Posted by: tecnosolutio | September 25, 2008

Menghargai Orang lain = Menghargai Diri Sendiri


Bos Sapi sedang Marah😦

Harga seorang anak manusia, tidak dihitung dari seberapa tinggi pangkat yang dia miliki. Juga tidak dihitung dari berapa banyak ijasah yang dia peroleh. Ada orang yang tidak tidak memiliki pangkat, tetapi banyak orang yang respek terhadapnya. Ada juga orang yang berpangkat, tetapi supirnya sendiri pun mendoakan agar dia cepat mati.

Ada orang yang tidak memiliki ijasah formal, tetapi dia laksana orang bijak. Ada orang yang memiliki banyak ijasah sarjana, tapi perilakunya bejat sebejat-bejatnya.

Ada ‘boss’ yang memaki supirnya, “Kau supir goblok !!!”. Supirnya mestinya menjawab, “Boss, kalau saya pintar, saya akan kuliah di universitas ternama dan jadi tukang insinyur!”

Ada “nyonya” yang memaki pembantunya, “Pembantu goblok, masak saja tidak becus !!!”. Sang pembantu harusnya menjawab, “‘Nya, kalau saya pintar masak, saya akan jadi kepala koki di hotel. Bukan jadi pembantumu!”

Banyak orang yang terlalu pongah terhadap apa yang dimilikinya. Dia tidak sadar atau tidak mau sadar, bahwa segala sesuatu ada akhirnya.

Banyak orang yang lupa atau melupakannya, bahwa dia berharga bila dia memberi harga kepada orang lain.

Seberapa besar NILAI seseorang, dapat dihitung dari seberapa besar dia memberi NILAI bagi orang lain.

Bila engkau ingin terangkat, angkatlah orang lain. Itulah prinsip pengungkitan. Dengan perlakuan seperti itu, maka orang yang engkau angkat akan berusaha semampunya untuk mengangkatmu juga. Padi ditanam, bulir padi yang dituai. Budi baik di sebar maka budi baik juga yang akan dihasilkan pada akhirnya.

Seberapa BERHARGA seseorang, dapat dihitung dari seberapa besar orang itu MENGHARGAI orang lain.

Bila engkau ingin orang lain bersikap menghargaimu, pertama yang harus engkau lakukan, hargai orang lain terlebih dahulu. Karena apa yang engkau perbuat, maka akan tercermin dari sikap orang lain terhadapmu. Terlepas dari seberapa tinggi pangkat yang engkau miliki atau dimilikinya. Terlepas dari seberapa banyak gelar sarjana yang engkau sandang atau yang disandangnya.

Pada akhirnya, NILAI seseorang selama dia hidup dapat diketahui saat dia mati, berapa banyak orang yang akan menangisi kepergiannya. Memang menanam kebaikan tidak seperti menggigit cabai, yang terasa pedas begitu digigit. Tetapi menanam kebajikan seperti menanam pohon jati. Memberi manfaat saat sang penanam sudah tidak ada lagi.

Jutaan orang menangis saat kepergian Bunda Teresa. Bukan karena ia kaya, tetapi bagaimana beliau memberi kekayaan kepada orang lain. Terlepas dari perbedaan keyakinan. Terlepas dari kasta kehidupan. Dunia menangisi kepergiannya karena NILAI yang ditinggalkannya.

Riset – Pemerhati kehidupan

MTI UI – Salemba, Oktober 2008


Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: