Posted by: retarigan | February 19, 2016

Cessna: Cinderella yang Berhasil Masuk ke Kalangan Kaya


Cessna 01

Cessna 01

Seiring dengan perjalanan waktu banyak pengalaman dan cerita yang kita temui. Pengalaman yang baik akan menjadi sumber motivasi sebagai pendorong menjadi lebih baik. Pengalaman yang buruk menjadi sumber pembelajaran dan perbaikan dari situasi saat ini. Dalam kesempatan ini, Marketeers membagikan 100 Classic Marketing Stories sebagai sumbangan kecil pada dunia bisnis saat ini. Inilah kumpulan dari 100 kasus pemasaran menarik yang pernah terjadi sepanjang masa.

Cessna 02

Cessna 02

Bagaimana bila perusahaan hendak pindah ke pasar yang lebih mewah atau lebih canggih padahal sebelumnya belum pernah menangani atau berpengalaman di pasar tersebut? Hal ini lah yang dicoba dilakukan produsen pesawat Cessna pada sekitar tahun 1960-an. Pada masa itu, Cessna dikenal sebagai produsen pesawat kecil yang sangat berhasil bermesin dua dan dapat diandalkan. Pesawatnya telah banyak digunakan oleh angkatan udara Amerika Serikat selama sekian lama.

Cessna 03

Cessna 03

Meskipun berhasil dan memiliki image yang sangat baik, Cessna dikenal sebagai produsen pesawat kecil yang sering digunakan sebagai pesawat latihan atau penggunaan personal. Cessna tidak begitu dikenal di kalangan pasar bisnis sehingga tidak banyak orang yang memiliki persepsi yang cukup mengenai merek ini.

Cessna 04

Cessna 04

Cessna merasa bahwa perusahaan memiliki pengetahuan yang cukup mengenai aspek psikologis dan perilaku pembelian konsumen kalangan pebisnis. Di pasar ini seringkali pembelian barang didasarkan karena ego dan emosi dari pembeli. Namun Cessna juga merasa perlu mendekati kalangan influencer dari konsumen-konsumen jenis ini, yaitu para ahli yang memiliki kapabilitas untuk mengevaluasi kinerja pesawat. Orang ini bisa saja merupakan pilot perusahaan atau kepala departemen penerbangan atau mereka yang dipercaya untuk melakukan perawatan pesawat. Berbeda dengan konsumen pebisnis, orang-orang ini lebih memperhatikan aspek teknis seperti biaya operasional, jarang, dan ongkos jalannya. Berbeda lagi dengan penggunanya yang biasanya berasal dari jajaran direksi perusahaan. Mereka lebih memperhatikan faktor seperti kenyamanan, pembiayaan, dan alasan rasional pembelian. Meskipun seringkali CEO berperan sebagai decision maker, CFO seringkali pihak yang dapat membatalkan pembelian.

Pages: 1 2


Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: