Posted by: retarigan | June 18, 2016

Laja Membangun Bisnis dengan Modal Percaya Diri


PELUANG USAHA / INSPIRASI

Laja Membangun Bisnis dengan Modal Percaya Diri

Laja Lapian 01

Laja Lapian 01

Pengalaman orangtuanya yang gagal membangun bisnis tak menghalau langkah Laja Lapian terjun dalam dunia usaha. Dengan penuh percaya diri, Laja memulai usaha sendiri, meski sudah belasan tahun meniti karier di industri perbankan.

Kini, pria kelahiran Manado, 40 tahun silam ini memiliki tiga perusahaan dengan tiga bidang usaha. Yakni, usaha di bidang human resource (HR), logistik dan pabrik pelat baja yang baru dimilikinya Agustus lalu. Lewat proses akuisisi, Laja mengantongi saham 68% PT Alpindo Mitra Baja, produsen berbagai komponen otomotif dan plat baja di Sukabumi, Jawa Barat.

Laja mengawali langkahnya di dunia usaha pada 2004 silam, setelah mengambil tawaran paket pensiun dini dari Bank Internasional Indonesia (BII). Bersama seorang rekannya, dia mendirikan perusahaan yang menawarkan jasa outsorcing, yang membidik pasar industri perbankan. “Kami memulai dari menyediakan tenaga administrasi dan call center,” kata dia.

Sejak awal, dia menaruh keyakinan jalan yang dipilihnya ini akan berhasil. Padahal, lantaran ayahnya gagal dalam berbisnis, ibunya sempat melarang Laja menjalani usaha. “Saat itu, Ibu menginginkan saya tetap menjadi karyawan,” kenang pria yang tampil rapi ini.  

Laja bilang, dia mantap berbisnis karena merasa punya cukup kemampuan dan integritas. “Sembilan tahun di BII, saya berada di divisi HR dan banyak belajar di sana,” jelas dia. Selain itu, dia juga mendapat partner bisnis yang tepat untuk memulai usaha ini.

Benar saja, awal bisnisnya berjalan manis. Beberapa bank menjadi kliennya. Meski awalnya dia harus menyediakan banyak waktu untuk mengedukasi pasar terlebih dulu. “Saat itu, awal mula penerapan outsorcing, masih banyak perusahaan yang menganggap jasa ini mahal,” tutur Laja.  

Namun, kerjasama bersama partnernya dalam Prime Sinergi Resources hanya berlangsung tiga tahun. Laja bilang, ada ketidaksepahaman, hingga dia memilih keluar.

Tak berselang lama, dia pun kembali membangun bisnis yang sama. Seperti tak ada trauma menjalankan bisnis dengan orang lain, pada bisnisnya yang kedua ini Laja kembali menggandeng dua rekannya.  Mereka mendirikan Sinergi Network Solution yang juga bergerak dalam jasa outsorcing.

Namun, lagi-lagi, di kemudian hari, Laja tak menemui kesamaan visi setelah perusahaan berjalan selama lima tahun. Dia pun kembali mundur sebagai manajemen dengan tetap menanamkan sahamnya di perusahaan itu. “Bagi saya tak masalah tetap andil saham, meski visi kami berbeda,” kata Laja.

Lantas, dia pun mendirikan perusahaan sendiri, yakni Multinasional Sinergi Indonesia (MSI). Bisnisnya masih tetap dalam bidang penyediaan tenaga alih daya. Namun, tak hanya menyediakan tenaga kerja untuk industri perbankan, Laja juga menyiapkan karyawan untuk industri telekomunikasi dan  pertambangan. “Kami lebih banyak karyawan dengan skill (keahlian),” tutur Laja.

Saat ini, ada lebih dari 1.000 orang yang bergabung  MSI. Dia mengklaim, perusahaannya termasuk salah satu yang terbesar dalam skema pemberian gaji, berkisar Rp 4,5 juta-Rp 60 juta per bulan.

Pages: 1 2


Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: