Posted by: retarigan | March 19, 2010

Public Services


BDr. RISWAN EFENDI TARIGAN

(Just call me, Riset)

Thinker, Self Motivator & Inspirator

[Professional Lecturer; Professional Stock Trader; Professional IT/S Consultant]

Mobile: 081316821966 (WA)

e-Mail: re.tarigan@gmail.com

My Other Blog’s, retariganforbranding.wordpress.com; retarigansite.wordpress.com

Doctoral Student of Business Information System at Overseas University ~ 2017 – 2021 – My Planning

Doctoral of Management & Business Program – Bogor Agricultural University (IPB) ~ 2010 – 2014 (No Dissertation)

Master of Information Technology – University of Indonesia (UI) ~ 2004 – 2006

Bachelor of Electrical Engineering – Christian University of Indonesia (UKI) ~ 2001-2003

Diploma of Electrical Engineering – Polytechnic of North Sumatera University (POLMED) ~ 1994-1997

Profesional Online Courses

Academic Integrity: Values, Skills, Action at The University of Auckland, (Feb 1 – 28, 2016)

Developing Your Research Project at University of Southampton (January 9 – 5 March 5, 2017)

Business Fundamentals: Effective Communication at The Open University (January 9 – February 12, 2017)

Innovation: The Key to Business Success at University of Leeds (January 9 – 29, 2017)

Inside IELTS at Cambridge English Language Assessment (January 9 – February 12, 2017)

Team of Committee Good Corporate Governance (GCG) at PT PANN (Persero) ~ Oktober 2010 – Desember 2012

Program Secretary of Master of Information Technology – University of Indonesia ~ 2006 – 2009

Professional Institution Membership:

Association for Information Systems (AIS), Academic Membership – [AIS ID: 300019428] (2016-2019)

Product Development and Management Association (PDMA) Indonesia, Academic Membership – [PDMA ID: 34947] (2016-2017)

Information Systems Audit and Control Associaton (ISACA), Professional Member [ISACA ID: 968203] (2016-2017)

Association for Information Systems Indonesia (AISINDO), Member [AISINDO.2015.08.03] (2015 – present)

Agricultural Economics Association of Indonesia (PERHEPI – Perhimpunan Ekonomi Pertanian Indonesia), Member (2013-2014)

Information Systems Audit and Control Association (ISACA), Member (2006 – 2007)

International & National Certification:

Masyarakat Profesi Penilai Indonesia [MAPPI-P] Properti : 2014 – Done

Building Cisco Multilayer Switched Networks [BCMSN] : 2002

Cisco Certified Design Associate [CCDA] : 2001-2004

 Cisco Certified Network Associate [CCNA] : 2000-2003

Professional Trader:

IDX Indonesia (Indo Premier); Forex; US Options Market (1JP A24)

Affiliated with BINUS University – Information Systems Graduate Program ~ 2010-now

Part Time Lecturer at: UPH Business School (Management & Business: 2015- now)University of Pelita Harapan (Information Systems: 2009- now), PPM School of Management (Business Management Undergraduate: 2006-2014), University of Bakrie (Information Systems: 2013-2014), University of Budi Luhur (Computer Graduate Program : 2008-2010), Universitas Indonusa Esa Unggul (Informatics: 2004-2006), University of Indonesia (Master of Information Technology: 2006-2009)

Part Time Instructor at: Sciencom Center for Professional Development (IT Project Management, IT Management, IT-Infrastructure Library, IT Strategic Plan, IT Governance, Corporate Governance: 2009-now)

Read More…

Posted by: retarigan | February 18, 2017

Brainy Quote ~ James M. Barrie


Brainy Quote ~ James M Barrie 001

Brainy Quote ~ James M Barrie 001

Anda pernah menginginkan sesuatu dan ingin memilikinya? Bagaimana rasanya, senang? Berapa lama rasa senang Anda setelah memilikinya? Tidak lama, kan? Bila Anda kehilangannya, apakah Anda merasa sedih? Seberapa sedih? Terkadang kita tidak merasa kehilangan apa-apa walaupun sesuatu itu tidak ada pada kita lagi.

Banyak orang ingin memiliki apa yang dimiliki orang lain. Padahal, belum tentu apa yang dia inginkan benar-benar ia butuhkan. Keserakahan merupakan salah satu sifat dasar manusia. Sampai di batas tertentu, dia merasa sudah memiliki terlalu banyak dan terkadang kepemilikan itu justru membebani.

Pertanyaan selanjutnya, apakah semua yang ditawarkan dunia ini perlu kita miliki? Bila tidak, apakah kita tidak bisa lebih bersukacita dibandingkan orang lain? James M. Barrie, seorang Dramawan berkebangsaan Skotlandia, hidup dalam rentang tahun 1860-1937, pernah memberikan quote, We never understand how little we need in this world until we know the loss of it.’ Secara bebas, terjemahannya, ‘Kita tidak pernah mengerti betapa sedikit yang kita butuhkan di dunia ini sampai kita kehilangannya.’ Dia menyadari dan menyadarkan kita bahwa tidak semua perlu kita miliki. Apa yang benar-benar kita butuhkan hanyalah sesuatu yang kita akan kehilangannya ketika ia tidak ada lagi bersama kita.

Uang memang penting, tetapi bukan sesuatu yang paling kita butuhkan. Harta benda mungkin kita butuhkan, tetapi tidak juga membuat kita merasa benar-benar kehilangan, andaikan ia ‘diambil’ dari kita. Keluarga, teman dan sahabat, sepertinya merupakan hal terutama yang kita butuhkan. Karena ketika ketiadaan mereka, kita benar-benar merasa kehilangan. Kita merasa sendiri dan kesepian. Rasa tidak ‘memiliki apa-apa’ justru kita alami saat kehilangan mereka walaupun kita memiliki harta benda yang banyak.

Hal tersebut mengingatkan kita untuk menyadari bahwa yang benar-benar kita butuhkan sesungguhnya tidaklah banyak. Persaudaran dan persahabatan sebenarnya harta terbesar manusia selama menjalani kehidupan di bumi. Pada akhirnya, apa yang ada akan dipisahkan dari kita. Pada saat kita tidak memiliki apa pun lagi, disitulah kita menyadari sebenarnya hanya sedikit sekali yang kita butuhkan dalam hidup ini.

Permasalahannya adalah, sering sekali kita sudah terlambat menyadarinya bahwa kita hanya membutuhkan sedikit dan yang sedikit itu memang benar-benar menjadi kebutuhan kita. Tetapi manusia justru direpotkan oleh yang tidak dibutuhkan. Hanya karena hasrat keinginannya, mereka pada akhirnya menyesalinya.

Mulai sekarang, sadari yang benar-benar kita butuhkan. Cukupkanlah dan optimalkan yang sedikit itu, karena memang hanya itu kebutuhan kita.

Tangerang Selatan, 18 Februari 2017

Riset Corporation

Pages: 1 2

Posted by: retarigan | February 15, 2017

Mencari Pemimpin yang Mampu Memimpin!


Mencari Pemimpin yang Mampu Memimpin!

Author: Riswan E. Tarigan

Pemimpin Berkarakter 01

Pemimpin Berkarakter 01

Hari ini, Rabu tanggal 15 Februari 2017 bertepatan dengan PEMILUKADA terhadap 101 daerah di seluruh Indonesia. Semua sedang mencari pemimpin pemerintahan. Ada daerah dengan 4 calon, ada yang 3 calon, ada 2 calon, ada yang hanya 1 calon yakni petahana. Siapapun yang memenangkannya, masyarakat mengharapkan pemimpin yang mampu mengelola sumber daya yang dimiliki serta memberdayakan masyarakat sesuai dengan potensi mereka.

Mengenai pemimpin, John C. Maxwell (1947 – …), seorang pendeta, pembicara, dan penulis Amerika memberi quoteA leader is one who knows the way, goes the way, and shows the way.’ Seorang pemimpin adalah orang yang mengerti jalan, melangkah melalui jalan itu, dan menunjukkan jalan yang harus dilalui. Pemimpin harus mampu menjadi teladan bagi orang yang dipimpinnya.

Menjadi tantangan tersendiri bagi pemimpin di Indonesia yang masih sarat dengan politik transaksi. Tanpa dibarengi dengan integritas dan kejujuran sulit rasanya bagi pemimpin pemerintah untuk membawa negeri ini ke arah yang lebih baik sebagai bangsa yang bermartabat. Walaupun saat ini sudah muncul sejumlah tokoh pemimpin yang mampu menjadi teladan, baik dalam cara memimpin maupun kesederhanaan dalam perilaku hidup sehari-hari.

Pemimpin Berkarakter 02

Pemimpin Berkarakter 02

Ada fenomena kepemimpinan pada seorang Basuki Tjahaja Purnama saat ini sebagai Gubernur DKI Jakarta. Ketegasan dan konsistensinya memberantas perilaku korup menempatkan dirinya harus berhadapan dengan orang-orang yang merasa dirugikan karena sepak terjangnya. Namun, begitulah seorang pemimpin. Berani bertindak tidak populer dimata orang-orang, baik yang membencinya maupun yang mendukungnya. Karakter pemimpin ada di dirinya kecuali gaya komunikasinya. Itulah BTP dengan keberadaannya.

Bila merujuk quote Ray Kroc (1902 – 1984), seorang pengusaha yang membeli McDonald’s Corporation, ‘The quality of a leader is reflected in the standards they set for themselves.’ Kualitas seorang pemimpin tercermin dalam standar yang mereka tetapkan untuk diri mereka sendiri. Standar apa yang ditentukan oleh seorang pemimpin maka standar itu juga berlaku pada diri dan keluarganya. Itulah pemimpin sejati. Bukan sekadar lips service untuk mendapatkan dukungan. Namun, kenyataannya jauh panggang dari api.

Pemimpin harus menjadi panutan. Karena pengikutnya akan mengikuti apa yang dilakukannya, bukan apa yang dikatakannya. Pemimpin juga harus memahami apa yang sudah dimiliki, apa yang dibutuhkan, dan bagaimana mewujudkan harapan sekaligus mimpi bersama para pengikutnya. Andaikan seorang pemimpin hanya mampu dan mau melakukan apa yang dia mau tanpa mampu mendengar apa yang tidak terdengar, melihat apa yang tidak terlihat, maka ia tidak layak menjadi seorang pemimpin. Karena pemimpin harus mampu berempati untuk mendengar dan melihat apa yang tidak mampu dilakukan orang lain yang tidak memiliki kapasitas dan kapabilitas seorang pemimpin.

Pemimpin Berkarakter 03

Pemimpin Berkarakter 03

Semoga dengan Pemilukada 2017, semakin banyak muncul orang-orang berkarakter pemimpin. Sehingga setiap daerah yang tersebar dari Sabang sampai Merauke, perlahan namun pasti menjadi daerah yang maju selaras dengan kearifan lokal yang dimilikinya. Dengan demikian Indonesia akan memiliki tempat istimewa di mata dunia. Sebagai sebuah negara yang memiliki ‘segalanya’ sudah sepantasnya Indonesia menjadi perhatian warga dunia, terutama hal-hal yang bersifat positif. Sehingga Indonesia akan dikenal sebagai bangsa yang memiliki sumber daya terutama sumber daya manusia yang berintegritas, jujur dan memiliki nilai-nilai luhur sebagai umat manusia yang berakhlak mulia.

Tangerang Selatan, 15 Februari 2017

Riset Corporation

–o0o–


Ranjan Das, CEO dan MD SAP-Indian Subcontinent Meninggal Terkena Serangan Jantung di Usia 42 Tahun

Ranjan Das, CEO dan MD SAP-Indian Subcontinent meninggal setelah terkena serangan jantung di Mumbai baru-baru ini. Dia adalah salah satu CEO termuda & usianya baru 42 tahun. Apa sebenarnya penyebab kematian Ranjan Das?

RIP Ranjan Das ~ CEO SAP and MD Indian Subcontinent

RIP Ranjan Das ~ CEO SAP and MD Indian Subcontinent

Dia sangat rajin berolahraga, penggila fitness dan seorang pelari marathon juga. Setelah berolahraga, ia tidak sadarkan diri karena serangan jantung dan meninggal. Dia punya istri dan 2 anak yang masih kecil.

Hal ini harus menjadi perhatian untuk semua perusahaan besar di India, terutama para pimpinannya. Pertanyaannya adalah kenapa seorang yang sangat aktif berolahraga dan seorang pelari, bisa kena serangan jantung di umur yang masih 42 tahun. Semua orang melewatkan sebaris kalimat dalam laporan, bahwa Ranjan biasa tidur hanya 4-5 jam. Dalam wawancara sebelumnya dengan Ranjan, ia mengakui selalu kurang tidur dan ingin bisa tidur lebih banyak.

Lama waktu tidur yg singkat (<5 or 5-6 jam) bisa meningkatkan risiko darah tinggi sebesar 350% -500% dibanding orang yang tidur >6 jam/malam.

Orang berumur 25-49 tahun 2x lebih besar terkena darah tinggi jika kurang tidur. Orang yang tidur < 5 jam/malam berisiko terkena serangan jantung 3x lipat. Satu malam kurang tidur meningkatkan zat racun dalam tubuh seperti Interleukin-6 (IL-6), Tumour necrosis factor-alpha (TNF-alpha) and C-reactive protein (CRP). Juga menyebabkan kanker, arthritis dan penyakit jantung. Tidur <=5 jam per malam memicu risiko sakit jantung 39% . Tidur <=6 jam memicu risiko sakit jantung 8%.

Berapa lama tidur yg ideal. Singkatnya, tidur terdiri dari 2 tahap: REM (Rapid Eye Movement) dan non-REM. REM membantu kesehatan mental sementara nonREM membantu pemulihan tubuh & pembentukan sel. Tidak heran jika seseorang bangun dari tidur yang hanya 5-6 jam, ia akan mudah marah sepanjang hari. Jika seseorang tidur kurang dari 5 jam, tubuh masih sangat lelah (lack of non-REM sleep), dan imunitasnya juga turun.

Kesimpulannya: untuk mengontrol stres, Ranjan melakukan segala sesuatu yang dianggapnya sehat: makan makanan yang sehat, olahraga, menjaga berat badan. Tapi ia tidak memperhatikan lama istirahatnya (tidur min 7 jam). Itulah yang membunuhnya. Ranjan tidak sendiri dalam hal ini. Do Share it with all the Good People In ur Life…??

From: DR.N Siva (Senior Cardiologist)

Riset mengomentari ….

Pages: 1 2

Posted by: retarigan | February 12, 2017

Brainy Quote ~ Mary Kay Ash 002


Brainy Quote ~ Mary Kay Ash 002

Brainy Quote ~ Mary Kay Ash

Anda sibuk? Berarti Anda memiliki pekerjaan, kecuali Anda pura-pura sibuk walau tidak bekerja. Pertanyaan sesungguhnya, ‘apa manfaat kesibukan yang Anda lakukan? Bila kesibukan Anda hanya bermanfaat bagi diri Anda, berarti kesibukan Anda belum optimal dan belum memberi nilai tambah bagi banyak orang. Sebaiknya setiap kesibukan memberi manfaat banyak bagi orang lain, itulah kesibukan yang bernilai.

Sibuk tidak salah. Yang salah bila dengan terlalu sibuk, Anda lupa memperhatikan orang lain di sekitar Anda. Mary Kay Ash, seorang Entrepreneur yang hidup dalam rentang 1918-2001 pernah menyatakan ‘No matter how busy you are, you must take time to make the other person feel important.Secara bebas saya terjemahkan, ‘Tidak masalah seberapa sibuk pun Anda, Anda harus menyediakan waktu untuk membuat orang lain merasa penting.’ Siapa saja orang lain itu? Mereka bisa anak Anda, istri Anda, keluarga Anda, pegawai Anda, kolega Anda dan orang lain yang pernah berinteraksi dengan Anda.

Orang lain akan merasa penting ketika Anda sudah berjanji walaupun Anda memiliki kegiatan lain yang juga penting. Dalam hal ini dibutuhkan pengorbanan ketika harus memilih mana yang lebih penting. Bagaimana memilihnya? Secara bisnis, selalu pilih risiko terkecil. Namun, secara sosial, pilihlah yang Anda sudah janjikan. Janji adalah hutang! Pemenuhan janji adalah pelunasan hutang. Tetapi, yang terutama adalah menjaga kepercayaan orang yang telah Anda janjikan. Jadilah teladan dalam hal membuat orang lain merasa penting. Pada waktunya, setiap orang akan membuat Anda jauh lebih penting karena Anda sudah terlebih dahulu membuat mereka merasa penting.

So, mulailah sekarang, betapa pun sibuknya dalam keseharian Anda, ingat membuat orang lain merasa penting. Itulah pentingnya Anda!

Tangerang Selatan, 12 Februari 2017

Riset Corporation

Pages: 1 2

Posted by: retarigan | February 9, 2017

Manfaat Pendidikan Tinggi


Manfaat Pendidikan Tinggi

Author: Riswan E Tarigan

Apakah Anda memiliki pendidikan tinggi? Atau Anda punya ijasah lebih tinggi dari S1? Anda mungkin pernah mendengar selentingan, ‘Punya pendidikan tinggi, koq berbisnis? Mestinya jadi pegawai donk! Berkarir di perusahaan untuk mendapatkan jabatan tinggi! Itulah yang sering terucapkan oleh orang-orang yang masih berpikir bahwa pendidikan tinggi untuk mendapatkan pekerjaan yang bisa mendapatkan bayaran lebih banyak. Mereka kurang mengerti makna berpendidikan tinggi.

Pendidikan Formal

Pendidikan Formal

Apakah manfaatnya pendidikan tinggi? Bagi saya, berpendidikan tinggi lebih pada kemampuan untuk melihat peluang, memiliki pola pikir holistik serta bersikap bijaksana dalam menghadapi hidup. Namun, sering sekali seseorang memiliki pendidikan tinggi dengan ijasah yang menyertainya, namun justru berpikir sempit dengan menghambakan dirinya pada orang lain yang notabene memiliki pendidikan lebih rendah dari dirinya, tetapi memiliki uang lebih banyak untuk membayarnya.

Mestinya pendidikan mampu membebaskan seseorang untuk tidak terikat dengan keadaan, tetapi justru menciptakan keadaan yang lebih baik bagi dirinya dan orang lain disekitarnya. Pendidikan tinggi tidak bertujuan untuk meng-update curriculum vitae kemudian melamar pekerjaan yang bisa membayar lebih tinggi lagi dibanding sebelumnya.

Hal ini sering sekali saya sampaikan ke mahasiswa pascasarjana, agar tujuan mereka menempuh pendidikan tinggi tidak sekadar mendapatkan ijasah kemudian melamar pekerjaan untuk mendapatkan jabatan lebih tinggi. Karena kenyataannya, banyak orang yang memiliki pendidikan tinggi, justru semakin terikat dengan jam kerja, karena mereka hanya bekerja pada orang lain. Bahkan, beberapa mahasiswa yang sedang menulis tesis dan saya berperan sebagai pembimbing mengeluh, waktu mereka habis untuk pekerjaan. Mereka harus sering keluar kota. Di hari Sabtu pun harus masuk kerja 😦 Sedikit sekali orang yang sudah berpendidikan S2 bahkan S3, mau memerdekakan diri dengan membangun bisnis sendiri atau menggeluti profesi yang dapat mereka kendalikan.

Lalu, mungkin ada yang bertanya, ‘bagaimana bila tidak punya pendidikan tinggi atau ijasah lebih tinggi?’ Apakah tidak ada peluang untuk hidup lebih baik? Okay, saya jelaskan!

Secara garis besar, pendidikan ada dua bagian: pendidikan formal dan pendidikan non formal. Bahkan di kondisi tertentu ada pendidikan yang jauh lebih ‘tinggi’ lagi, yaitu pendidikan yang ditempuh secara otodidak di Universitas Kehidupan (Life University). Pendidikan formal adakah pendidikan yang ditempuh secara bertahap sejak usia dini (dari Sekolah Dasar sampai S3). Biasanya, yang memiliki kesempatan untuk bekerja di sektor formal adalah orang-orang yang memiliki ijasah (misalnya disektor pemerintah dan swasta yang mensyaratkan ijasah formal). Sementara, pendidikan non formal, biasanya ditempuh untuk mendapatkan keterampilan atau keahlian tertentu yang dapat digunakan untuk mendukung ijasah formal (berupa sertifikat) tetapi justru diharapkan mampu untuk mandiri membangun bisnis sendiri dengan keterampilan yang dimiliki. Jadi, sesungguhnya, kedua pilihan memiliki tempatnya sendiri. Bila sudah memiliki pendidikan formal, sertifikat untuk mendukung karir yang sudah dijalani. Sementara bagi yang tidak memiliki pendidikan tinggi, sertifikat justru menjadi senjata utama untuk mengembangkan ide membangun bisnis yang dikelola sendiri atau bila sudah mampu dapat didukung oleh orang-orang yang berpendidikan formal.

Pendidikan Non Formal

Pendidikan Non Formal

Sedangkan pendidikan otodidak, sering sekali belum dianggap oleh masyarakat pada umumnya karena keterbatasan untuk masuk ke sektor formal. Padahal, sejarah membuktikan, banyak orang yang justru berhasil dengan pendidikan yang ditempuh secara otodidak. Banyak penemu di masa lalu yang namanya tidak lekang oleh zaman, justru berkontribusi lebih banyak bagi generasi selanjutnya. Padahal mereka tidak memiliki pendidikan formal bahkan tidak pernah memiliki sertifikat keterampilan. Salah satu contoh, silakan cari sejarah Soichiro Honda, yang mengembangkan bisnis mobil Honda tanpa dukungan ijasah formal. Ia hanya datang ke kampus untuk mata kuliah perancangan mesin.

Jadi, bagi saya, ijasah atau sertifikat hanya lah tiket bagi seseorang untuk memperoleh kesempatan yang lebih banyak untuk memeroleh kehidupan lebih baik, apakah dengan mendapatkan pekerjaan formal atau menjalankan bisnis sendiri. Tetapi ingat, itu hanya satu variabel. Ada variabel lain yang justru lebih berpengaruh dan menentukan, yakni kemauan untuk mengembangkan diri.

Andai ada pertanyaan, adakah pekerjaan yang dapat menghasilkan lebih banyak, tetapi tidak mensyaratkan ijasah formal atau sertifikat? Saya jawab tegas, ADA! Silakan geluti perdagangan mata uang atau perdagangan saham secara mandiri. Anda tidak akan pernah dipersyaratkan harus memiliki ijasah dengan minimum IPK 3.0 🙂

Bagaimana belajarnya? Nah, itulah yang saya singgung sebelumnya mengenai belajar otodidak di Universitas Kehidupan. Silakan terjun langsung ke bisnis tersebut. Belajarlah secara otodidak setahap demi setahap. Pada waktunya anda akan mampu berprofesi di bidang tersebut tanpa harus memiliki ijasah formal atau sertifikat keterampilan terlebih dahulu. Bila kemudian mau belajar dari orang lain, bolehlah untuk mengikuti pelatihan. Namun, tidak ada syarat awal untuk menggeluti bisnis tersebut. Itulah uniknya memilih profesi sebagai pebisnis. Tidak ada syarat formal yang perlu dipenuhi. Cukup dengan mendaftarkan diri ke pihak tertentu (sesuai aturan yang berlaku) tanpa ada syarat yang berat untuk dipenuhi secara pribadi. Berbeda bila mau bekerja dengan orang lain. Bahkan untuk menjadi driver atau security pun harus minimal berijasah SLTA. Tetapi tidak untuk menjadi pebisnis di pasar uang dan pasar saham.

Bagaimana modal awalnya? Orang seringkali membatasi diri bahwa modal utama yang dibutuhkan adalah uang. Saya tegaskan, asal Anda memiliki kemauan, uang hanyalah hasil dari kemauan untuk mendapatkannya.

Belajar Otodidak

Belajar Otodidak

Akhir kata, semua kembali pada pilihan masing-masing. Bila Anda sudah memiliki pendidikan formal, silakan berprofesi di dunia formal. Bila Anda memiliki sertifikat, silakan berprofesi sesuai dengan sertifikasi yang Anda miliki. Bisa digunakan untuk mendukung pekerjaan formal, bisa juga untuk memulai bisnis sendiri. Bila hanya belajar secara otodidak (tanpa ijasah sama sekali), tenang …. Ada sejumlah pekerjaan yang tidak kalah dalam hal pencapaian (baik kemerdekaan finansial maupun waktu) yang dapat digeluti seumur hidup.

Cari dan temukan! Sesuaikan dengan passion Anda. Bila sudah bertemu, fokuslah untuk menjalaninya! Gali semua informasi tentangnya. Pelajari seluk beluknya. Percayalah! Anda pasti berhasil bila Anda yakin berhasil. Tidak ada yang dapat menghalangi pencapaian Anda keculai Sang Pencipta yang berkehendak. Tapi ingat! Jangan hidup untuk diri sendiri. Ada orang lain yang membutuhkan kontribusi Anda. Lakukan satu kebaikan setiap hari. Mulai dari hal yang sederhana. Niscaya, Anda akan menjadi saksi zaman, baik saat Anda masih hidup ataupun kelak ketika Anda sudah meninggalkan dunia yang fana ini.

Tangerang Selatan, 9 Februari 2017

Riset Corporation

–o0o–

Posted by: retarigan | February 8, 2017

Brainy Quote ~ Tacitus 001


Brainy Quote ~ Tacitus

Brainy Quote ~ Tacitus

Mengapa ada korupsi? Apa penyebab seseorang mau melakukan korupsi? Bagaimana menghilangkan perilaku korupsi atau setidaknya meminimalisir pelakunya?

Semua orang ingin berkecukupan secara ekonomi. Namun, seringkali seseorang masih merasa kurang atas apa yang sudah dia miliki. Bahkan, sebagian ingin lebih daripada orang lain. Sehingga banyak cara dilakukan untuk memenuhi keinginannya walaupun harus merampas hak orang lain.

Menurut saya secara pribadi, perilaku korupsi terjadi karena pola hidup konsumtif atau bahkan sampai tingkat tertentu pola hidup hedonis agar terlihat ‘wah’ di mata orang lain. Sehingga mereka mau menghalalkan segala cara untuk memenuhi apa yang mereka inginkan. Ditambah iman yang kurang (walaupun sudah beragama). Karena beragama belum tentu beriman, tetapi bila seseorang sudah beriman, semestinya dia beragama.

Berantas Korupsi

Berantas Korupsi

Sepanjang sejarah, tidak ada negara yang bebas dari perilaku korupsi, terutama dari para penguasa yang memiliki hak akses untuk melakukan tindak korupsi. Peraturan dan hukum sudah dibuat dan sebagian terlaksana, bahkan di negara tertentu, pelaku korupsi di hukum mati. Namun, faktanya korupsi tetap terjadi di hampir semua tingkat pemerintahan.

Berdasarkan Transparency International (http://www.transparency.org/whatwedo/publication/cpi_2015) dari 167 negara yang di index menempatkan Denmark sebagai negara ‘terbersih’ dari perilaku korupsi (terutama di birokrasi) dengan score 91 (tahun 2015) dan menempatkan Somalia dengan index terendah dengan score 8 (sejak 2012-2015). Indonesia berada di urutan ke 88 dengan score (36 di tahun 2015, 34 di tahun 2014, 32 di tahun 2012 dan 2013).

Tacitus, seorang ahli sejarah jaman Romawi, hidup dalam rentang tahun 56 AD – 120 C, pernah menyatakan ‘The more corrupt the state, the more numerous the laws.’ Secara bebas diterjemahkan ‘Semakin korup sebuah negara, semakin banyak undang-undang yang dibuat.’ Hal ini menjelaskan bahwa negara yang tingkat korupsinya tinggi (CPI rendah), pasti memiliki undang-undang dan peraturan yang lebih banyak dibandingkan negara yang Corruption Perception Index-nya tinggi (contohnya Denmark dan New Zealand). Sebagai contoh, Indonesia yang memiliki lembaga ad hoc KPK (Komisi Pemberantasan Korupsi). Andaikan tingkat korupsi rendah, otomatis lembaga seperti KPK tidak diperlukan.

Lalu bagaimana mencegahnya? Sampai kapan lembaga ad hoc KPK harus tetap ada untuk memberantas para pejabat dan kroninya dari tindak korupsi?

Menurut José Ugaz, Chair of Transparency International, ‘Corruption can be beaten if we work together. To stamp out the abuse of power, bribery and shed light on secret deals, citizens must together tell their governments they have had enough.’ Diterjemahkan secara bebas ‘Korupsi dapat dikalahkan jika kita bekerja sama. Untuk membasmi penyalahgunaan kekuasaan, penyuapan dan pengungkapan kesepakatan rahasia, masyarakat harus bersama-sama memberitahu pemerintah bahwa sudah cukup untuk melakukan kejahatan korupsi.’

Peraturan memang perlu. Namun, peraturan hanyalah peraturan yang bagi orang yang ‘culas’ mudah saja baginya untuk mengakali peraturan yang ada. Secara prinsip, untuk mencegah perilaku sejak dini dan berdampak jangka panjang, maka sistem pendidikan harus dibenahi, baik sistem pendidikan formal terlebih pendidikan keluarga. Karena banyak anak sejak usia dini/muda sudah dipertontonkan perilaku berbohong dan bertindak korup, baik oleh orangtuanya atau pun para pengajar di sekolah formal. Sebagai contoh, sebagian anak yang sebaya dengan penulis (hanya sekadar memori, tidak ada dokumen pendukung, karena keterbatasan teknologi di tahun 80-an :-(), pernah dipertontonkan bagaimana orangtua bekerjasama dengan pengelola sekolah untuk mendapatkan NEM (Nilai Ebtanas Murni) yang disepakati agar dapat diterima di sekolah negeri. Bila sejak kecil pun anak sudah diajari bahwa ‘nilai’ dapat dibeli, maka di masa depan, ketika mereka menjadi pejabat, maka hal tersebut sudah menjadi biasa bagi mereka. Di benak mereka, hal itu bukan tindak kejahatan. Toh, sejak kecil pun mereka sudah diajari oleh orangtua dan guru mereka di pendidikan dasar – terutama bagi yang tidak mampu memilah, mana yang benar dan mana yang salah.

Korupsi Tanpa Sadar

Korupsi Tanpa Sadar

Dengan melakukan perubahan pada sistem pendidikan, diharapkan generasi masa depan akan memahami bahwa tindakan korupsi merupakan kejahatan yang tidak jauh berbeda dengan tindakan kejahatan lainnya. Maka, di masa depan, tidak dibutuhkan terlalu banyak peraturan dan perundang-undangan, bahkan lembaga ad hoc KPK pun tidak perlu lagi ada. Karena setiap orang sudah mampu membentengi dirinya sendiri dari perilaku korupsi.

Mari kita bersama-sama bertindak positif untuk menghilangkan perilaku dan pemikiran korup agar Indonesia menjadi negara yang tumbuh secara alami seiring dengan kualitas sumber daya manusia-nya. Karena kokoh dan majunya sebuah bangsa sangat tergantung pada mental masyarakatnya, terlepas dari agama apa pun yang mereka percaya. Karena yang terutama adalah meneladani perilaku para Nabi yang pernah ada, bukan sekadar mengakui mereka sebagai teladan tetapi perilaku kita justru jauh dari yang diharapkan. Semoga!

Tangerang Selatan, 8 Februari 2017

Riset Corporation

Tacitus, Roman historian

Pages: 1 2

Posted by: retarigan | February 2, 2017

Brainy Quote ~ B. C. Forbes 002


Brainy Quote ~ B. C. Forbes

Brainy Quote ~ B. C. Forbes

Anda pernah mengendalikan sebuah kendaraan atau seekor hewan? Bagaimana rasanya? Saya pernah mengendalikan seekor kerbau saat membajak sawah. Selama saya mampu mengendalikannya, sang kerbau akan berada di jalur yang saya harapkan. Bila tidak, maka saya akan dibawa sang kerbau keluar dari jalur yang seharusnya. Saat saya pertama sekali belajar mengendarai mobil, rasanya begitu ‘hebat’ saya mampu mengendalikan sesuatu yang bermesin sesuai dengan tujuan saya. Ada perasaan senang, bahagia bahwa saya mampu mengendalikan kendaraan atau seekor hewan ternak.

Pada kondisi saat ini, seiring berjalannya kehidupan, baik kehidupan sosial maupun kehidupan bisnis, pertanyaannya, siapa yang mengendalikan hidup Anda atau bisnis Anda? Anda sendiri atau orang lain? Apa risikonya bila bukan Anda yang mengendalikan bisnis atau hidup Anda? Kemungkinan Anda akan berada diluar arena bila bukan Anda sendiri yang mengendalikannya.

B. C. Forber, seorang Jurnalis Finansial dan Penulis kelahiran Skotlandia, hidup dalam rentang waktu 1880-1954, lewat quote-nya pernah mengatakan, ‘If you don’t drive your business, you will be driven out of business.’ Secara bebas, saya terjemahkan, ‘Jika engkau tidak mampu mengendalikan bisnismu, maka engkau akan didorong keluar dari bisnis tersebut.’ Sepertinya, ia menyatakan quote ini lewat pengalamannya mengamati orang lain (para pebisnis) atau pengalamannya sendiri sebagai seorang jurnalis. Lesson-learned-nya adalah kita harus memiliki kendali atas bisnis atau hidup kita. Bila tidak, maka kita akan terlempar dari bisnis tersebut atau kita tidak akan mampu memenangkan hidup kita sendiri.

Ia yang hidup lebih dari 100 tahun yang lalu saja sudah menyadari pentingnya memiliki kompetensi dalam mengendalikan bisnis. Apalagi kita yang hidup saat ini, sudah seharusnya kita mampu mengendalikan bisnis dan hidup kita yang penuh dengan kompetisi. Walaupun dalam kondisi tertentu, kompetisi terhadap diri sendiri (internal), bukan pihak lain (eksternal).

Pertanyaannya sekarang, apa yang harus kita lakukan dan bagaimana melakukannya? Pertama, kita harus mengenali bisnis kita atau hidup kita sendiri. Dengan mengenali bisnis/diri kita, kita tahu apa kelebihan dan kekurangannya. Kita perlu pertahankan kelebihan atau bahkan terus melakukan inovasi untuk meningkatkan kualitas bisnis/hidup kita, terutama layanan kepada para pengguna. Bila memiliki kekurangan, kita perlu berinvestasi untuk memperbaikinya agar mampu meminimalisasi dampak negatif layanan/produk kita dibenak konsumen.

Kemudian, amati dan perhatikan bila terjadi perubahan, terutama perubahan selera pasar. Kita harus mampu segera menyikapinya dan memberikan respon positif terhadapnya. Dengan demikian, kita akan tetap mampu mengendalikan atau beradaptasi dengan kemauan pasar. Walaupun di kondisi tertentu, kita tetap perlu memiliki idealisme sesuai porsinya.

Bila diterapkan ke dalam hidup kita sendiri, kemampuan kita untuk terus beradaptasi dengan lingkungan sosial akan memberi kita kemampuan untuk mengendalikan diri sendiri selaras dengan keadaan lingkungan. Bila tidak, kita akan tergeser atau keluar dari lingkungan tersebut. Kecuali, bila memang itu yang kita harapkan.

Drive Your Life

Drive Your Life

By the way, tetaplah memiliki kendali atas bisnis, masalah atau hidup kita. Sehingga kita mampu untuk terus berada di jalur yang benar sesuai yang kita rencanakan dan yang kita tuju. Perhatikan dan beradaptasi terhadap perubahan, karena kita harus sadar bahwa hanya perubahan yang senantiasa kekal. Untuk itu, kita harus mampu memposisikan diri kita terhadap perubahan, laksana seorang pe-selancar beraptasi dengan ombak dan gelombang air laut.

So, just drive your life or your life will be driven!

Tangerang Selatan, 2 Februari 2017

Riset Corporation

—————-

B.C. Forbes

Bertie Charles Forbes (lahir di Skotlandia, 14 Mei 1880 – meninggal di New York, Amerika Serikat, 6 Mei 1954 pada umur 73 tahun) adalah seorang jurnalis finansial dan penulis kelahiran Skotlandia, yang mendirikan Majalah Forbes. Forbes dilahirkan di New Deer, Aberdeenshire, Skotlandia. Setelah lulus dari University of Dundee, pada tahun 1897 Forbes bekerja sebagai seorang reporter dan penulis editorial pada sebuah koran lokal sampai dengan 1901 ketika ia pindah ke Johannesburg, Afrika Selatan, dimana ia mendirikan Rand Daily Mail. Kemudian ia beremigrasi ke New York, Amerika Serikat pada tahun 1904. Disana ia bergabung di Journal of Commerce, sebelum bergabung di jaringan koran Hearst, sebagai kolumnis pada tahun 1911. Dua tahun kemudian Forbes meninggalkan Hearst, dan bekerja di New York American sampai 1916.

Adopsi dari: https://id.wikipedia.org/wiki/B.C._Forbes

You only get one life. You should be driving it!

–o0o–

Posted by: retarigan | January 28, 2017

Berbuat Baik di Hari Terakhir, Bercita-cita untuk Masa Depan


Berbuat Baik di Hari Terakhir, Bercita-cita untuk Masa Depan

Author: Riswan E Tarigan

Anda pernah berpikir ingin berbuat baik? Apakah Anda segera melakukannya atau menunda sampai waktu yang tepat? Kemudian, apakah Anda pernah bercita-cita menjadi sesuatu? Apakah Anda mulai mengambil aksi untuk mewujudkannya? Kapan waktu yang tepat untuk berbuat baik? Kapan mewujudkan cita-cita yang sudah dicetuskan sejak bertahun-tahun yang lalu?

Berbuat Baik

Berbuat Baik

Berbuat baik adalah memberi ‘nilai tertentu’ kepada orang lain, sehingga orang lain yang menerima kebaikan kita akan memperoleh ‘sesuatu’ yang bisa menjadi kejutan atau ‘sesuatu’ yang memang diharapkan sebelumnya. Contoh paling berharga adalah berbuat baik kepada orangtua. Banyak orang yang ketika memiliki hasrat untuk berbuat baik kepada orangtuanya seringkali menunda dengan membuat syarat, ‘nanti bila saya sudah memiliki cukup uang, saya akan membuatkan rumah buat orangtua saya’. Ternyata, Tuhan ‘berkehendak’, sehingga keinginan berbuat baik tidak dapat atau tidak akan pernah dapat dilaksanakan. Padahal berbuat baik bagi orangtua tidak selamanya membutuhkan modal besar. Misalnya, menelepon orangtua sekali dalam seminggu, atau bila memungkinkan beberapa kali dalam seminggu. Mengunjungi orangtua (bila memungkinkan) dapat dilakukan setiap bulan atau setidaknya beberapa kali dalam setahun. Namun, seringkali orang menunda hingga semuanya menjadi ‘terlambat’.

Kita tidak mendoakan orangtua untuk meninggalkan kita dalam waktu dekat. Namun, ada saat ketika sang Penguasa berkehendak, kita tidak dapat menunda lagi. Untuk itu, dalam hal berbuat baik (dalam bentuk apapun dan kepada siapapun) berusahalah untuk melakukannya segera. Jangan pernah menunda! Karena hidup dan mati adalah misteri. Sang Penguasa memiliki waktunya sendiri. Dengan men-segera-kan perbuatan baik, kita tidak akan menyesalinya di kemudian hari.

Saran saya, bila kita mau berbuat baik, berpikirlah bahwa hari ini adalah hari terakhir. Dengan berpikir demikian, kita tidak akan pernah menunda untuk melaksanakannya. Dengan melakukannya segera, kebahagiaan dan sukacita kita dan orang yang kita beri kebaikan juga akan segera merasakannya.

Berbeda dengan bercita-cita atau memiliki impian. Dalam hal bercita-cita, kita harus bersikap sebaliknya bahwa masih ada hari esok. Jadi, bila mau melakukan kebaikan, hari ini adalah hari terakhir, sementara memiliki impian, kita berpikir esok kan menjelang.

Dengan berpikir dan bersikap bahwa ada hari esok, maka kita akan memiliki semangat untuk mewujudkannya secara bertahap sampai ke tujuan utama kita. Andai kan Anda memiliki impian ingin mengunjungi Menara Eiffel, maka Anda akan berusaha untuk mendapatkan cara untuk mewujudkannya. Apakah dengan menabung biaya perjalanan, atau belajar dengan baik untuk mendapatkan peluang beasiswa ke Perancis, atau dapat juga dengan menulis karya penelitian untuk dipublikasikan di sana. Sehingga ada peluang untuk mengunjungi Menara Eiffel dengan biaya sendiri atau dibiayai institusi.

Intinya adalah, setiap mimpi perlu diwujudkan. Untuk mewujudkannya perlu proses serta usaha untuk memperolehnya. Tidak ada mimpi yang dapat diwujudkan dalam semalam, kecuali di dunia fiksi 🙂 Semua butuh pengorbanan. Namun, karena kita menyikapinya ada hari esok, kita akan termotivasi untuk menjalani prosesnya.

Impian

Impian

Bagaimana bila tidak terwujud? Tidak masalah! Karena yang paling membahagiakan adalah proses perjalanannya menuju cita-cita atau impian. Pencapaiannya hanyalah bonus. Seperti seorang mahasiswa yang ingin menjadi sarjana. Bukan wisuda atau ijasah-nya yang menjadi tujuan utama, tetapi proses menuju kesanalah yang memberi hidup yang penuh sukacita dengan segala persoalannya selama perkuliahan. Laksana seorang pendaki gunung, berdiri di atas puncak gunung adalah bonusnya, tetapi proses pendakian itulah yang membuat dia terus merasakan indahnya perjalanan hidup menuju impian.

Akhir kata, bila mau berbuat baik, lakukanlah segera karena mungkin hari ini adalah hari terakhir. Tetapi dalam bercita-cita, esok kan menjelang. Sehingga kita tahu yang mana harus disegerakan dan mana yang butuh kesabaran dalam mewujudkannya.

Anda mau berbuat baik? Lakukan segera! Anda memiliki impian? Mulai lah proses perjalanannya.

Tangerang Selatan, 28 Januari 2017

Riset Corporation

–o0o–

Posted by: retarigan | January 28, 2017

2017 Market Outlook & Trading Strategy


2017 Market Outlook & Trading Strategy

Hari Sabtu, tanggal 21 Januari 2017 pukul 09:00 s/d 14:00 wib, saya mengikuti acara “A Turnaround in Indonesia Economy” yang diselenggarakan oleh GaleriSaham.com. Kegiatan ini dilakukan di Cyber 2 Tower lantai 17 – Jl. HR Rasuna Said Block X5 Kav. 13 (Marquee Executive Offices).

Riset & Mr. Rio

Riset & Mr. Rio

Pembicara dalam acara ini adalah: Rio Rizaldi, CFP®, Founder & CEO GaleriSaham.com; Kalvin Lie, Co-founder GS PRO; Matt Marsden, Head of Equity Research at Coriolis Capital Management, Hong Kong based. Namun sayang, Mr. Matt tidak bisa hadir karena penerbangan yang delay dari bandara Changi – Singapore.

Secara umum, Mr. Kalvin menguraikan Global Market Outlook terkait kekuatan ekonomi Uni Eropa, China yang mengalami soft landing, serta Amerika Serikat dengan terpilihnya Donald Trump sebagai Presiden. Dilanjutkan dengan Indonesia Market Outlook sampai Sectoral & Stock Pick.

Spesifik terkait pertumbuhan Ekonomi Indonesia sangat dipengaruhi oleh tiga faktor utama, yakni:

  • Peningkatan daya beli domestic
  • Pembangungan infrastruktur
  • Pemulihan harga komoditas CPO dan batubara

Sejumlah rekomendasi yang layak diperhatikan dari pasar saham Indonesia meliputi sektor Property Residential, Construction, Cement, Automotive, Coal & Heavy Equipment, dan Metal.

Mr. Kalvin menjelaskan dengan Fundamental Analysis untuk menentukan sektor dan saham apa yang berprospek dan menarik untuk diakumulasi. Sementara, Mr. Rio dengan pengalaman selama bertahun-tahun menjelaskan Technical Analysis untuk menentukan kapan (timing) untuk beli dan keluar dari pasar.

Dengan posisi IHSG saat ini, ada prospek akan bertahan di atas 5360 dan menembus 5491 untuk menuju target 6200 sepanjang 2017. Semoga pasar modal menjadi berkat bagi para pelakunya.

Saya, sebagai salah seorang pelaku pasar aktif di pasar modal selama hampir 5 tahun terakhir, melihat bahwa pasar modal adalah bisnis yang sangat sederhana dan mudah untuk dilakukan dan layak ditekuni seumur hidup. Tidak ada syarat ijasah untuk menjadi seorang Professional Stock trader. Tidak ada orang yang mengatur hidup saya bila berprofesi sebagai seorang trader. Saya adalah boss untuk diri saya sendiri. Saya hanya butuh pengetahuan untuk memahami pergerakan pasar modal. Bersahabat dengan setiap saham yang memiliki prospek baik di masa depan. Menyikapi setiap perubahan arah yang terjadi dan siap dengan kedua sisi risiko, apakah pasar yang bergerak ke bawah atau ke atas. Bila ke bawah, bersiap untuk keluar dari saham tersebut dengan batas kerugian maksimal 7%-10%. Bila bergerak ke atas, bersiap memperoleh capital gain sampai ratusan persen dalam beberapa bulan.

Namun, kenyataannya, masih banyak orang yang enggan untuk masuk dan berbisnis di pasar modal. Alasan utama mereka adalah pasar modal terlalu berisiko. Mereka lebih nyaman dengan deposito, reksadana atau bisnis riil seperti properti atau membeli franchises (lisensi). Bagi mereka, itu lebih aman dan relatif risikonya lebih kecil daripada pasar modal. Padahal sesungguhnya, risiko tergantung bagaimana kita mengelola. Bila kita cukup bijak dalam menyikapinya, bagi saya, pasar modal termasuk bisnis yang minim dari risiko. Namun, hal ini tidak masuk akal bagi yang belum menggelutinya atau pernah kehilangan modal di pasar saham 😦

By the way, semua adalah pilihan! Sebagian besar orang lebih memilih bekerja di perusahaan sebagai rutinitas untuk memperoleh pendapatan. Ada yang memilih menjadi pebisnis dengan memperkerjakan orang lain. Tetapi, saya, hanya akan memilih menjadi dosen tamu di beberapa universitas sebagai wadah untuk berbagi pengalaman serta menggeluti profesi Stock Trader sebagai sumber pendapatan utama.

Apakah ada yang mau? Sejumlah kecil mahasiswa saya sudah berani mengambil aksi untuk membuka rekening efek. Menurut saya, itu awal yang baik. Namun, perlu dilanjutkan dengan proses pembelajaran untuk memahami seluk beluk pasar modal. Bila bersabar, pada akhirnya, pasar modal adalah wadah untuk mengumpulkan aset dalam jangka panjang.

Lakonilah pasar modal seperti Anda memiliki bisnis sendiri. Geluti secara bertahap dan konsisten serta persisten untuk memperoleh pemahaman secara holistik. Pasar modal adalah salah satu bisnis yang tidak mengenal usia pensiun. Dapat dilakukan sambil mengelilingi dunia. Tetap mampu berpendapatan sambil melakukan liburan ke tempat-tempat yang indah yang belum pernah dikunjungi.

Bagi saya, pasar modal dapat merubah pilihan dari ‘berpendapatan tetap’ (karyawan) menjadi ‘tetap berpendapatan’ (bisnis). Saya pilih pasar modal sebagai ladang bisnis saya. Biarlah orang lain yang memiliki dan menjalankan bisnisnya, saya berbisnis di lembaran sahamnya 🙂

Mengapa saya memilih pasar modal? Karena pasar modal memberi saya kebahagiaan. Hidup saya menjadi jauh lebih hidup. Sebagai akademisi, saya akan terus mengajar dan meneliti. Namun, untuk membiayai semua kegiatan akademik saya, saya menggantungkannya pada pasar modal.

Saya pasti bisa karena saya berpikir saya bisa!

Tangerang Selatan, 28 Januari 2017

Riset Corporation

Peserta MOGS 2017

Peserta MOGS 2017

Posted by: retarigan | January 25, 2017

Bagaimana Menjadi Bos Bagi Diri Sendiri?


Bagaimana Menjadi Bos Bagi Diri Sendiri?

Author: Riswan E Tarigan

Free Time 01

Free Time 01

Anda masih bekerja dibawah (di perusahaan) orang lain? Sudah berapa lama? Mau berapa lama lagi? Apakah Anda bahagia menjalani rutinitas Anda? Atau Anda ingin mandiri mengelola hidup Anda? Bacalah tulisan ini sampai selesai!

Anda pernah membaca buku “The Cashflow Quadrant” Robert T. Kiyosaki? Apa filosopi yang Anda pelajari dari buku itu? Banyak orang sudah merangkum isi buku tersebut. Anda bisa temukan dengan melakukan Googling..

Secara ringkas, The Cashflow Quadrant adalah buku kedua Robert T. Kiyosaki, merupakan kelanjutan buku pertamanya, “Rich Dad, Poor Dad”. Ia juga menulis buku ketiga sebagai kelanjutan dari buku pertama dan kedua dengan judul “Guide to Investing”. Beberapa orang menyebut ketiga buku ini sebagai ‘Trilogy Kiyosaki’. Terserah orang mau menyebutnya apa, yang penting pahami filosopi-nya untuk diterapkan di ‘sisa hidup’ saya dan anda yang ‘tidak terlalu panjang’ lagi.

4 Kuadran The Cashflow Quadrant 01

4 Kuadran The Cashflow Quadrant 01

Secara bebas, Cashflow Quadrant diterjemahkan sebagai ‘Kuadran Aliran Uang’. Artinya, kita membagi kuadran-kuadran berdasarkan sumber penghasilan. Totalnya ada empat quadran:

  1. Kuadran E (employee); adalah pekerja kantoran (dikendalikan orang lain) yang diupah (relatif sedikit) oleh suatu perusahaan. Pada kuadran ini umumnya penghasilan sama dengan pengeluaran, di mana employee jarang melakukan saving. Andai pun ada saving, relatif sedikit sehingga tidak mampu menopang hidup seseorang di usia pensiun. Umumnya, seorang yang berada di kuadran ini, benar-benar tidak memiliki kebebasan ‘waktu’ dan ‘uang’.
  2. Kuadran S (self-employee); adalah pekerjaan yang merupakan profesi atau keahlian yang biasanya dipelajari melalui jenjang pendidikan dan bisa juga yang timbul karena bakat. Contoh: dokter,  penulis, penyanyi, musisi, artis dan lain sebagainya yang memerlukan skil atau keahlian khusus dan membutuhkan waktu panjang untuk belajar. Ciri para profesional di kuadran ini adalah, mereka baru menghasilkan bila mereka bekerja. Bila mereka berlibur atau berhenti, maka berhenti pula lah pendapatan mereka.
  3. 4 Kuadran The Cashflow Quadrant 02

    4 Kuadran The Cashflow Quadrant 02

    Kuadran B (bussiness owner); adalah orang yang menciptakan lapagan pekerjaan untuk dirinya dan orang lain. Pekerjaan ini disebut bisnis atau wirausaha. Contoh: pengusaha catering, pengusaha konveksi, pengusaha pertanian dan lain sebagainya yang membutuhkan pengalaman dan modal tentunya. Ciri pebisnis di kuadran ini, mereka harus selalu mengawasi perusahaannya dan mereka relatif masih harus terlibat dalam kegiatan operasional. Sehingga mereka tetap relatif belum memiliki kemerdekaan, terutama waktu dalam kesehariannya.

  4. Kuadran I (investor); adalah orang yang memiliki pendapatan tanpa dia harus bekerja (passive income), orang tersebut hanya memberikan kekayaannya sebagai modal untuk ditanamkan pada suatu usaha sehingga usaha itu menghasilkan, dan investor menikmati keuntungannya tanpa harus bekerja. Contoh:  jual beli saham yang sudah memiliki modal yang besar dari awal.

Keempat kuadran ini bisa digolongkan menjadi dua kuadran besar, yaitu kuadran kiri dan kuadran kanan. Kuadran kiri adalah kelompok orang yang sumber penghasilannya  berasal dari  dirinya, sedangkan kuadran kanan adalah kelompok yang sumber penghasilannya sedikit/tidak melibatkan dirinya sama sekali.

Pages: 1 2 3 4 5

Older Posts »

Categories