah di dunia ini bukanlah pada &#8220;di&#8221; melainkan &#8220;me&#8221;: bagaimana agar kita menyayangi, mengasihi, menghormati, menyukai orang lain.</p>
<p style="text-align:justify;">Hanya dengan cara inilah kita dapat membangun budaya yang lebih beradab. Hanya dengan meningkatkan kasih kita akan mencapai kemajuan tercanggih menuju puncak spiritualitas kita. Dan ketika telah sampai di puncak, kita akan merasa menyatu dengan semua manusia bahkan dengan alam semesta. Kita akan merasa menjadi bagian dari satu kesatuan besar yang tak terpisahkan. Sampai di sini, perbedaan yang ada akan terasa kecil dan sungguh tidak berarti. Bila Anda sudah menghayati tahapan ini, saya yakin Anda sudah jauh lebih dekat kepada asal kita semua: Tuhan Yang Maha Satu.</p>
<p>Arvan Pradiansyah</p>
<p><em>Penulis buku </em>best seller The 7 Laws of Happiness</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/huxleyi.wordpress.com/1594/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/huxleyi.wordpress.com/1594/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/huxleyi.wordpress.com/1594/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/huxleyi.wordpress.com/1594/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/huxleyi.wordpress.com/1594/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/huxleyi.wordpress.com/1594/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/huxleyi.wordpress.com/1594/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/huxleyi.wordpress.com/1594/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/huxleyi.wordpress.com/1594/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/huxleyi.wordpress.com/1594/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=huxleyi.wordpress.com&blog=4905801&post=1594&subd=huxleyi&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://huxleyi.wordpress.com/2009/02/23/belajar-menjadi-manusia/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/a015bc6e5a3945c0cf4e20624fff7843?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">retarigan</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://huxleyi.files.wordpress.com/2009/02/brain-competence.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">brain-competence</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Ragam Pemikiran Seorang Pewaris Keyness 02</title>
		<link>http://huxleyi.wordpress.com/2009/01/15/ragam-pemikiran-seorang-pewaris-keyness-02/</link>
		<comments>http://huxleyi.wordpress.com/2009/01/15/ragam-pemikiran-seorang-pewaris-keyness-02/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 15 Jan 2009 00:30:21 +0000</pubDate>
		<dc:creator>retarigan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Others Opinion]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://huxleyi.wordpress.com/?p=1096</guid>
		<description><![CDATA[
Pada musim panas 1976, Krugman muda menyentuh secara langsung dunia pembuat(an) kebijakan. Bersama beberapa mahasiswa MIT, dia dikirim magang tiga bulan di bank sentral Portugal. Kacau oleh revolusi dan percobaan kudeta, tantangan terbesar yang harus dia hadapi adalah mencari tahu apa yang sedang terjadi secara ekonomi. “Pelajaran yang saya petik di sana adalah betapa besar [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=huxleyi.wordpress.com&blog=4905801&post=1096&subd=huxleyi&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><!--[if gte mso 9]&gt;  Normal 0   &lt;![endif]--><!--  /* Style Definitions */ p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal 	{mso-style-parent:""; 	margin:0cm; 	margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:12.0pt; 	font-family:"Times New Roman"; 	mso-fareast-font-family:"Times New Roman";} p.MsoBodyText, li.MsoBodyText, div.MsoBodyText 	{margin:0cm; 	margin-bottom:.0001pt; 	text-align:justify; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:12.0pt; 	font-family:"Times New Roman"; 	mso-fareast-font-family:"Times New Roman";} @page Section1 	{size:612.1pt 792.1pt; 	margin:2.0cm 2.0cm 2.0cm 2.0cm; 	mso-header-margin:1.0cm; 	mso-footer-margin:1.0cm; 	mso-paper-source:0;} div.Section1 	{page:Section1;} --></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:6pt;text-align:justify;"><img class="alignright size-full wp-image-1098" title="kruigman-rove" src="http://huxleyi.files.wordpress.com/2009/01/kruigman-rove.jpg?w=294&#038;h=221" alt="kruigman-rove" width="294" height="221" />Pada musim panas 1976, Krugman muda menyentuh secara langsung dunia pembuat(an) kebijakan. Bersama beberapa mahasiswa MIT, dia dikirim magang tiga bulan di bank sentral Portugal. Kacau oleh revolusi dan percobaan kudeta, tantangan terbesar yang harus dia hadapi adalah mencari tahu apa yang sedang terjadi secara ekonomi. “Pelajaran yang saya petik di sana adalah betapa besar kekuatan dari ide-ide ekonomi sederhana, sekaligus tak bergunanya teori yang tidak mampu memberikan <em>operational content.”</em></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:6pt;text-align:justify;">Walau belajar banyak di MIT, Krugman mengaku tak meninggalkan jejak yang terlalu hebat. Dia ingin cepat lulus dan, entah mengapa, sangat pemalu dan kesepian. Harapannya, dengan masuk ke dunia nyata, dia bisa mematahkan belenggu pribadi ini. Krugman bahkan menolak tawaran Solow yang ingin menominasikannya untuk Harvard Society Fellows. “Saya takut nantinya saya cuma duduk <em>ngelangut </em>sendirian di kantor saya selama tiga tahun,” kata anak semata wayang seorang manajer perusahaan asuransi ini, bertahun-tahun kemudian.</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:6pt;text-align:justify;">Di tengah kecemasan yang tak beralasan itu, Krugman buru-buru merampungkan disertasinya – sampai lupa menyertakan satu makalah bagus yang telah ditulis sebelumnya. Dia menyabet gelar Ph.D. pada 1977. “Untungnya, saya dapat tawaran kerja dari Yale,” tuturnya, “tapi baru pada pertengahan tahun pertama mengajar, saya bisa menemukan diri saya sebagai seorang ekonom.”</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:6pt;text-align:justify;">Waktu itu, Krugman menemukan sebuah visi besar yang lalu jadi panduan risetnya lebih dari 15 tahun kemudian. Visi tersebut adalah pentingnya <em>increasing returns </em>(kembalian atas investasi, asset atau modal yang terus meningkat) dan persaingan tak sempurna dalam perdagangan.</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:6pt;text-align:justify;">Krugman telah mempelajari persaingan monopolistis dari kuliah pendek Solow, pada 1976. Dari sini, terbetik ide membangun model perdagangan yang sama sekali baru. Dengan ide yang masih agak kabur, pada Januari 1978 dia menemui Dornbusch. Diyakinkan oleh mantan dosen pembimbingnya bahwa idenya itu menarik, dia langsung kerja keras keesokan harinya. “Dan, dalam bilangan jam, saya temukan kunci ke seluruh karier saya.”</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:6pt;text-align:justify;">Krugman langsung berkibar? Tidak. Jalan ke puncak tak segampang itu. Dia bahkan sempat frustrasi berat selama satu setengah tahun. Berbagai jurnal ilmiah menolak memuat tulisannya, mayoritas kolega senior tak tertarik dengan buah pikirannya, dan Yale memutuskan tak memberinya <em>research fellowship. </em>Namun dia terus berjuang, membuka pikirannya lebar-lebar.</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:6pt;text-align:justify;">Pada musim semi 1979, ketika menunggu pesawat menuju Minneapolis di Bandara Logan, Boston, muncul ide baru mengintegrasikan persaingan monopolistis dengan keunggulan komparatif. Pada Juli tahun itu juga, makalah tentang teori baru tersebut disampaikan di National Bureau of Economic Research Summer Institute – tempat berkumpulnya para ekonom internasional paling berpengaruh.</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:6pt;text-align:justify;">“Rasanya, dengan segala hal yang saya lakukan setelah itu, satu setengah jam melakukan presentasi makalah tersebut tetaplah 90 menit terbaik dalam hidup saya,” tutur Krugman. Di benaknya terbayang sebuah adegan dalam film <em>Coal Miner’s Daugther, </em>yaitu ketika Loretta Lynn muda melakukan pertunjukan pertama di sebuah bar yang berisik, lalu sedikit demi sedikit seluruh tamu terdiam dan mulai mendengarkan nyanyiannya. “Ya, itulah yang kurasakan saat itu: dengan sekali kayuh, kurengkuh semuanya.”</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:6pt;text-align:justify;">Apa yang dia rengkuh?</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:6pt;text-align:justify;">Di dunia akademis modern, di bidang apa pun, ada<span> </span>sekelompok kecil “datuk” yang paling disegani. Untuk masuk ke lingkaran elite ini, setidaknya perlu dua makalah yang betul-betul bagus – satu agar dikenal, satu lagi buat menunjukkan bahwa yang pertama bukanlah kebetulan. “Pada musim panas 1980, dengan lima makalah bagus, yang sedang maupun akan diterbitkan,” tutur Krugman, “saya sudah bisa menjamin diri saya tempat seumur hidup.”</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:6pt;text-align:justify;">Dan benar, pada 1980-an itu Krugman banyak menerima undangan seminar. Tak mewah. Pesawatnya kelas ekonomi, dari bandara juga Cuma naik bus dan tinggalnya di hotel kecil tanpa <em>lift</em> atau nongkrong di ruang konferensi yang kamar kecilnya saja di luar. “Lumayanlah, karena saya dibayari pergi ke Inggris, Prancis, Italia, Jerman, Spanyol, Finlandia, Swedia, Swiss, Israel, Meksiko,” katanya mengenang. “Akhirnya saya bisa mengunjungi tempat-tempat eksotis yang tak pernah bisa saya datangi sewaktu muda – hanya saja, saya selalu ketemu orang-orang yang sama ke mana pun pergi …”</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:6pt;text-align:justify;">Masuknya Krugman ke lingkaran elite akademis membuka pintu ke lembaga-lembaga internasional. Namun, sebuah konferensi puncak G7 di tempat peristirahatan mewah Swiss, misalnya, tak membuatnya merasa lebih nyaman ketimbang sebuah konferensi ilmiah yang diselenggarakan di sebuah ruang<span> </span>kelas kecil di Milan. Sebab, konferensi seperti di Milan itu, menurutnya, memberika lebih banyak <em>insight </em>ketimbang selusin diskusi konferensi puncak G7. “Saya tidak pernah meninggalkan lingkaran akademis, dan tidak akan pernah,” ujarnya.</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:6pt;text-align:justify;">Kendati demikian, ada saatnya Krugman ingin melakukan sesuatu yang lebih dari sekadar kegiatan akademis. Apalagi, reputasinya juga telah membuka pintu ke Washington.</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:6pt;text-align:justify;">Pada Agustus 1982, sepulang dari sebuah konferensi di Swedia, Krugman menerima permintaan untuk boyong dari MIT, tempat mengajarnya selepas Yale, dan menduduki kursi <em>chief staffer </em>masalah ekonomi internasional pada Dewan Penasihat Ekonomi. “Rasanya aneh juga saya jadi bagian dari Pemerintahan Reagan,” ujarnya.</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:6pt;text-align:justify;">Dengan keyakinannya yang kuat terhadap persaingan bebas, Krugman yang pada 1983 jadi kontributor terbesar <em>Economic Report for the President </em>menyerang habis proposal kebijakan industri yang diajukan Reich. Gayanya yang tanpa <em>tedeng aling-aling </em>ini membuatnya terlempar dari Washington – suatu hal yang tidak pernah dia sesali.</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:6pt;text-align:justify;">“<em>Washington was first thrilling, the illusioning,” </em>katanya mengenang. Ibukota dunia itu, dia rasakan, membuat anak-anak muda merasa penting karena merasa punya pengaruh terhadap pengambilan keputusan penting tingkat global. “Saya masih bisa menyebutkan daftar larangan panjang di halaman depan setiap dokumen penting – <em>‘Secret/ No foreign national/ No contractors/ Proprietary information/ Origin controlled. </em>Beberapa orang jadi kecanduan dengan hal-hal begini, dan akan melakukan apa pun agar tetap dekat dengan pusat.”</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:6pt;text-align:justify;">Tidak demikian dengan Krugman. Dia hanya bertahan setahun ikut rapat tingkat tinggi yang dikatakannya, “primitif banget’. Apalagi, orang-orang kuat di pusat kekuasaan juga lebih senang mendapat advis dari para “pakar” yang membuat mereka nyaman ketimbang mengharuskan mereka berpikir keras. “Maka,” katanya menyayangkan, “mereka yang sukses memengaruhi kebijakan biasanya adalah <em>the best courtiers, </em>bukan <em>the best analysts</em>.”</p>
<p class="MsoBodyText" style="margin-bottom:6pt;">Satu hal yang diperoleh Krugman dari pengalamannya di Washington: dia menemukan talenta baru – menulis masalah ekonomi serius dengan bahasa orang awam. Kemampuan baru inilah yang lalu mengibarkan namanya sebagai penulis buku popular dan kolomnis.</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:6pt;text-align:justify;">Untungnya, sekembalinya ke kampus, pada 1983-84, Elhanan Helpman dari Tel Aviv University yang jadi profesor tamu di MIT mengajak Krugman menulis buku teori perdagangan baru, yaitu merger antara organisasi industri dan perdagangan. Tak sampai setahun kemudian, terbitlah <em>magnum opus </em>mereka: <em>Market Structure and Foreign Trade.</em></p>
<p class="MsoBodyText" style="margin-bottom:6pt;">Krugman mengakui, setelah kerja keras yang membuahkan hasil hebat itu, dia merasakan krisis professional selama tiga tahun.Dari luar tak terlihat, karena dia tetap produktif menghasilkan karya ilmiah. “Dibanding 99,9% umat manusia, saya tidak punya alasan untuk tak puas,” tuturnya. “Tapi, kita tahu, manusia tak diciptakan merasa seperti itu. Pembanding emosional saya adalah para ekonom tersukses generasi saya, dan saya secara umum belum diperhitungkan masuk kelompok itu.”</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:6pt;text-align:justify;">Keterpurukan ini mencapai titik terendah pada 1987. lalu, entah mengapa, beban terasa hilang. Pada paruh kedua 1987, produktivitas riset Krugman tiba-tiba meledak. Mungkin Karena waktu itu Krugman cuti dari MIT dan menenggelamkan diri ke National Bureau of Economic Research yang penuh ekonom muda brilian. Sebelumnya, dia terlalu asyik mencari fulus dengan jadi pembicara dari satu seminar berorientasi kebijakan ke seminar mahal-tapi-tak-kelewat-inovatif lainnya.</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:6pt;text-align:justify;">Hal ini yang membuat produktivitas Krugman meledak adalah, percaya atau tidak, keberadaan <em>laptop </em>yang <em>user-friendly. </em>Dengan peralatan canggih yang bisa dibawa-bawa, dia yang biasa kerja cepat tapi <em>dis-organized </em>dan tak sabaran bisa menulis di mana saja, kapan saja.</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:6pt;text-align:justify;">Apa pun penyebabnya, pada 1987 dan 1988 Krugman menghasilkan 8 karya tulis serius yang sampai saat ini masih relevan, sekitar 15 makalah konferensi, dan dua buku (bersama penulis lain). Ilham salah satu karya tulis tersukses periode itu, tentang model dasar <em>exchange rate target zones, </em>muncul ketika Krugman terbang dari Tokyo ke London. Kepakaran Krugman dalam nilai tukar mendapat pengakuan luas – dia mampu meramalkan terjadinya krisis keuangan Asia Timur sebelum krisis tersebut pecah pada 1997. Sebab itu, dia menyesal tak mampu meramalkan krisis keuangan 2008.</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:6pt;text-align:justify;">“Sebetulnya, mekanisme efek domino yang menyebabkan <em>financial collapse </em>di AS dan merambat ke seluruh dunia sama dengan yang terjadi di Indonesia dan Argentina,” ujarnya dalam wawancara dengan Jim Lehrer.</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:6pt;text-align:justify;">Mulai tumbuhnya apresiasi di luar kalangan perdagangan internasional terhadap teori perdagangan yang dikembangkan Krugman mengembalikan semangatnya terhadap riset. Salah satu bentuk apresiasi tersebut adalah penghargaan akademis tertinggi Israel yang diberikan kepada Helpman dan John Bates Clark Medan 1991 yang diterima Krugman.</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:6pt;text-align:justify;">Untuk memenangi kedua penghargaan ini, menurut kalangan ekonom, setidaknya sesulit mendapatkan Nobel. John Bates Clark Medal, misalnya, diberikan hanya dua tahun sekali oleh American Economic Association dan hanya ke seorang ekonom berusia di bawah 40 tahun, sementara Nobel bisa diberikan sampai ke tiga ekonom berusia berapa saja (asal belum almarhum).</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:6pt;text-align:justify;">Alhasil, dengan memenangi John Bates Clark Medal, Krugman telah memastikan namanya ke dalam deretan ekonom (calon) penerima Nobel. Sudah aman baginya untuk masuk ke arena baru yang lebih luas. Maka, pada 1988 dia menerima tawaran buat menulis buku tentang perekonomian termutakhir AS. Setahun kemudian, diluncurkanlah <em>The Age of Diminished Expectations </em>yang salah satu babnya – yang membahas tuntas ketimpangan sosial – dimanfaatkan oleh Clinton buat memenangi Pemilu 1992.</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:6pt;text-align:justify;">Akan tetapi, untungnya, Krugman sendiri tak terpakai oleh Pemerintahan Partai Demokrat tersebut sehingga lebih leluasa mengkritik kebijakan Washington. Untungnya lagi, ujarnya, “Waktu itu saya tidak lantas melintas peran jadi seorang <em>TV personality. </em>Kalau sampai begitu, saya tidak tahu apa masih bisa mendisiplinkan diri untuk meneruskan riset saya.”</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:6pt;text-align:justify;">Berkat kebebasan berpikir yang masih penuh itu, Krugman yang terilhami <em>The Competitive Advantage of Nations </em>karya pakar strategi bisnis Michael Porter berhasil mengembangkan subjek kuliah yang sekarang menjadi klasik, <em>Geography and Trade. </em>Lebih dari itu, dia juga membidani sebuah model yang menggabungkan dua bidang terpisah, perdagangan internasional dan <em>economic geography, </em>yang sebetulnya dilandasi prinsip-prinsip yang sama, <em>increasing returns </em>dan <em>multiple equilibria. </em>Trik teknik yang diperlukan untuk membuat <em>tractable </em>model dari dua bidang itu juga sering sama. Bedanya Cuma pada relevansi kebijakan dan penekanan – perdagangan internasional terfokus pada <em>internal economies of scale, economic geography </em>pada <em>external economies of scale.</em></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:6pt;text-align:justify;">Berkat karya yang membuka kemungkinan yang sama sekali baru di dua bidang ekonomi yang terpisah, itu tadi, perdagangan internasional (pada 1980-an) dan <em>economic geography </em>(pada 1990-an), Krugman memenangi hadiah senilai US$1,4 juta. Keputusan tentang pemenang The Sveriges Riksbank Prize in Economic Science in Memory of Alfred Nobel 2008 – demikian nama resmi hadiah Nobel Ekonomi yang sebetulnya bukan dari Alfred Nobel itu – diumumkan oleh The Royal Swedish Academy of Science pada 13 Oktober lalu, di Stockholm.</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:6pt;text-align:justify;">Selama dua abad, para ekonom memandang perdagangan internasional menurut kacamata David Ricardo yang meluncurkan teori keunggulan komparatif pada awal 1800-an. Perbedaan kemajuan teknologi dan kekayaan sumber daya alam menyebabkan negara-negara yang relatif maju mengekspor beragam produk industri ke negara-negara berkembang, sebaliknya, mengimpor dari mereka berbagai produk pertanian. Pada abad ke-19 itu, Inggris (dan negara lain di kawasan dingin) adalah pengekspor terbesar produk manufaktur semacam tekstil ke Asia Selatan dan pengimpor utama produk semacam teh dan rempah-rempah dari India, Sri Langka (dan negara lain di kawasan tropis).</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:6pt;text-align:justify;">Dikembangkan lebih lanjut oleh Eli Heckscher dan Bertil Ohlin selama 1920-an dan 1930-an, teori itu menjelaskan bagaimana negara dan barisan buruh murah (tapi miskin modal capital) seperti Indonesia mengekspor garmen, tekstil, alas kaki (dan produk manufaktur sederhana lainnya) ke negara-negara dengan capital melimpah (tapi upah buruhnya tinggi) dan, sebaliknya, mengimpor mesin, otomotif (dan produk manufaktur berteknologi tinggi lainnya) dari negara semacam AS dan Jepang. Teori bahwa setiap negara akan mengekspor produk yang dapat mereka bikin dengan biaya relatif rendah tersebut sangat masuk akal, tak mengandung hal-hal yang meragukan. Tak mengherankan, pada 1960-an pandangan Ricardian ini pun mendominasi buku teks ekonomi di seluruh dunia.</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:6pt;text-align:justify;">Namun kemudian terlihat, sejak pasca Perang Dunia II, banyak perdagangan yang melenceng dari pola yang diramalkan Ricardo dan Heckscher-Olin. Perdagangan di antara negara maju dengan tingkat teknologi ataupun ragam produk kurang-lebih sama kian marak, apalagi setelah zona perdagangan bebas terbentuk di mana-mana. Jerman, misalnya, semakin banyak mengekspor VW ke Prancis dan, sebaliknya, bahkan banyak pula mengimpor Renault dari jiran dekat di Uni Eropa itu. Lebih dari itu, Jepang yang tak berada dalam zona ekonomi yang sama dan mengekspor banyak mobil berkualitas unggul ke Jerman, juga mengimpor sejumlah besar BMW.</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:6pt;text-align:justify;">Didasarkan pada pendekatan sama sekali berbeda dari asumsi Ricardian, model yang dikembangkan Krugman mampu menerangkan perdagangan internasional yang bersifat intraindustri tersebut. Perdagangan yang tampaknya hanya seperti tukar-menukar itu didorong oleh <em>demand </em>terhadap variasi, walau sedikit, dari produk yang serupa sekalipun. Dan kegiatan ini tetap menguntungkan bagi kedua belah pihak, karena terbentuknya persaingan dan perluasan pasar (yang meningkatkan skala ekonomi internal perusahaan) dapat menekan harga sehingga lebih dekat ke biaya marginal. Keuntungan yang diperoleh juga tak lantas hilang walau ada sumber daya yang tergerus biaya transportasi, sepanjang ongkos transportasi tersebut tak kelewat besar.</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:6pt;text-align:justify;">Di sisi akademis, teori Krugman membuka cakrawala untuk berbagai penelitian yang sama sekali baru pula. Salah satunya, yang hasilnya sering dijadikan pembenaran oleh negara yang (mengambil istilah B.. Habibie) ingin melakukan<span> </span>“lompatan katak” adalah penelitian tentang kebijakan strategis. Dikatakan “pembenaran” karena subsidi, proteksi dan kebijakan sejenis yang diberikan dalam rangka kebijakan strategis hanya menguntungkan perusahaan tertentu (dan, pada kasus semacam industri pesawat terbang kita, dalam jangka waktu terbatas pula), serta merugikan perekonomian secara keseluruhan.</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:6pt;text-align:justify;">Sumbangan Krugman di bidang <em>economic geography </em>menjelaskan mengapa terjadi konsentrasi populasi di kawasan tertentu secara umum, seperti di Los Angeles, dan konsentrasi jenis bisnis tertentu seperti di Silicon Valley. Aglomerasi yang tersebut sulit diterangkan oleh ketersediaan sumber daya tertentu yang dimiliki secara inheren oleh kawasan tersebut. Menggunakan prinsip <em>increasing returns </em>yang sama dengan perdagangan internasional, Krugman dengan mudah menjelaskan fenomena yang mirip urbanisasi tersebut.</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:6pt;text-align:justify;">Faktor pembentuk <em>increasing returns </em>tersebut adalah kombinasi <em>economies of scale </em>dan penurunan biaya transportasi. Biaya transportasi (minimal untuk mencapai konsumen) yang lebih murah akan memicu <em>self-reinforcing process </em>di mana populasi metropolitan yang tumbuh akan meningkatkan skala produksi, gaji riil, dan keragaman pasok barang. Hal ini pada gilirannya akan merangsang migrasi penduduk lebih lanjut ke kota. Ujng-ujungnya, menurut teori Krugman ini, akan terbentuk kawasan inti yang <em>hi-tech </em>dan terurbanisasi, dan kawasan pinggiran yang kurang berkembang.</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:6pt;text-align:justify;">“Jujur saja, saya sudah tahu bahwa hari seperti ini akan datang suatu saat, tapi tidak menyangka kalau itu adalah hari ini,” kata Krugman kepada <em>The New York Times </em>yang langsung menghubunginya begitu pemenang Nobel Ekonomi 2008 diumumkan. “Saya tahu orang-orang yang menjalani hidup untuk menunggu telepon (dari Stockholm), dan itu tidak baik untuk kesehatan jiwa. Jadi, saya hilangkan semua itu dari pikiran saya.”</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:6pt;text-align:justify;">Ketika menerima telepon dari seseorang beraksen Skandinavia, Krugman mengaku, “Saya sedang telanjang, mau mandi.” Dia konon cukup <em>surprised </em>setelah tahu bahwa itu bukan kerjaan yang iseng. Kendati demikian, penulis 200-an makalah ilmiah dan 20-an buku ini agaknya dapat mengendalikan diri. “Buat kalangan ekonom, (hadiah Nobel) ini hanyalah validasi, bukan berita,” ujarnya. “Kami sudah tahu apa saja yang kami masing-masing kerjakan.”</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:6pt;text-align:justify;">Ada, memang, beberapa pentolan konservatif yang menganggap Krugman tak pantas menerima penghargaan paling bergengsi itu. “Krugman sang ekonom sudah lama mati,” ujar Donald Luskin, <em>Chief Investment Officer </em>Trend Macrolytics, perusahaan konsultan di Menlo Park, California. “Krugman yang sekarang tidak bisa disekategorikan dengan John Maynard Keynes, dia cuma <em>public intelectual – </em>orang yang melakukan sesuatu di bidang yang sama dengan, katakanlah, Oprah Winfrey. Panitia Nobel telah merendahkan diri sendiri.”</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:6pt;text-align:justify;">Krugman sendiri mafhum, hadiah Nobel juga tak akan mengubah pandangan kalangan ekonom karena, itu tadi, semua sudah tahu-sama-tahu. “Yang suka akan tetap suka, yang <em>nggak </em>suka, ya, <em>nggak </em>suka,” katanya enteng.</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:6pt;text-align:justify;">Sebab itu, Krugman meyakinkan, hadiah US$1,4 juta yang diterimanya juga “tak akan mengubah secara signifikan gaya hidup saya.” Mengapa? Dia mengakui, dirinya bukanlah orang yang zuhud sehingga, jangankan hadiah sebesar itu, honor gede dan perjalanan gratis ke tempat-tempat yang menyenangkan pun “takkan saya tolak.” Kendati demikian, ada “tetapinya” – <em>the honest truth is that,” </em>tulisnya dalam blog pribadi, <em>“what drives me as an economist is that economics is fun…”</em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><!--[if !supportEmptyParas]--> <!--[endif]--></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Prih Sarniarto</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Riset: Ratu Nurul Hanifah</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">SWA 01/XXV/8 – 21 JANUARI 2009</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/huxleyi.wordpress.com/1096/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/huxleyi.wordpress.com/1096/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/huxleyi.wordpress.com/1096/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/huxleyi.wordpress.com/1096/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/huxleyi.wordpress.com/1096/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/huxleyi.wordpress.com/1096/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/huxleyi.wordpress.com/1096/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/huxleyi.wordpress.com/1096/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/huxleyi.wordpress.com/1096/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/huxleyi.wordpress.com/1096/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=huxleyi.wordpress.com&blog=4905801&post=1096&subd=huxleyi&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://huxleyi.wordpress.com/2009/01/15/ragam-pemikiran-seorang-pewaris-keyness-02/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/a015bc6e5a3945c0cf4e20624fff7843?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">retarigan</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://huxleyi.files.wordpress.com/2009/01/kruigman-rove.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">kruigman-rove</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Ragam Pemikiran Seorang Pewaris Keyness 01</title>
		<link>http://huxleyi.wordpress.com/2009/01/14/ragam-pemikiran-seorang-pewaris-keyness-01/</link>
		<comments>http://huxleyi.wordpress.com/2009/01/14/ragam-pemikiran-seorang-pewaris-keyness-01/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 14 Jan 2009 05:28:50 +0000</pubDate>
		<dc:creator>retarigan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Others Opinion]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://huxleyi.wordpress.com/?p=1089</guid>
		<description><![CDATA[
Paul Krugman, pemenang Nobel Ekonomi 2008, adalah satu dari sedikit ekonom yang namanya telah mendunia bahkan sebelum menerima penghargaan paling bergengsi itu. Inilah ragam pemikiran yang mengibarkannya jadi bintang di dua arena – akademis dan publik.

Paul Krugman adalah seorang superstar. Di panggung ilmu ekonomi – economic science – Krugman adalah salah satu bintang yang paling [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=huxleyi.wordpress.com&blog=4905801&post=1089&subd=huxleyi&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><!--[if gte mso 9]&gt;  Normal 0   &lt;![endif]--></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:6pt;text-align:justify;"><em><img class="alignright size-full wp-image-1091" title="paul-krugman" src="http://huxleyi.files.wordpress.com/2009/01/paul-krugman.jpg?w=206&#038;h=206" alt="paul-krugman" width="206" height="206" />Paul Krugman, pemenang Nobel Ekonomi 2008, adalah satu dari sedikit ekonom yang namanya telah mendunia bahkan sebelum menerima penghargaan paling bergengsi itu. Inilah ragam pemikiran yang mengibarkannya jadi bintang di dua arena – akademis dan publik.</em></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:6pt;text-align:justify;"><!--[if !supportEmptyParas]--><!--[endif]--></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:6pt;text-align:justify;">Paul Krugman adalah seorang <em>superstar. </em>Di panggung ilmu ekonomi – <em>economic science – </em>Krugman adalah salah satu bintang yang paling terang. Kelahiran Long Island, 28 Februari 1953 ini, bukan Cuma meraih Nobel pada usia yang relative muda, tetapi juga satu dari hanya tiga ekonom penerima tunggal penghargaan paling bergengsi tersebut dalam satu dasawarsa terakhir.</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:6pt;text-align:justify;">Pencapaian ini membuat Krugman berdiri sama tinggi dengan para ekonom puncak sekaliber Amartya Sen, Robert M. Solow, Milton Friedman dan Paul A. Samuelson. Bahkan mungkin lebih, karena nama professor pada Princeton University ini juga berkibar sebagai kolomnis. Tulisannya yang mudah dimengerti kalangan awam di <em>The New York Times, </em>dan muncul secara tetap dua kali seminggu sejak Januari 2000, telah membuat Krugman, dalam kalimat <em>Washington Monthly, “the most important political columnist in America”.</em></p>
<p class="MsoBodyText" style="margin-bottom:6pt;">Krugman sang ekonom berkibar sebagai penulis kolom politik?</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:6pt;text-align:justify;">Ya. Dengan pisau analisis ekonominya yang tajam, Krugman membedah kebijakan Pemerintahan George W. Bush yang membuat inflasi membumbung tinggi dan sangat menggerogoti daya beli masyarakat, jurang pendapatan melebar cepat dan terus membukukan rekor baru, defisit APBN dan perdagangan menggelembung tak tertahankan dan menjerumuskan dunia ke jurang krisis. Data yang dia ajukan tak terbantahkan.</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:6pt;text-align:justify;">Tak mengherankan, jutaan orang pun memuja Krugman sang kolomnis sebagai wakil mereka melawan apa yang dia sebut sebagai kalangan “<em>policy entrepreneurs” </em>– barisan pakar yang lebih suka bicara apa yang ingin didengar oleh para politisi dan, karenanya, memberikan pembenaran pada kebijakan yang diambil Washington. Sebaliknya, para ekonom yang berseberangan mencacinya. Apalagi, dia tak enggan menyebut nama.</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:6pt;text-align:justify;">Tudingan Krugman yang paling tajam adalah terhadap kebijakan luar negeri. Dia memaknai perang Irak sama dengan pemangkasan pajak yang dilakukan Bush: sebagai hadiah buat para sobat korporatnya. Dalam hal perang Irak, hadiah berupa kontrak militer melalui Carlyle Group itulah, menurutnya, yang jadi alasan pokok buat menjatuhkan Saddam Hussein.</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:6pt;text-align:justify;">“Mr. Bush telah merendahkan pemerintah kita dan melecehkan <em>the rule of law,” </em>tulisnya dalam sebuah kolom pada 18 Mei 2007. “Dia telah membawa kita pada bencana strategis dan kebobrokan moral.”</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:6pt;text-align:justify;">Kritik keras Krugman terhadap kebijakan Bush telah dilancarkan jauh sebelum penyerbuan ke Irak yang tanpa alas an valid itu terbukti membuat perekonomian Amerika Serikat (AS) terpuruk. Ketika perekonomian negeri adidaya itu lari kencang pada 2006 pun dia tak mengendurkan kecamannya. Simak saja sebuah artikelnya di <em>rolling stone.com </em>pada 30 November tahun itu.</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:6pt;text-align:justify;">“<em>Why doesn’t Bush get credit for the srong economy?” </em>Krugman membuka serangannya tanpa basa-basi. “Produk domestic bruto (PDB) meningkat; pengangguran, setidaknya menurut angka resmi, rendah menurut standar sejarah; nilai saham hamper seluruhnya pulih dari kejatuhan besar pada awal dasawarsa ini, dengan indeks Dow Jones yang menembus 12.000 untuk kali pertama. Namun, publik tetap saja sangat tak puas dengan kondisi perekonomian.”</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:6pt;text-align:justify;">Sebagai bukti, Krugman menampilkan hasil jajak pendapat yang menunjukkan betapa hanya segelintir anggota masyarakat AS yang menilai perekonomian nasional “<em>excellent” </em>atau “<em>good” – </em>mayoritas menganggapnya tak lebih dari “<em>fair”, </em>bahkan “<em>poor”. </em>Apakah rakyat tidak tahu terima kasih? Apa pemerintah yang tidak mampu meyakinkan khalayak? Atau media massa, seperti yang dituduhkan kalangan konservatif, yang sengaja tak mau menyampaikan berita baik itu?</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:6pt;text-align:justify;">Seperti seorang dosen memberikan kunci soal ujian <em>multiple choice, </em>Krugman menjawab retorika pembuka artikelnya itu dengan: “Bukan salah satu di atas.” Lalu dia menerangkan, “Alasan kebanyakan orang AS merasa perekonomian nasional hanya ‘sedang’, atau malah ‘jelek’, sangatlah sederhana: bagi kebanyakan rakyat AS, perekonomian memang jelek atau, paling banter, sedang-sedang saja.”</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:6pt;text-align:justify;">Mengapa? Tingkat gaji terseok oleh harga yang terus melambung. Bahkan ketika perekonomian tumbuh cukup tinggi pada 2005, pendapatan rumah tangga nonpensiunan tergerus oleh inflasi. Di tengah klaim pemerintah tentang pemulihan ekonomi, populasi kaum duafa membengkak. Pendek kata, kondisi perekonomian kebanyakan anggota masyarakat AS lebih jelek ketimbang pada 2000, ketika Bush baru masuk Gedung Putih.</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:6pt;text-align:justify;">Akan tetapi, dengan kue perekonomian yang membesar, bagaimana mungkin khalayak justru beroleh keratan yang lebih kecil? Sebab, segelintir elite mendapat potongan kue rezeki yang amat-sangat jauh lebih gede. Di tengah tingkat gaji yang mandek sejak 2000, laba korporasi meroket dua kali lipat sehingga perbedaan gaji antara para CEO dan rata-rata kalangan pekerja terus melebar. “Gaji rata-rata para CEO yang pada 1970-an kurang dari 30 kali gaji rata-rata karyawan,” ungkap Krugman, “telah meroket jadi 300 kali lipat pada 2006.”</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:6pt;text-align:justify;">Itu baru perbedaan gaji. Jurang pendapatan antara para eksekutif puncak bisnis dan karyawan biasa lebih lebar lagi. Bagaimana tidak, persentase potongan pajak buat kaum berpendapatan tinggi jauh lebih besar ketimbang yang buat berpendapatan rendah.</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:6pt;text-align:justify;">Kerena itu, Krugman menolak keras segala argumentasi para “<em>policy entrepreneurs” </em>yang mengecilkan arti pelebaran jurang pendapatan yang mencengangkan itu. Dalam berbagai kesempatan, dia membongkar tiga mitos yang mereka tiupkan buat menghibur khalayak yang hidupnya kian sulit.</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:6pt;text-align:justify;">Mitos#1, ketimpangan ekonomi utamanya adalah masalah kemiskinan. Mayoritas masyarakat AS, menurut pandangan ini, menikmati pertumbuhan ekonomi dan cuma sebagian sangat kecil yang di dasar yang tak kebagian. Buat mengentaskan khalayak tertinggal yang tak seberapa banyak itu, masyarakat kelas menengah mesti berkorban.</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:6pt;text-align:justify;">“Ini kebohongan,” ujar Krugman. “Kenyataannya, bukan cuma kaum miskin yang makin miskin – pendapatan mereka yang di tengah juga mandek, bahkan tergerus inflasi. Divergensi kekayaan justru terjadi antara mayoritas masyarakat AS dan segelintir warga yang luar biasa kaya di puncak piramida sosial.”</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:6pt;text-align:justify;">Mitos#2, ketimpangan ekonomi utamanya adalah masalah pendidikan. Ketika berbicara di depan Kongres pada 2005, Alan Greenspan mengatakan bahwa peningkatan gaji sebagian besar dinikmati oleh kalangan professional terampil berpendidikan tinggi – “boleh dibilang,” ujar mantan <em>Chairman </em>Federal Reserve itu, “oleh <em>the top twenty percent.” </em>Sisanya, yang 80%, yaitu mereka yang berpendidikan tak terlalu tinggi, terjerat pada pekerjaan rutin yang lalu menciut oleh komputerisasi atau tersapu oleh derasnya impor.</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:6pt;text-align:justify;">Di sini, Greenspan seolah-olah memberi resep <em>cespleng</em>: tingkatkan pendidikan, dan masyarakat akan sejahtera. Nyatanya, data menunjukkan, Greenspan salah diagnosis. <em>Top </em>20% adalah mereka yang berada di posisi antara 800 dan 1.000. Namun, bahkan mereka yang di posisi lebih bagus, antara 800 dan 950 – alias masyarakat AS berpendapatan US$ 80 ribu – 120 ribu – hanya bernasib sedikit lebih baik ketimbang mereka yang berada di bawahnya. Hampir seluruh peningkatan kesejahteraan dalam kurun 30 tahun terakhir dinikmati oleh 50 terpuncak.</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:6pt;text-align:justify;">“Sekarang, pendidikan tinggi tak menjamin Anda bisa jadi pemenang,” ujar Krugman. “Paling banter hanya bikin Anda tak begitu jadi pecundang.”</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:6pt;text-align:justify;">Mitos#3, ketimpangan ekonomi bukanlah masalah besar. Pandangan ini didasarkan pada premis bahwa AS adalah <em>the land of opportunity – </em>tanah yang memungkinkan siapa saja, laki-laki maupun perempuan muda miskin, melompat ke kelas tertinggi. Kenyataannya, walau ada yang berhasil melakukan lompatan kuantum, kisah sukses yang luar biasa tetap sesuatu yang langka.</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:6pt;text-align:justify;">“Mobilitas sosial di AS bahkan lebih rendah ketimbang di negara maju lain,” Krugman meyakinkan. “Sekarang, kisah sukses seperti itu lebih banyak di Kanada dan Finlandia. Lebih gampang bagi para kawula <em>alit </em>untuk naik kasta ke kelas sosial atas di – boleh dibilang – semua Negara maju lain, termasuk Inggris yang feodalistis itu, ketimbang di AS.”</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:6pt;text-align:justify;">Ketimpangan ektrem di atas, yang oleh sementara pakar dianggap sebagai produk sampingan yang tak terelakkan dari pertumbuhan ekonomi yang kencang di era globalisasi, Krugman yakin, bukanlah hal yang tak dapat dicegah. Sebab, pilihan politiklah, dan sama sekali bukan hukum ekonomi, tulisnya dalam <em>The Conscience of a Liberal, </em>yang membuat AS jadi negeri dengan segelintir elite kaya-raya, segundang kaum miskin, dan sekelompok kelas menengah yang kian melemah.</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:6pt;text-align:justify;">Pilihan politik macam apa yang dapat diharapkan mengurangi ketimpangan sosial dan meningkatnya pengangguran? Proteksi pasar?</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:6pt;text-align:justify;">Bukan itu, melainkan, seperti yang sering dikemukakan ekonom yang hakul-yakin dengan globalisasi itu, “Terutama menyangkut peningkatan dan penguatan hal-hal yang telah kita hancurkan: <em>health care </em>untuk anak-anak kita, pendidikan yang memadai buat anak-anak miskin, hal-hal semacam <em>earned income tax credit.” </em>Pada dasarnya, Krugman berpandangan tengah – walau sering dinilai kiri oleh para ekonom konservatif – menginginkan apa yang dia sebut sebagai <em>a sense of proporsion. </em>Kalau pemerintah (Bush) menaruh perhatian 10% saja dari kengototannya mengupayakan sedikit lebih banyak ekspor ke Jepang buat coba mencegat sejuta anak terperosok ke jurang kemiskinan, ujarnya selalu, “kita semua akan lebih baik.”</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:6pt;text-align:justify;">Proporsionalitas agaknya selalu mewarnai pemikiran Krugman. Dia mendukung penuh perdagangan bebas, tetapi tetap memberikan kekecualian untuk hal-hal yang memang perlu dikecualikan – asalkan, itu tadi, proporsional. Salah satu kekecualian langka yang membuat Krugman ambil sikap seperti orang yang menganggap perdagangan sebagai perang adalah persaingan di industri pesawat terbang komersial.</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:6pt;text-align:justify;">Untuk membela kepentingan AS di industri strategis ini, pada 1980-an Krugman menulis, “Kalau ruang di pasar dunia hanya muat buat satu produsen yang efisien, sebuah negara yang menguasai pasar terlebih dulu melalui subsidi kepada industri atau menghalangi impor mungkin akan mendapatkan <em>reward </em>berupa monopoli efektif.”</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:6pt;text-align:justify;">Meski begitu, Krugman tak kelewat yakin <em>potential gain </em>dari apa yang dikenal sebagai kebijakan perdagangan strategis ini cukup berharga. Seringnya, sang pemenang justru jadi si pecundang, seperti yang terjadi pada persaingan di industri <em>high-definition television. </em>Selain itu, di tangan orang-orang yang tak tahu batas, alias tidak proporsional, kebijakan perdagangan strategis tidak saja mengganggu kemaslahatan masyarakat, tetapi juga bisa membahayakan kepentingan nasional.</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:6pt;text-align:justify;">Dengan satu atau lain cara, masih menurut Krugman, <em>gain </em>yang didapat sebuah negara dari negara lain harus muncul dalam bentuk <em>term of trade </em>yang lebih baik – berapa banyak lebihnya yang kita peroleh melalui impor sebagai ganti dari yang kita jual lewat ekspor. Diukur dengan parameter objektif seperti ini, pertempuran antara para (negara) raksasa dunia tak lebih dari sekadar <em>shadow boxing. </em>Impor AS sekarang sedikit lebih mahal ketimbang pada 1960-an. Akan tetapi, dampak hal ini terhadap standar hidup rakyat AS sangat kecil. Dalam bahasa Krugman: “Cuma riak tak terukur di tengah samudra perubahan produktivitas yang menggelora.”</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:6pt;text-align:justify;">Wajarlah kalau Krugman sangat tidak setuju dengan segala jargon yang menganalogikan perdagangan dengan perang. Buat membela keyakinannya ini, dia kerap melontarkan kritik terbuka terhadap para sejawat ekonom – yang namanya paling disegani sekalipun. Salah satu sasaran tembaknya adalah Lester Thurow, ekonom canggih penulis <em>Head to Head: The Coming Economic Battle Among Japan, Europe and America.</em></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:6pt;text-align:justify;">“Apa bisa buku Thurow itu laku seper-sepuluhnya saja,” ujar Krugman seolah mencibir, “kalau <em>subtitle-</em>nya <em>‘The coming struggle in which each big company will succeed or fail based on its own efforts, pretty much independently of how well the others do’?”</em></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:6pt;text-align:justify;">Sejak meluncurkan buku populernya, <em>Peddling Prosperity, </em>pada 1994, Krugman memang selalu menentang <em>conventional wisdom </em>terkait isu-isu terpanas yang banyak digunakan para politisi Washington buat memikat khalayak. Terhadap isu defisit perdagangan dengan Jepang yang pada 1990-an itu dimanfaatkan banyak kalangan – dari politisi dan pemimpin serikat pekerja sampai analis dan akademisi – misalnya, Krugman cuma berkomentar, “<em>Nggak </em>penting. Hampir nggak <em>ngaruh </em>terhadap PDB.” Lalu, tentang isu “lapangan kerja dan tingkat gaji yang tergerogoti oleh barisan tenaga murah dari negara Dunia Ketiga”, dia juga menanggapinya <em>adem-ayem, </em>“Sangat dilebih-lebihkan; jauh lebih kecil efek jeleknya ketimbang ketertinggalan dalam produktivitas dan teknologi baru.”</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:6pt;text-align:justify;">Demikian pula banyak isu <em>hot</em> lainnya, yang ditanggapi Krugman dengan enteng. Ambil contoh isu betapa “perang ekonomi telah menggantikan perang dingin” (Ini sampah; tak seperti perang, perdagangan bukanlah <em>zero-sum game</em>) dan ide bahwa “negara bersaing satu sama lain” (<em>Nggak </em>betul itu, sebab tak seperti para korporasi, negara <em>nggak </em>bisa bangkrut dan para “karyawannya” – warga negara – terutama melakukan jual-beli di antara mereka sendiri).</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:6pt;text-align:justify;">Kegetolan membongkar kesalah(kaprah)an matematika yang dilakukan para <em>policy entrepreneurs </em>membuat banyak orang menggambarkan Krugman sebagai seorang James “<em>the Amazing” </em>Randi tingkat tinggi. Sekadar membuka ingatan, Randi adalah pesulap bertopeng yang muncul di acara televise untuk membongkar trik para pesaingnya, pesulap-pesulap kondang.</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:6pt;text-align:justify;">Bagi khalayak, Krugman bahkan mungkin lebih menarik karena dia bukan Cuma mengungkap cerita sebenarnya di balik kemampuan membengkokkan sendok dengan pikiran, melayang di atas tanah, menghilang dari dan muncul kembali ke panggung. Dia juga menyebut siapa melakukan ketololan apa. Thurow yang telah jadi professor di Massachusetts Institute of Technology (MIT) ketika Krugman masih remaja bau kencur, misalnya, dia katakana sebagai seorang penulis ‘bodoh’ yang tidak mengerjakan PR-nya. Bahkan Robert Reich, Menteri Tenaga Kerja era Presiden Clinton yang pendukung gigih gagasan daya saing nasional itu, dia sebut “figure ofensif, pencetus istilah yang brilian tapi bukan pemikir serius”.</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:6pt;text-align:justify;">Serangan gencar yang dilakukan Krugman terhadap para ekonom dan pakar lain yang dekat dengan kekuasaan, seperti Reich, membuat sementara orang mencibir. Ekonom bermulut tajam ini, menurut mereka, iri karena tak mendapat jabatan. Dia dikatakan kecewa berat karena kursi kepala Dewan Penasihat Ekonomi yang konon diincarnya diberikan kepada Laura D’Andrea Tyson.</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:6pt;text-align:justify;">Pada awal 1990-an itu, analisis Krugman tentang melebarnya ketimpangan pendapatan masyarakat telah banyak membantu Clinton memenangi pemilu. Kendati demikian, dia tak kelewat disukai oleh orang-orang sang Presiden. Maklum, ekonom brilian yang relatif muda ini, waktu itu dia baru 42 tahun, punggungnya terlalu kaku – susah buat <em>munduk-munduk </em>di hadapan kelompok yang dijuluki “<em>Friends of Bill”. </em>Maka, tak loloslah Krugman ke <em>inner circle </em>Clinton.</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:6pt;text-align:justify;">Tak terkait dengan lingkar kekuasaan, Krugman jadi bebas mengemukakan apa pun yang ada dibenaknya. Dan, itu tadi, yang keluar dari benaknya sering bukan hal yang enak didengar atau dibaca, walau perlu. “Sesuatu yang betul-betul aneh sedang terjadi,” tulisnya tentang konferensi puncak ekonomi yang diselenggarakan Presiden-terpilih di Little Rock, Arkansas, pada Desember 1992. “Seolah <em>high-profile conference </em>itu pertemuan para ahli jiwa kelas dunia – di podium sana, memberikan sambutan utama, adalah John Bradshaw, memberi tahu saya bagaimana caranya terhubung dengan kanak-kanak yang ada dalam diri saya.”</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:6pt;text-align:justify;">Cerita soal “<em>how to get in touch with my inner child” </em>ini hanya satu dari sekian kumpulan kritik terhadap para <em>policy entrepreneurs</em>. Banyak artikel kritis lain dibukukan oleh Krugman menjadi <em>Pop Internationalism.</em></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:6pt;text-align:justify;">Kegemaran Krugman menjatuhkan orang yang berseberangan pendapat itu tak pelak memberikan cap kepadanya sebagai orang yang suka mempromosikan diri sendiri. Ditanya tentang kesan terhadap Krugman yang pada 1994 kembali ke MIT setelah dua tahun mengajar di Stanford, Thurow mengatakan, “Dia itu terlalu personal. <em>He make it hard to have a debate.”</em></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:6pt;text-align:justify;">Padahal, perlu dicatat, Thurow dan Krugman memiliki basis pandangan yang sama. Keduanya liberal dan berjuang tidak dengan kacamata ideologi melainkan demi kebaikan perekonomian nasional. Sangat peduli terhadap ketimpangan sosial, keduanya juga mendukung kebijakan yang sama – memperkuat serikat pekerja untuk memberi kalangan kerah biru <em>bargaining power </em>yang lebih kuat, mendorong edukasi guna meningkatkan keterampilan pekerja AS, dan redistribusi pendapatan melalui kebijakan pemerintah buat mengurangi ketimpangan.</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:6pt;text-align:justify;">Krugman sendiri tak begitu peduli pada pendapat lawan-lawannya. Dia bahkan biasa saja menerima surat berisi cacian dari segala penjuru. Dalam wawancara dengan <em>Newsweek </em>pada 1996, lelaki berjanggut lebat ini bahkan dengan bangga menunjukkan surat-surat itu kepada reporter majalah berita yang cenderung konservatif tersebut.</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:6pt;text-align:justify;">“Artikel Anda bikin saya mau muntah,” demikian salah satu surat favoritnya. “Stanford harusnya memecat Anda,” bunyi surat lain yang tentunya dia terima pada 1990-1992. “’<em>Arrogant ass&#8212;e’ </em>adalah kalimat terbagus yang saya dengar baru-baru ini,” tuturnya seraya cengengesan. Namun, dia mengakui ada pula yang menyeramkan, seperti surat anonym yang kasih peringatan agar tak ikut campur urusan Washington dan menyebutnya sebagai “<em>Jew boy.”</em></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:6pt;text-align:justify;">Soal tak terpilih menduduki jabatan di Pemerintahan Clinton, Krugman juga cuma kasih komentar santai. “Saya secara temperamen tidak cocok buat peran semacam itu,” katanya. “(Untuk itu) kita harus betul-betul mumpuni dalam mendekati orang, <em>people skills, </em>mau menggigit lidah sendiri kalau orang <em>ngomong </em>hal-hal yang bodoh…”</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:6pt;text-align:justify;">Kendati demikian, seperti juga Thurow (yang tak ditarik oleh Jimmy Carter), Krugman mengakui bahwa tertutupnya peluang menduduki kursi terhormat sebagai penasihat dalam pemerintahan Partai Demokrat telah mendorong dia mengalihkan perhatian para arena akademis ke ranah publik. Artinya, dia masuk ke ruang publik buat menerompetkan opininya berawal dari ketidaksengajaan. Dan mungkin inilah yang membuat<span> </span>Peter Beinart menggunakan judul “<em>The Accidental Radical” </em>ketika mengupas <em>The Great Uraveling, </em>kumpulan kolom Krugman di <em>The New York Times, Slate </em>dan Fortunes pada Oktober 2003.</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:6pt;text-align:justify;">Krugman sendiri melukiskan kariernya sebagai ekonom, bahkan seluruh jalan hidup profesionalnya, sebagai ketidaksengajaan. “Cinta pertama saya adalah sejarah,” tulisnya dalam blog pribadi. “Saya belajar sedikit matematika, Cuma mengambil yang saya butuhkan sambil jalan.”</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:6pt;text-align:justify;">Yang mendorong Krugman mengambil kuliah ekonomi adalah … buku <em>science fiction </em>karangan Isaac Asimov. Dalam trilogi yang sekarang menjadi klasik itu, <em>Foundation, </em>terbangun fantasi Krugman remaja untuk jadi “<em>psychohistorian” – </em>ilmuan sosial yang menggunakan pemahaman matematika kemasyarakatan yang dikuasainya buat menyelamatkan peradaban ketika Kerajaan Galactic ambruk. Sialnya, keahlian seperti itu tak (belum?) ada.</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:6pt;text-align:justify;">Lalu, sebagai pencinta sejarah, Krugman muda juga mulai melihat bahwa ilmu sosial yang satu ini lebih berkutat dengan “apa” dan “kapan” ketimbang “mengapa” dan dia<span> </span>menginginkan lebih dari itu. Untuk ilmu sosial lain dia menemukan, hanya ekonomi yang menarik dari segi subjek maupun metodenya. “Kekuatan model ekonomi untuk memperlihatkan<span> </span>bagaimana asumsi yang masuk akal menghasilkan kesimpulan yang mengejutkan, yang mampu memberikan <em>insight </em>jernih dari isu yang tak terlalu jelas,” tulisnya dalam esai bertajuk <em>Incidents from My Career, “</em>belum ada padanannya dalam ilmu politik maupun sosialogi.”</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:6pt;text-align:justify;">Suatu hari, mungkin saja akan lahir ilmu sosial terpadu seperti yang dibayangkan Asimov. Akan tetapi, pikir Krugman waktu itu, untuk sekarang ini hal terdekat dengan <em>psychohistory </em>yang bisa kita kuasai adalah … ekonomi. Maka, selulus dari SMA yang biasa-biasa saja – satu dari banyak John F. Kennedy yang tersebar di seluruh negeri – dia mengambil ekonomi sebagai kuliah pokok.</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:6pt;text-align:justify;">Di Yale University itu, Krugman muda tak mengambil seluruh mata kuliah ekonomi, cuma sedikit lebih banyak dari persyaratan minimum dan sisanya ditambal dengan berbagai mata kuliah sejarah. Mungkin sudah suratan, tuturnya, “Saya sangat beruntung, di masa dini itu mendapat kesempatan magang untuk melakukan riset ekonomi <em>beneran.”</em></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:6pt;text-align:justify;">Pada musim semi 1973, ketika Krugman masih kuliah tahun ke-3, William Nordhaus dan Tjalling Koopmans memberikan seminar <em>undergraduate </em>tentang energi dan isu yang terkait dengan sumber daya alam. Ketika mencari data untuk membuat makalah wajib mata kuliah ini, dia menemukan <em>international cross-section data </em>tentang harga dan konsumsi bensin, lalu menggunakannya untuk membuat karya tulis yang menunjukkan bahwa permintaan jangka panjang bensin akan cukup <em>price-elestic –</em> bertentangan dengan keyakinan orang banyak di AS waktu itu.</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:6pt;text-align:justify;">“Berkat makalah tersebut, Nordhaus menawari saya jadi asisten riset,” ujarnya. “Di titik itulah saya bisa bilang bahwa saya secara aktif menjadi ahli ekonom profesional.”</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:6pt;text-align:justify;">Nordhaus adalah ekonom jempolan, pengikut tradisi klasik MIT yang dimotori Robert Solow, penerima (tunggal) Nobel Ekonomi 1987. Ada beberapa jalan untuk melakukan riset yang baik di bidang ekonomi. Pertama, coba membuktikan dalil-dalil besar – siapa yang berani menyangkal kehebatan karya, katakanlah, Kenneth Arrow muda? (Arrow adalah penerima Nobel Ekonomi termuda dan, sebagai professor di Stanford, punya empat mahasiswa yang juga pemenang Nobel). Atau, kedua, coba melakukan pekerjaan empiris yang sangat rinci, seperti yang dilakukan Zvi Griliches (pemenang John bates Clark Medal pada 1965).</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:6pt;text-align:justify;"><!--[if gte mso 9]&gt;  Normal 0   &lt;![endif]--> &lt;!&#8211;  /* Style Definitions */ p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal 	{mso-style-parent:&#8221;"; 	margin:0cm; 	margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:12.0pt; 	font-family:&#8221;Times New Roman&#8221;; 	mso-fareast-font-family:&#8221;Times New Roman&#8221;;} p.MsoBodyText, li.MsoBodyText, div.MsoBodyText 	{margin:0cm; 	margin-bottom:.0001pt; 	text-align:justify; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:12.0pt; 	font-family:&#8221;Times New Roman&#8221;; 	mso-fareast-font-family:&#8221;Times New Roman&#8221;;} @page Section1 	{size:612.0pt 792.0pt; 	margin:72.0pt 90.0pt 72.0pt 90.0pt; 	mso-header-margin:36.0pt; 	mso-footer-margin:36.0pt; 	mso-paper-source:0;} div.Section1 	{page:Section1;} &#8211;&gt;</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:6pt;text-align:justify;"><strong>A</strong>kan tetapi, lanjut Krugman, “Yang paling menarik hati saya sejak melihat Nordhaus mempraktikkannya dalam menganalisis energi adalah gaya MIT: membuat model-model kecil yang diterapkan pada permasalahan riil, mengombinasikan observasi dunia-nyata dengan matematika buat mengungkap inti sebuah isu.”</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:6pt;text-align:justify;">Pada musim panas pertama bekerja dengan Nordhaus, Krugman muda melihat betapa sang profesor memulai penelitiannya dengan dugaan kabur bagaimana melakukan pendekatan untuk <em>pricing</em> yang tepat bagi (produk) energi. “Saya menyaksikan bagaimana proses dia mengkristalisasi pendekatan itu jadi sebuah model, dan melihat bagaimana model tersebut mengubah persepsi semua orang terhadap permasalahan yang diteliti,” ujarnya mengenang. “Memang, baru bertahun-tahun kemudian saya siap melakukan hal yang sama, tapi saya beruntung bisa secara dini mendapatkan gambaran apa ilmu ekonomi itu.”</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:6pt;text-align:justify;">Sebagai murid Nordhaus, adalah wajar selulus dari Yale pada 1974, Krugman meneruskan ke MIT. Pada pertengahan 1970-an itu, teori ekspektasi rasional sedang mengalami pasang naik dan merevolusi ekonomi makro. Agak skeptis terhadap teori baru ini, para profesor senior MIT tetap mengajarkan teori Keynes – suatu hal yang menguntungkan (setidaknya bagi Krugman yang kelak dikenal sebagai pewaris sejati John Maynard Keynes, salah satu ekonom terbesar itu), karena memasuki 1980-an teori ekuilibrium makro telah menancapkan dominasinya.</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:6pt;text-align:justify;">Di tengah revolusi tersebut, semangat para mahasiswa ikut menggelora: seluruh aspek teori ekonomi tampak perlu pembaruan. Bagi mereka yang tertarik ekonomi makro internasional – dan masuknya Rudi Dornbusch ke MIT pada 1975 jadi magnet kuat ke arah ini – ada tantangan lebih. Sistem keuangan global baru yang tak lagi mengaitkan nilai dolar dengan emas (atau apa pun), memacu banyak orang untuk jadi yang pertama menemukan teori tentang mekanisme nilai tukar mengambang.</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:6pt;text-align:justify;">Bagi Krugman, Dornbusch membawa pesona tersendiri. Ketika pertama di MIT, kelahiran Krefeld, Jerman, yang mendapat genar Ph.D. di bidang ekonomi dari University of Chicago ini adalah “ekonomnya ekonom”, terkenal dengan karya tulisnya yang memiliki alur pikir sangat gambling. Lalu, pelan tapi pasti, Rudiger “Rudi” Dornbusch bermetamorfosis jadi <em>policy guru – </em>advisnya diburu oleh kalangan pemerintahan ataupun banker seluruh dunia. “Saya tak tahu apakah kemungkinan buat mengembangkan peran seperti itu baru atau tidak,” katanya, “tapi, dulu, hal itu betul-betul baru buat saya.”</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Prih Sarniarto</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Riset: Ratu Nurul Hanifah</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">SWA 01/XXV/8 – 21 JANUARI 2009</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/huxleyi.wordpress.com/1089/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/huxleyi.wordpress.com/1089/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/huxleyi.wordpress.com/1089/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/huxleyi.wordpress.com/1089/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/huxleyi.wordpress.com/1089/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/huxleyi.wordpress.com/1089/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/huxleyi.wordpress.com/1089/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/huxleyi.wordpress.com/1089/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/huxleyi.wordpress.com/1089/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/huxleyi.wordpress.com/1089/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=huxleyi.wordpress.com&blog=4905801&post=1089&subd=huxleyi&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://huxleyi.wordpress.com/2009/01/14/ragam-pemikiran-seorang-pewaris-keyness-01/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/a015bc6e5a3945c0cf4e20624fff7843?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">retarigan</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://huxleyi.files.wordpress.com/2009/01/paul-krugman.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">paul-krugman</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Sikap Anda Adalah Kuncinya</title>
		<link>http://huxleyi.wordpress.com/2008/11/19/385/</link>
		<comments>http://huxleyi.wordpress.com/2008/11/19/385/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 19 Nov 2008 04:35:36 +0000</pubDate>
		<dc:creator>tecnosolutio</dc:creator>
				<category><![CDATA[Others Opinion]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://huxleyi.wordpress.com/?p=385</guid>
		<description><![CDATA[
Bersikaplah bagaimana harusnya. Karena sikap menentukan kualitas.
       <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=huxleyi.wordpress.com&blog=4905801&post=385&subd=huxleyi&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><a href="http://huxleyi.files.wordpress.com/2008/11/sikap-anda-adalah-kuncinya.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-384" title="sikap-anda-adalah-kuncinya" src="http://huxleyi.files.wordpress.com/2008/11/sikap-anda-adalah-kuncinya.jpg?w=500&#038;h=375" alt="sikap-anda-adalah-kuncinya" width="500" height="375" /></a></p>
<p style="text-align:center;">Bersikaplah bagaimana harusnya. Karena sikap menentukan kualitas.</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/huxleyi.wordpress.com/385/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/huxleyi.wordpress.com/385/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/huxleyi.wordpress.com/385/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/huxleyi.wordpress.com/385/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/huxleyi.wordpress.com/385/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/huxleyi.wordpress.com/385/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/huxleyi.wordpress.com/385/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/huxleyi.wordpress.com/385/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/huxleyi.wordpress.com/385/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/huxleyi.wordpress.com/385/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=huxleyi.wordpress.com&blog=4905801&post=385&subd=huxleyi&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://huxleyi.wordpress.com/2008/11/19/385/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/fdd1b7bc6ccd2e73b3eb7265868f5dc3?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">tecnosolutio</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://huxleyi.files.wordpress.com/2008/11/sikap-anda-adalah-kuncinya.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">sikap-anda-adalah-kuncinya</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>“Hidup Adalah Pilihan”</title>
		<link>http://huxleyi.wordpress.com/2008/11/17/%e2%80%9chidup-adalah-pilihan%e2%80%9d/</link>
		<comments>http://huxleyi.wordpress.com/2008/11/17/%e2%80%9chidup-adalah-pilihan%e2%80%9d/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 17 Nov 2008 00:40:55 +0000</pubDate>
		<dc:creator>tecnosolutio</dc:creator>
				<category><![CDATA[Others Opinion]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://huxleyi.wordpress.com/?p=352</guid>
		<description><![CDATA[
Setiap orang pasti memiliki pengalaman dalam hal memilih. Baik dalam keadaan sadar atau pun tidak, dalam setiap tarikan nafas, kita selalu diperhadapkan dengan pilihan. Apakah pilihan itu sesuai dengan harapan kita atau jauh dari harapan, kita tetap harus memilih. Dalam keadaan tertentu, ketika kita memutuskan untuk tidak memilih pun, sesungguhnya kita sudah memilih, yaitu memilih [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=huxleyi.wordpress.com&blog=4905801&post=352&subd=huxleyi&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">
<div id="attachment_353" class="wp-caption alignleft" style="width: 310px"><a href="http://huxleyi.files.wordpress.com/2008/11/life-is-choice.jpg"><img class="size-medium wp-image-353" title="life-is-choice" src="http://huxleyi.files.wordpress.com/2008/11/life-is-choice.jpg?w=300&#038;h=225" alt="Life is Choice" width="300" height="225" /></a><p class="wp-caption-text">Life is Choice</p></div>
<p>Setiap orang pasti memiliki pengalaman dalam hal memilih. Baik dalam keadaan sadar atau pun tidak, dalam setiap tarikan nafas, kita selalu diperhadapkan dengan pilihan. Apakah pilihan itu sesuai dengan harapan kita atau jauh dari harapan, kita tetap harus memilih. Dalam keadaan tertentu, ketika kita memutuskan untuk tidak memilih pun, sesungguhnya kita sudah memilih, yaitu memilih untuk tidak memilih.</p>
<p class="MsoNormal"><span><!--[if !supportEmptyParas]--><!--[endif]--></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Memang ada beberapa hal yang sedari awal kehidupan, kita tidak diberi kebebasan untuk memilih. Yaitu, ketika Sang Pencipta menentukan kita lahir sebagai etnis tertentu. Kita juga tidak dapat memilih siapa orangtua kandung kita. Kita tidak dapat memilih waktu kapan dan dimana kita akan kembali ke dunia kematian. Maka sesungguhnya kehidupan awal dan akhir, Sang Pencipta sudah menentukan takdir kita, namun di dalam proses kehidupan, kita diberi kebebasan untuk memilih, akan menjadi seperti apa kita dalam titik tertentu dari kehidupan. Kita bebas memilih siapa kelak yang menjadi teman hidup kita untuk mengarungi samudera luas kehidupan rumah tangga. Kita memiliki hak untuk memilih profesi apa yang akan kita jalani untuk menghidupi keluarga kita. Kita juga bebas memilih dengan siapa kita berteman, apakah dengan orang berpendidikan atau dengan orang-orang yang meng-hamba-kan dirinya di “kehidupan malam”.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span><!--[if !supportEmptyParas]--><!--[endif]--></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Satu hal yang paling membedakan kita dibandingkan makhluk ciptaan Tuhan yang lain, adalah hak untuk memilih itu. Setiap orang memiliki pemahaman tertentu ketika dihadapkan dengan suatu pilihan, maka mau tidak mau manusia harus memilih. Setelah itu Sang Pencipta akan melimpahkan berkat dan rahmat-Nya terhadap pilihan manusia tersebut.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span><!--[if !supportEmptyParas]--><!--[endif]--></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Persoalannya adalah, banyak manusia yang meratap setelah dia menentukan pilihan. Dia merasa bahwa pilihannya salah, dan menganggap pilihannya tersebut tidak mendapat berkat atau ridho dari sang Pemilik. </span><span lang="PT-BR">Akibatnya dia menyesali semua yang sudah dia pilih dan yang telah dia jalani. Pada akhirnya dia menjadi apatis, dan mengambil kesimpulan sendiri yang sempit, bahwa itu adalah <strong>nasib</strong> atau <strong>takdir</strong>.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="PT-BR"><!--[if !supportEmptyParas]--><!--[endif]--></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="PT-BR">Dalam benak saya, bahwa hidup kita ini, dari awal hingga akhir adalah kumpulan <em>puzzle-puzzle</em> yang saling berhubungan dan saling melengkapi. Atau boleh juga dikatakan sebagai hubungan satu titik ke titik yang lain yang akan terangkai menjadi suatu garis kehidupan. Yang pada akhirnya, dari setiap pilihan itu, akan terbentuk hubungan maya (<em>virtual link</em> – kata orang teknologi komunikasi) dan menempatkan kita di suatu tempat tertentu.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="PT-BR"><!--[if !supportEmptyParas]--><!--[endif]--></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="PT-BR">Sebagai contoh, ketika saya usia dini, untuk masuk ke sekolah dasar (dimasa saya tidak wajib TK – dan memang belum ada sekolah TK </span><span style="font-family:Wingdings;" lang="PT-BR"><span>J</span></span><span lang="PT-BR">), saya dihadapkan dengan pilihan (dibantu orangtua tentunya) mau sekolah dimana? SD Negeri atau SD Inpres? Di desa atau di kota? Dekat rumah atau jauh dari rumah?. Dengan segala keterbatasan saya harus menentukan pilihan. </span><span>Begitu pilihan saya tentukan, maka saya sudah pasti tidak memilih yang lain. Dengan demikian dalam prosesnya, saya tidak boleh menyesali dan berkata “Kenapa saya pilih yang ini ya? Kalau saya pilih yang lain, pasti tidak begini, mungkin bisa seperti itu.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Inilah selalu yang menyebabkan banyak orang merasa telah salah pilih, akibatnya dia menjadi ragu harapan, bekerja dan berkarya tidak optimal. Padahal begitu dia memilih, malaikat Tuhan akan datang keatasnya untuk memberkati pilihannya tersebut.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Apakah ada perbedaan berkat Sang Khalik kepada orang yang memilih mau kuliah dimana, dengan seseorang yang memilih mau menikah dengan siapa? Sesungguhnya tidak, berkat akan diberikan sesuai dengan porsinya. Orang yang memilih sekolah X, tentu Tuhan akan memberkati proses belajarnya untuk mendapatkan hasil yang sesuai dengan kerja kerasnya. Bila seorang memilih menikah dengan seorang yang dicintainya, Tuhan pun akan memberkati keluarga yang dibinanya. Tentunya bila dia percaya keluarganya itu milik Tuhan, dan dia bertanggung jawab penuh terhadap pilihannya. Demikian seterusnya dalam setiap pilihan kita akan kehidupan, kita selalu diiringi oleh berkat yang seturut dengan usaha kita. Tuhan maha adil, Ia tidak akan menambahkan berkat bagi yang malas, dan juga tidak mengurangkan bagi yang rajin dan tekun.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span><!--[if !supportEmptyParas]--><!--[endif]--></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Demikian juga, begitu kita menyelesaikan satu tingkat pendidikan tertentu, ketika kita dihadapkan dengan pilihan akan bekerja dimana atau tidak mau bekerja? Mau bekerja dengan orang lain atau membangun usaha sendiri? Mau bekerja dengan orang lain selama 10 tahun atau kurang, setelah itu memulai usaha sendiri atau tetap menjadi pegawai sampai pensiun? Mau mendapatkan penghasilan tetap atau mau tetap berpenghasilan? Mau menjadi kepala kucing atau ekor harimau? Mau mendapatkan kebebasan atau keterikatan?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span><!--[if !supportEmptyParas]--><!--[endif]--></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><em><span>All of the above are choices</span></em><span>. Silakan memilih. </span><span lang="PT-BR">Semua pasti memiliki sebab dan akibatnya. </span><span>Bila saya memilih menjadi seorang pegawai 9 (<em>nine</em>) to 5 (<em>five</em>), maka saya hanya punya waktu Sabtu – Minggu bersama keluarga. Namun saya hanya perlu memikirkan gaji saya diakhir bulan. Bila saya mau memilih membuka usaha sendiri, maka saya tidak diikat oleh jam kerja, namun saya harus memikirkan orang lain, klien saya dan gaji karyawan saya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Bila saya memilih menjadi pegawai, saya cukup bertanggungjawab terhadap tugas pokok saya. Tetapi bila saya memilih memiliki usaha sendiri, saya harus bertanggung jawab terhadap ‘semuanya’.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span><!--[if !supportEmptyParas]--><!--[endif]--></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Beberapa orang berpikir, bahwa menjadi pegawai/karyawan itu lebih sedikit resiko daripada menjadi pengusaha. </span><span lang="PT-BR">Siapa bilang? Dari pengamatan saya, justru lebih berisiko menjadi pegawai daripada menjadi pengusaha. Mengapa? Karena bila perusahaan &#8211; </span><span lang="PT-BR">dimana seorang pegawai bekerja</span><span lang="PT-BR"> -<span> </span>mengalami masalah, maka orang tersebut akan memiliki resiko lebih besar dibandingkan pemilik usaha tersebut. Sang pemilik mungkin memiliki usaha lain yang dapat menyelamatkannya. Bagaimana dengan sang pegawai? </span><span>Apakah dia memiliki pilihan lain saat itu untuk mendapatkan penghasilan? Bila ya, <em>that’s great</em>, bila tidak <em>how poor themselves</em>.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span><!--[if !supportEmptyParas]--><!--[endif]--></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Bila kita amati lebih jeli, maka peluang menjadi pengusaha jauh lebih terbuka daripada peluang menjadi pegawai. Lihatlah berapa puluh ribu pengangguran intelektual bersaing memburu peluang kerja di Career Expo di Jakarta beberapa tahun terakhir. Karena masih mengandalkan ijasah dari univesitas ternama dengan IPK terbaik, mereka bermimpi untuk menjadi seseorang yang lebih berguna. Padahal lebih banyak peluang usaha mandiri dibandingkan kesempatan kerja yang diberikan pemerintah maupun swasta.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span><!--[if !supportEmptyParas]--><!--[endif]--></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Memang ada <em>mindset</em> yang perlu dibenahi dari para orangtua di kampung (bagi orang yang berasal dari desa </span><span style="font-family:Wingdings;"><span>J</span></span><span>). Bila seseorang sudah berpendidikan sarjana, mestinya jadi pegawai Negara. </span><span lang="PT-BR">Karena kalau dia menjadi pegawai swasta, tidak ada jaminan pensiun. Apa lagi bila setelah wisuda sarjana mengambil keputusan memulai usaha, maka orangtua akan katakan, “kalau mau ‘berdagang’ juga, ngapain sekolah tinggi-tinggi?”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Itulah yang menyebabkan masih banyak orang yang ber-<em>mindset </em>pegawai dibandingkan bermental <em>entrepreneur</em>.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span><!--[if !supportEmptyParas]--><!--[endif]--></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="PT-BR">Sistem pendidikan negeri kita tercinta ini juga memberi kontribusi terhadap hal tersebut. Saya masih ingat, ketika di sekolah, guruku menganjurkan, “anak-anak &#8230; belajar giat, dapatkan nilai terbaik, agar dapat kuliah di universitas favorit.” Saat kuliah, dosenku berkata, ”Capai IPK terbaik, kalau boleh predikat <em>Cum Laude</em>, agar banyak perusahaan mencari Anda.<span> </span>Kalau pun tidak, setidaknya lebih berpeluang untuk panggilan wawancara.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="PT-BR"><!--[if !supportEmptyParas]--><!--[endif]--></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="PT-BR">Inilah yang menyebabkan setiap sarjana, boleh dikatakan 95% (belum dilakukan riset) masih bermental pegawai. Selain dicekoki agar meraih hasil akademik tinggi, juga karena tidak diberikan pengetahuan yang cukup dan motivasi yang memadai bagaimana memulai usaha. Padahal negeri kita ini, untuk dapat menjadi bangsa yang terpandang dan disegani bangsa lain, dibutuhkan <em>enterprenuer-enterprenuer</em> muda yang mau berjibaku menjadi yang terbaik dalam bisnis.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="PT-BR"><!--[if !supportEmptyParas]--><!--[endif]--></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="PT-BR">Itulah sebabnya, ketika penulis mengambil keputusan untuk menjadi seorang pendidik, hal pertama yang ada didalam benak saya, saya tidak akan menyuruh mahasiswa saya untuk mendapatkan nilai tertinggi. Tetapi dapatkan ilmu sesuai porsinya dan terapkan saat Anda memulai bisnis. Kalaupun dalam tahap awal Anda memilih menjadi pegawai (karena keterbatasan modal atau pengetahuan), namun mental pengusaha itu sudah harus di-<em>release</em> sejak menjadi karyawan. Tentukan target, mau berapa lama bekerja di bawah orang lain? Setelah itu muncullah kepermukaan, tanpa gelar akademik, tanpa <em>curriculum vitae</em>, katakan, “saya akan mengelola bisnis saya sendiri!”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="PT-BR"><!--[if !supportEmptyParas]--><!--[endif]--></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="PT-BR">Secara pribadi, penulis pun belumlah menjadi pengusaha murni. </span><span>Masih tetap berafiliasi dengan institusi orang lain. Namun perlahan saya membangun fondasi bisnis dengan mendaftarkan 2 buah CV di departemen perindustrian yang dikelola secara mandiri oleh anggota keluarga. Lalu kapan akan total melakukannya? <em>As soon as possible</em>. Namun dunia pendidikan tidak akan pernah saya tinggalkan. Karena walau bagaimanapun, dunia pendidikan menjadikan saya kaya secara pengetahuan. Juga ada nilai kepuasan bathin yang tidak dapat di nilai dengan nilai rupiah atau dollar sekalipun. Itulah pilihan saya!</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span><!--[if !supportEmptyParas]--><!--[endif]--></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Saya memilih untuk menyeimbangkan kemampuan teknologi dengan pengetahuan bisnis. Dengan demikian, saya berharap memberikan sedikit kontribusi bagi keluarga, komunitas, bangsa saya dan dunia ini.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span><!--[if !supportEmptyParas]--><!--[endif]--></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Lalu, apakah anda sudah memutuskan untuk memilih? Ingat! Tidakpun anda memilih, sesungguhnya Anda sudah memilih, yaitu memilih untuk tidak memilih …</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span><!--[if !supportEmptyParas]--> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="PT-BR">Salam DAMAI,</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>15 November 2008 Pkl. 10.30 – 11.36 wib – Ruang Dosen Mkom Universitas Budi Luhur</span></p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/huxleyi.wordpress.com/352/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/huxleyi.wordpress.com/352/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/huxleyi.wordpress.com/352/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/huxleyi.wordpress.com/352/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/huxleyi.wordpress.com/352/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/huxleyi.wordpress.com/352/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/huxleyi.wordpress.com/352/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/huxleyi.wordpress.com/352/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/huxleyi.wordpress.com/352/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/huxleyi.wordpress.com/352/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=huxleyi.wordpress.com&blog=4905801&post=352&subd=huxleyi&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://huxleyi.wordpress.com/2008/11/17/%e2%80%9chidup-adalah-pilihan%e2%80%9d/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/fdd1b7bc6ccd2e73b3eb7265868f5dc3?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">tecnosolutio</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://huxleyi.files.wordpress.com/2008/11/life-is-choice.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">life-is-choice</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>