Posted by: retarigan | June 21, 2016

Order Pertama Nena dari Kawinan Tetangga


PELUANG USAHA / INSPIRASI

Order Pertama Nena dari Kawinan Tetangga

Nena Firdaus 01

Nena Firdaus 01

Bagi Nena Firdaus, menjadi pengusaha tak pernah dipatok sebagai tujuan hidup. Ia pernah bercita-cita menjadi guru. Meski begitu, sejak duduk di bangku SD Nena sudah sangat jeli melihat peluang usaha. Ia berjualan makanan kecil sampai mainan untuk teman-teman sekolahnya.

Kini, jalan hidup mengantarkan Nena menjadi pengusaha katering pernikahan berbendera Diva Catering di Jakarta Barat. Perempuan asal Sumbawa Besar, Nusa Tenggara Barat, ini tak menyangka bisa membesarkan usaha katering seperti sekarang.

Pertama kali ia meninggalkan kampung halamannya ke Jakarta untuk kuliah di jurusan Akuntansi, Universitas Muhammadiyah Jakarta (UMJ). Setelah lulus kuliah, ia sempat kembali ke NTB dan bekerja serabutan. Tak pernah ada pekerjaan yang bertahan lama.

Lantas pada akhir 1990-an, ia kembali ke ibukota untuk mengadu nasib. Beberapa bulan pertama, Nena tak kunjung mendapatkan pekerjaan. Maka untuk mengisi waktu luang, ia pun menjual pastel mini. “Waktu itu iseng saja karena saya orangnya tak bisa berdiam diri, harus ada yang dikerjakan,” ucap ibu tiga anak ini.

Usaha pastel mini itu tak berlangsung lama karena pada tahun 2000 Nena diterima bekerja sebagai tenaga akuntan di perusahaan katering ternama. Nena bilang, di perusahaan itu ia bekerja selama enam tahun. Selain mengurus bagian akuntansi, ia juga didapuk mengurus berbagai hal di perusahaan, mulai dari pemesanan bahan, pemasaran, sampai mengelola sumber daya manusia.

Kemudian pada 2006, ia memutuskan keluar dari perusahaan itu. Alasan utamanya, setelah menikah dengan Syafril Febriansyah dan memiliki anak, dia ingin mengurus anak pertamanya Zahwa Putri Safina yang baru lahir. Selama beberapa bulan, ia menjalani keseharian sebagai ibu rumah tangga.

Hingga pada suatu hari, ada dua tetangganya yang mau menikah. Di situlah Nena melihat peluang bisnis untuk menyediakan katering. “Saya berpikir, saya sudah punya bekal dari perusahaan sebelumnya, jadi saya sudah tahu seluk-beluk usaha katering,” ujarnya.

Lantaran waktu terbatas, Nena mempersiapkan usaha ala kadarnya. Dengan bermodalkan uang Rp 10 juta, ia membeli peralatan masak. Sementara tempat memasak dilakukan di garasi rumahnya. Adapun koki yang membantunya adalah rekan kerjanya di perusahaan katering dulu. “Saya ajak dia kerja sama. Awalnya hanya sebagai koki freelance karena dulu dia masih kerja di perusahaan tempat saya kerja sebelumnya,” kenang Nena.

Kerja keras Nena terbayar karena klien pertamanya puas dengan menu yang ia sajikan. Nena pun semakin mantap menapaki bisnis katering. Apalagi, sang koki yang dulu hanya paruh waktu menyatakan ingin bekerja penuh waktu pada usaha katering Nena.

Nena mengatakan ia sebenarnya tidak begitu hobi masak. Namun, ia sangat hobi makan. Dari hobinya ini, Nena jadi tahu kualitas masakan yang enak. Bukan hanya pada rasa, tapi juga kualitas bahan baku yang digunakan. Inilah yang jadi salah satu bekalnya membesarkan usaha katering.

Dari hanya dua klien saat mengawali bisnis, sekarang dalam sebulan, Diva Catering bisa melayani sekitar 20 klien untuk acara pernikahan. Diva Catering menawarkan tiga paket untuk jamuan pernikahan. Jumlah tamu yang dilayani bisa berkisar dari 600 orang sampai 6.000 orang dalam tiap perhelatan dengan biaya mulai Rp 50 juta. Dus, omzet dari usaha kateringnya bisa mencapai Rp 1 miliar saban bulan.

Pages: 1 2


Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: