Posted by: retarigan | May 2, 2015

Nasihat Pernikahan


Ada perumpamaan mengenai pernikahan yang biasanya saya ceritakan kepada pasangan mempelai. Dalam suatu pernikahan di Inggris, sepasang mempelai baru selesai melangsungkan upacara pernikahan mereka dan meminta pemberkahan dari saya.

Maka saya menatap lekat-lekat mata mempelai perempuan, dan berkata, “Kini Anda sudah menikah. Mulai sekarang Anda seharusnya tidak lagi memikirkan diri Anda sendiri.

Mempelai perempuan langsung mengangguk.

Kemudian saya melihat ke mempelai pria, “Mulai sekarang, Anda adalah pria yang sudah menikah. Anda sudah menjadi seorang suami. Anda pun tidak seharusnya memikirkan diri Anda sendiri.”

Mempelai pria tersenyum. Lalu sejenak kemudian, ia baru mengangguk. Kaum pria memang biasanya begitu.

Sambil masih menatap mempelai pria, saya berkata, “Mulai dari hari ini pula, Anda pun tidak seharusnya memikirkan istri Anda.”

Saya suka sekali mengatakan hal ini, sebab di titik ini mereka berdua kelihatan benar-benar bingung! Pengantin perempuan pun mulai berpikir, “Apa yang biksu gila ini omongkan?”

Lalu saya ganti menatap pengantin perempuan dan berkata, “Mulai saat ini, Anda juga seharusnya tidak memikirkan suami Anda.”

Salah satu hal cara yang menakjubkan dalam menasihati orang adalah menggunakan kebingungan; sebab ketika kita dalam kebingungan, semua gagasan lama, cara berpikir untuk menyelesaikan masalah benar-benar tersingkirkan, sehingga kita bisa melihat rute pemahaman yang baru. Jadi kebingungan merupakan salah satu cara melihat kebenaran. Persis seperti ucapan favorit saya: jangan biarkan pengetahuan Anda menghalangi di jalan menuju kebenaran.

Kedua pengantin ini berpikir bahwa menjalin hubungan itu berarti memikirkan mengenai pasangannya.

Lalu saya mengatakan, “Mulai sekarang, Anda berdua seharusnya berpikir mengenai kita. Anda berdua adalah pasangan. Jika Anda hanya memikirkan diri sendiri maka Anda sudah melenceng dari hakikat suatu hubungan. Jika Anda hanya memikirkan pasangan Anda, maka Anda pun luput dari maknanya, karena jalinan hubungan bukanlah mengenai saya, bukan mengenai mereka, namun selalu mengenai kita.”

Jadi ketika kita menjalin hubungan, itu bukan masalah dia, atau masalah saya, tetapi… masalah kita. Tak peduli siapa yang memulainya, itu masalah kita.

Berpikir untuk kepentingan bersama (kita), memungkinkan masing-masing pasangan mengerti posisinya dan mampu mengambil keputusan untuk kebaikan bersama (kita).

Riswan E Tarigan

Sumber: Ajahn Brahm, 2013, Si Cacing dan Kotoran Kesayangannya 3, Awareness Publication. (2) p.:18-19


Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: