Posted by: retarigan | March 21, 2015

Orang Indonesia di Sillicon Valley


Nama Sonita Lontoh cukup dikenal di Amerika Serikat. Saat ini ia merupakan salah satu ahli green technology dunia, terutama bidang smart grid. Smart grid adalah teknologi hemat energi yang mengoperasikan sistem tenaga listrik dengan mengkombinasikan teknologi komputer, komunikasi, dan jaringan. Teknologi ini dianggap merupakan teknologi listrik masa depan karena berjalan dengan sistem dua arah dan mampu memadukan segala sumber energi ke dalam satu sistem jaringan yang terkontrol melalui komputer.

“Saya pertama kali tertarik pada bidang green technology ketika sedang mengejar kelulusan bidang engineering di MIT (Massachusetts Institute of Technology) dan MBA di Kellogg (Northwestern University),” katanya seperti dikutip Asian Fortune. “Karena saya mencari karier di bidang teknologi, saya memiliki prinsip bahwa saya ingin bekerja di bidang yang memberi kontribusi luas ke bidang sosial ketimbang hanya menjual produk. Saya menemukan bahwa green technology secara personal dan profesional memberikan kepuasan. Di sana tergabung jalinan yang kompleks antara teknologi, bisnis, dan kebijakan lintas sektor. Dengan demikian saya bisa memberikan kontribusi lebih luas ke bidang sosial,” paparnya.

Perempuan keturunan Padang-Manado berusia 40 tahun ini sejak kecil tertarik pada bidang matematika. “Terus terang dari kecil saya memang senang matematika. Makanya waktu mau cari jurusan di universitas, saya bingung. Saya suka teknik, tapi juga suka bisnis. Jadi akhirnya, saya mengambil jurusan Teknik Industri di Barkeley,” paparnya kepada Swa.

Setelah tamat SMA dari Summer School di Stanford University pada tahun 1995, ia melanjutkan kuliah di University of California, Berkeley, dengan mengambil studi Industrial Engineering & Operations Research dan tamat tahun 1999. Setelah lulus ia sempat menjadi pengusaha dengan dua temannya dengan mendirikan usaha semacam Yahoo di Tiongkok. Namun perusahaannya kurang berjalan bagus sehingga perusahaan tersebut dijual.

Setelah itu ia kembali ke Amerika dan bekerja di beberapa perusahaan di bidang software internet. Setelah bekerja beberapa tahun pada tahun 2003 ia mengambil program studi S2 di MIT. Karena minatnya pada teknik dan bisnis, setelah selesai dari MIT ia mengambil program MBA di Kellogg.

Sedangkan mengenai kariernya, selama kuliah ia sempat bekerja sebagai konsultan di Bain & Company sebelum akhirnya bekerja di PG&E. Tahun 2011 ia bergabung dengan Trilliant sebagai Head of Marketing. Di luar profesinya itu ia diangkat menjadi mentor di lembaga bentukan Menteri Luar Negeri Hillary Clinton dalam program TechWomen. Program ini merupakan implementasi visi Presiden AS Barack Obama dalam meningkatkan kolaborasi antara AS dengan komunitas global.

Dengan prestasi seperti itu Sonita menjadi tokoh perempuan kenamaan di Amerika. Suaranya tak hanya didengar di Silicon Valley, di mana kantor perusahaannya berada, tetapi juga di AS dan dunia. Pantas pada tahun 2012 ia meraih Global Emerging Leader Under 40 dan Champions of Change dari AAPI (Asian Americans and Pacific Islanders) Women. Sedangkan sebagai salah satu tokoh pendiri Diaspora Indonesia, forum orang-orang Indonesia di luar negeri, ia mendapat penghargaan Diaspora Entrepreneurship and Corporate Excellence Award dari Presiden RI ke-6, Susilo Bambang Yudhoyono.

“Sukses yang diraih menginspirasi orang lain untuk meneladaninya.”

Adopsi dari: http://www.andriewongso.com/articles/details/14371/Orang-Indonesia-di-Sillicon-Valley


Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: