Posted by: retarigan | November 25, 2015

AT&T: SEMPAT BINGUNG SETELAH KELUAR DARI PASAR MONOPOLI


AT&T 01

AT&T 01

Salah satu industri yang terus berkembang akhir-akhir ini adalah industri telekomunikasi. Tentu sedikitnya kita mengetahui perkembangannya dari waktu ke waktu, mulai dari era surat-menyurat, telegram, telepon, sampai internet. Menarik bila kita mencoba menyimak sebentar kasus yang pernah dialami oleh perusahaan yang didirikan oleh Alexander Graham Bell terkait dengan perubahan lingkungan bisnis di sekitarnya.

Kisah ini dimulai pada tahun 1875, saat Alexander Graham Bell menerima sokongan dana atas keberhasilannya mengembangkan konsep awal telepon (orang-orang saat itu menyebutnya telegram berbicara). Dengan uang itu, Alexander mendirikan perusahaan telekomunikasi yang dinamakan American Bell. Sepuluh tahun kemudian, setelah bisnis berkembang, didirikanlah perusahaan induk yang dinamakan American Telephone & Telegraph (AT&T), yang bertujuan menyokong ekspansi perusahaan dalam membangun jaringan jarak jauh pertamanya.

AT&T 02

AT&T 02

Pertumbuhan bisnis perusahaan meningkat tajam pada akhir abad itu dan tentu saja hal ini dinikmati AT&T, mengingat tidak ada pesaing serius di industri saat itu. Berkat pertumbuhan industri telepon yang pesat ini, perusahaan dapat mengakumulasi modal yang sangat besar untuk melakukan ekspansi. Beberapa pengamat mengatakan perusahaan berubah menjadi perusahaan terbesar, terkaya, dan terkuat saat itu. Hal ini dikarenakan adaptasi teknologi yang mulai dilakukan di industri telekomunikasi, yang memungkinkan AT&T memaksimalkan potensinya yang besar.

Setelah menikmati beroperasi di pasar monopoli selama beberapa tahun, pada sekitar tahun 1960 AT&T mulai kehilangan posisi sebagai penguasa pasar monopoli. Sebesar dan sekuat apa pun perusahaan tidak mungkin kebal dengan perubahan politik, teknologi, regulasi, dan berbagai situasi makroekonomi lain. Karena besarnya kekuatan perusahaan di pasar, pemerintah memutuskan AT&T harus melakukan divestasi. Seiring dengan keputusan pemerintah, didirikanlah anak usaha yang dinamakan Baby Bells pada tahun 1982. Perusahaan kehilangan hak penguasaan teknologi Dial Tone, potensi kehilangan konsumen besar dari kalangan perusahaan karena persaingan bisnis, sekaligus harus menyokong Baby Bells. Pada saat itu pula perusahaan beralih dari beroperasi di pasar yang tadinya monopoli ke pasar yang penuh persaingan terbuka. Situasi ini memicu perusahaan melakukan divestasi, tapi sayangnya ada beberapa kebijakan dan keputusan yang justru menurunkan daya saing serta performa perusahaan.

AT&T 03

AT&T 03

Ketika perusahaan diminta tidak mendominasi atau memonopoli pasar telekomunikasi, tim manajemen AT&T memutuskan melakukan diversifikasi dengan merambah pasar teknologi informatika. Beberapa pengembangan dilakukan di internal perusahaan, terutama yang terkait dengan aspek fundamental yang diperlukan perusahaan untuk kegiatan operasional di industri. Tim manajemen menganggap transformasi ini mudah dilakukan selama mereka memiliki modal yang kuat. Pandangan ini terbukti salah beberapa waktu kemudian.

Pages: 1 2


Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: