Posted by: retarigan | November 27, 2015

TOMMY HILFIGER: CIRI KHAS YANG SEMPAT TERABAIKAN


Tommy Hilfiger 01

Tommy Hilfiger 01

Meskipun tidak ditampilkan secara mencolok dan belum tentu ditonjolkan, logo menjadi unsur penting dalam pengelolaan merek. Logo dapat menggambarkan segala sesuatu mengenai bisnis, mulai dari karakter, sifat, sampai dengan gaya. Tommy Hilfiger – produsen pakaian asal Amerika Serikat – pernah melakukan kekeliruan dengan berusaha mengubah logo dan gaya perusahaan.

Jauh hari sebelum mendirikan perusahaan, Thomas Jacob Hilfiger telah berkecimpung dalam dunia fesyen. Ia telah terbiasa berbisnis pakaian sejak duduk di bangku sekolah. Bersama temannya, Tommy – demikian panggilan akrabnya – berdagang berbagai jenis pakaian. Seiring perjalanan waktu ia juga bekerja sebagai perancang busana untuk beberapa merek lokal. Jalur menuju kesuksesan mulai muncul ketika Tommy diminta seorang pengusaha tekstil bernama Mohan Murjani untuk mendesain produk pakaian. Saat itu Murjani memiliki lisensi untuk mendesain dan memproduksi produk merek Gloria Vanderbilt. Murjani minta Tommy mendesain produk sedemikian rupa agar produk ini cocok untuk segmen anak muda.

Tommy Hilfiger 02

Tommy Hilfiger 02

Berbekal pengalaman inilah, Tommy mulai membuat produk dengan mereknya sendiri, yaitu Tommy Hilfiger, pada tahun 1985, yang langsung disertai dengan sejumlah upaya promosi. Tommy memakai iklan cetak dan elektronik untuk memperkenalkan mereknya itu kepada konsumen. Biasanya produsen menonjolkan berbagai produk dalam media iklan, tapi Tommy Hilfiger justru menonjolkan rangkaian kata-kata, logo, atau wajahnya sendiri, bukan contoh produk atau model.

Ketika diwawancarai media terkemuka Marketing and Media Decisions, Tommy mengaku ia tidak dapat menjamin produknya lebih baik daripada merek lain. Untuk itulah ia berusaha menjual ide, bukan produk fesyen semata. Anggaran promosinya US$1,4 juta kala itu – sebenarnya relatif tidak terlalu besar bila dibandingkan dengan merek produk-produk fesyen sejenis lain. Intensitas iklannya pun tidak menentu dan tidak pada media yang spesifik. Namun saat itu iklan-iklannya mampu menarik perhatian cukup banyak orang.

Tommy Hilfiger 03

Tommy Hilfiger 03

Pada tahun 1986 produk-produk Tommy Hilfiger telah tersedia di 60 department store dan 25 specialty shop di wilayah Amerika Serikat. Tingkat penjualan berhasil mencapai hingga US$32 juta dan pda tahun berikutnya tingkat penjualan berlipat ganda menjadi US$70 juta.

Gaya beriklan yang tidak lazim itu akhirnya menuai hasil. Pada survei tahun 1987 Tommy berhasil meyakinkan 68 persen warga New York mengenai kredibilitas dan kualitas produk bermerek Tommy Hilfiger. Responden mengatakan Tommy termasuk lima besar perancang busana terbaik saat itu. Tentu saja persepsi positif konsumen langsung memengaruhi citra merek dan tingkat penjualan produk-produk keluaran Tommy Hilfiger pada masa-masa mendatang.

Tommy Hilfiger 04

Tommy Hilfiger 04

Pada dekade tahun 1990-an, Tommy Hilfiger mengubah sasaran segmen dari ceruk pasar yang terdiri dari konsumen kalangan atas menjadi segmen konsumen kalangan muda yang melek mode. Namun, sangat disayangkan langkah ini tidak berjalan mulus dan mengakibatkan masalah serius pada tahun 2000. Harga saham perusahaan yang tadinya bertengger di nilai US$40 per lembar pada Mei 1999 jatuh menjadi us$22,62 per lembar ketika memasuki awal tahun 2000.

Pages: 1 2


Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: